
Dengan segala upaya yang mampu Bilda lakukan, berusaha menguasai diri dari keadaan pelik yang terjadi.
Bilda mengajak semua orang untuk sama-sama duduk kembali untuk membicarakan permasalahan yang sempat tertunda sebelumnya.
Dengan keteguhan hati dan sungguh-sunggu Bilda menyampaikan kepada mereka yang masih ada di ruang keluarga tersebut.
"Bunda... "
Ucap Bilda kepada ibunya dengan pandangan sendu.
"Izinkan Bilda mengambil keputusan ini bunda, InshaAllah Ayah akan memahami keputusan Bilda ini" ucap Bilda kemudian tampak ragu, namun perasaan tersebut segera dia tepis.
"Sebelumnya Bilda mohon maaf kepada Mas Ardi dan Keluarga , Bilda pun juga mohon maaf kepada seluruh keluarga besar Bilda"
Ucap Bilda dengan bergetar menahan perih dan sakit di dada.
Masih dengan Isak tangis yang berusaha di tahannya, sekuat tenaga Bilda menyampaikan isi hatinya.
"Sepertinya Pernikahan ini Tidak dapat saya lanjutkan, InshaAllah ini yang terbaik untuk kita semua"
Bilda tak kuasa melanjutkan ucapannya, dengan tubuh yang gemetar dan tangis yang tak terbendung Bilda berusaha merelakan Harapannya saat itu.
"Tidak bisa !! Kenapa ?? Bilda ini tidak benar , Semua ini tidak seperti yang kamu pikirkan" Ucap Ardi dengan Tegas menolak ucapan Bilda.
"Mas... Bukankah Kita tidak bisa membuka lembaran baru Dalam sebuah buku, sebelum kita betul-betul menyelesaikan halaman sebelumnya ?"
Ucap Bilda dengan Pandangan menunduk, Sudah tidak ada air mata disana.
Mendengarkan ucapan Bilda , Ardi merasa ciut, benar apa yang saat ini di katakan oleh gadis tersebut.
Galuh yang mengetahui orang tua Bilda pingsan sejurus kemudian bergegas untuk meninggalkan kediaman mereka, merasa ini adalah ulahnya dia bergegas untuk pergi, tanpa satu orangpun menyadari kepergiannya.
Dia yang tidak mau ambil pusing dan tidak mau di salahkan atas kejadian ini memutuskan pergi tanpa berpamitan dengan siapapun.
***
Dirumah sakit
__ADS_1
"Berdasarkan Observasi kondisi bapak Alhamdulillah berangsur membaik, jadi Setelah menghabiskan Satu Vlabot ini bapak di perbolehkan untuk rawat jalan, Tunggu Samapi infusnya ini habis ya pak. ..." Ucap dokter yang berjaga di ruangan tersebut.
"Terima kasih banyak dok" Jawab Emil kemudian.
"Sama-sama pak, saya permisi dulu"..
Setelah mendapatkan izin dari dokter, Emil bergegas menurut segala administrasi pak Wawan dan termasuk menebus obat yang telah di diresepkan oleh dokter sebelumnya.
Setelah semua selesai Emil memapah Pak Wawan menuju Luar Ruangan Rumah sakit tersebut, dan memintanya untuk duduk di tempat duduk yang di sediakan.
Selama di perjalanan Pulang Pak Wawan banyak melamun entah apa yang sedang di pikirkan ya.
Emil yang memahami situasi orang tua di sampingnya sedang kalut, seketika berusaha menghiburnya dengan mengajak ngobrol, dan menanyakan beberapa pertanyaan, Agar Suasana di dalam mobil tersebut mencair.
***
Kedatangan pak Wawan kembali ke kediamannya disambut hangat oleh Bilda dan ibunya.
Bergegas Bilda menyambut dan Mempersilahkan Ayahnya untuk duduk. Melihat kondisi Ayahnya Bilda merasa sangat tidak tega.
Namun di sisi lain pak Wawan justru mempertanyakan keputusan Bilda, dan tanpa bisa mengelak Bilda menceritakan semuanya, menjelaskan jika saat ini dirinya memutuskan untuk membatalkan pernikahannya, dan ucapan itu di lontarkan masih di hadapan tamu-tamu sebelumnya.
"Bagaimana denganmu nak ?" ucap pak Wawan pelan bertanya pada putrinya.
Bahkan Bildapun tidak sanggup menjawab pertanyaan ayahnya, dan hanya bulir air mata yang mampu mewakilkan sejuta rasa di dada.
Ardi yang sedari tadi duduk merenung bersama kedua orang tuanya tidak mampu mengatakan apapun. Merdeka merasa sangat bersalah, terlebih orang tua Ardi, mereka sangat menyesali tindakan putranya, dan merasa sangat kecewa.
"Baiklah... Jika memang itu sudah menjadi keputusan kalian, sebaiknya kita saling mengikhlaskan" Ucap ka Wawan dengan sesak di dada.
"Pak..Bill... Mohon maafkan Ardi, Jika memang ini yang terbaik diantara kita, maka dengan ini Ardi Ikhlas" Tukas arsi kemudian.
Dengan terlontarnya kalimat yang baru saja Ardi ucapkan, menandakan gugurlah ikatan antara mereka berdua.
Seharusnya saat ini mereka sedang melangsungkan satu acara prosesi pernikahan "Adol Dawet" namun mengingat bahwa mereka telah membatalkan rencana pernikahan maka, saat ini tidak ada lagi acara tersebut.
Dengan berat hati pak Wawan mencoba melangkahkan kaki, beliau berencana membatalkan acara pernikahan yang sudah tertata rapi sebelumnya.
__ADS_1
Dipandanginya raut waja putri semata wayangnya yang sangat sedih, beliau tidak kuasa menahan Air matanya. Seolah menggambarkan betapa hati orang tua tersebut sangat terluka dengan nasib putrinya.
Sebelum pak Wawan melangkahkan kaki ke luar ruangan, Emil telah lebih dulu mencegah dan menghentikan langkah pak Wawan.
"Maaf pak, Emil ada beberapa hal yang ingin di sampaikan, jika berkenan bisakah bapak kembali duduk bersama kami?"
Mendengar ucapan Emil yang barusan membuat semua orang yang ada di ruangan tersebut mengerutkan dahinya.
Mempertanyakan apa yang ingin Emil perbuat dengan Situasi yang seperti ini, Bahkan Ardi yang sedari tadi terdiam pun juga merasa heran dengan sikap sepupunya.
Bilda yang selalu menunduk, tidak menyadari Emil mengajak Ayahnya duduk kembali, seketika kaget ketika mendapati Ayahnya duduk kembali di sampingnya.
Pak Lukman dan istrinya juga merasa bingung dengan tingkah putranya tersebut, bahkan mereka saling melemparkan pandangan.
"Sebelumnya mohon maaf, jika ini merupakan keputusan yang sangat mendadak". Dengan tenang Emil mencoba menjelaskan
"Hari ini dihadapan Kedua orang tua saya, saya berniat mengkhitbah Bilda Khairunisa. untuk menjadi istri saya, menjadi pendamping hidup saya, dan menyempurnakan separuh ibadah saya"
Dengan Tenang dan mantap Emil menyampaikan keinginannya untuk menikahi gadis yang sedari tadi menundukkan pandanganya tersebut.
Sontak peryataan yang di lontarkan Emil membuat semua orang merasa terkejut, Semua mata memandang kearahnya tanpa berkedip. Mencari kebenaran ucapan Emil melalui sorot matanya.
Bilda yang hanya menunduk mendengarkan kalimat yang di ucapkan Emil mencoba tetap tenang dan menguasai dirinya.
Bilda merasa cukup lelah hari ini, namun masih saja dia harus merasa takdir masih ingin menguji kesabarannya.
Pak Wawan dan Bu Ira mendaratkan pandangan nya keada putri semata wayangnya, entah apa yang saat ini berada di pikiran mereka. Entah perasaan Bahagia ataukah sedih yang harus di ekspresi kan.
"Bagaimana nak??..." Ucap pak Wawan kemudian membuyarkan lamunan Bilda .
Bilda yang merasa sangat kalut, dan tidak dapat berfikir secara jernih saat ini pun, dengan tegas mengatakan akan akan menerima apapun keputusan dari kedua orangtuanya
"Nak Emil ... Apakah nak Emil sudah betul-betul memikirkan semua ini ? Ucap pak Wawan penuh selidik
"InshaAllah Sudah Emil pikirkan pak". Ucap Emil dengan tegas tanpa rasa bimbang.
Bahkan Kedua orang tua Emil pun masih di buat shock dengan ucapan putranya yang akan melamar Bilda, namun kedua orang tua tersebut sangat mengenal bagaimana putranya.
__ADS_1
Emil tidak akan mengambil sebuah keputusan secara gegabah, sebelum mengambil keputusan pasti sudah di pikirkan ya secara matang sebelumnya.
Pak Wawan yang beberapa waktu lalu bersama dengan Emil, menghabiskan sedikit waktu untuk saling mengobrol , pun sedikit banyak mengetahui karakter dari Emil.