Suamiku Pasienku

Suamiku Pasienku
Syarat Pernikahan


__ADS_3

Pak Wawan yang beberapa waktu lalu bersama dengan Emil, menghabiskan sedikit waktu untuk saling mengobrol , pun sedikit banyak mengetahui karakter dari Emil.


***


Melihat sikap dan ketulusan hati Emil , Bu Ira merasa tersentuh, meskipun bukan karena cinta, setidaknya Emil telah menolong keluarganya dari rasa malu yang tidak akan pernah keluarga mereka lupakan terlebih bagi Bilda, jika memang pernikahannya batal.


"Baiklah jika ini memang sudah nak Emil pikirkan secara matang, bapak Akan menerima nak Emil menjadi calon menantu bapak, namun dengan beberapa syarat yang harus nak Emil penuhi" Ucap pak Wawan penuh harap.


Mendengar Pak Wawan menerima pinangan dari Emil untuk seorang wanita yang sebelumnya akan menjadi istrinya, seketika hati Ardi meradang, namun laki-laki itu tidak dapat berbuat apa-apa, selain hanya diam menerima kenyataan.


"Syarat pertama, Jangan pernah nak Emil menyakiti hati putri kami ataupun membuatnya menjatuhkan air mata karena kesedihan"


"Syarat kedua , Nafkahi dan Gaulilah putri kami dengan baik sesuai dengan syariat agama kita"


"Syarat ketiga, Jangan pernah mengucapkan kata perceraian, jika memang itu harus di ucapkan maka kembalikanlah putri kami dengan baik kepada kami, Maka kami akan selalu menerimanya. "


Ucapan pak Wawan yang seketika membuat badanya gemetar menahan tangis yang sudah tidak bisa lagi dia bendung. Dadanya bergemuruh menahan sesak di dada.


Mendengarkan semuanya Bilda hanya terdiam, tanpa terasa bulir bening kembali menetes dari sudut matanya. Bilda sudah sangat pasrah terhadap takdir yang akan dia terima.


Emil yang ketika lamarannya terhadap gadis yang bernama Bilda telah diterima, seketika melihat kearah kedua orang tuanya. mencoba meminta persetujuan dan restu dari mereka.


Mendapati Emil dengan ekspresi wajah yang tidak dapat di sembunyikan, Bu Azizah dan pak Lukman pun kompak memberikan senyuman bahagia mencoba meyakinkan putranya, jika apapun keputusan yang di ambil oleh putranya, maka merekapun akan selalu mendukung, selama itu dalam kebaikan.


Melihat senyum bahagia yang terukir di wajah kedua orang tuanya, membuat Emil merasa senang.


Bukan Maksut Emil menikung atau mengkhianati sepupunya Ardi, namun hal itu dia lakukan untuk menjaga Marwah wanita yang sebelumya sempat singgah di hatinya. Menjaga nya dari serasa malu dan Menjaga kehormatan Keluarganya.


Emil menyadari perubahan wajah Ardi yang menjadi sangat kesal, namun hal itu diacuhkannya, bukan karena egois. namun mengingat hubungan ikatan Ardi dan Bild a telah berakhir, jadi tidak ada salahnya jika Emil melangkah maju.

__ADS_1


Kurang dari setengah jam lagi waktu sholat magrib, seketika pak Wawan meminta Calon menantunya tersebut untuk tetap tinggal di sana untuk menjalankan sholat magrib berjamaah.


"Nak Emil, tetaplah tinggal di sini sampai acara Pengajian nanti selesai" Pinta pak Wawan kepada calon menantunya , yang seketika di iya kan oleh Emil dan keluarganya.


Setelah pembicaraan diantara mereka dirasa telah selesai, Bu Ira menyampaikan undur diri, untuk membawa putrinya kembali ke kamarnya.


Didalam ruang keluarga tersebut tersisa Ardi dan orang tuanya, juga Emil dan orang tuanya. Beberapa kerabat yang ada di hotel pun banyak yang menghubungi melalui sambungan telepon. Karena merasa khawatir.


Raut wajah Ardi yang besungut menandakan kemarahan yang luar biasa, merutuki nasib nya dan mencaci dirinya sendiri dalam hati.


Pak Bambang dan Bu Nurmala pun mencoba menenangkan putranya tersebut, meminta untuk ikhlas dan merelakan semua kejadian ini.


Tak luput Emil pun juga meminta maaf atas tindakan nya, meski Arsi mengacuhkannya,


Setelahnya dengan kekecewaan dan rasa sedih yang tak dapat di gambarkan pak Bambang dan Bu Nurmala berpamitan kepada pak Wawan dan kepada Emil beserta kedua orangtuanya untuk kembali ke hotel mereka sebelumnya.


Sebelum berpamitan dan beranjak pergi, sekali lagi kedua orang tua Ardi memohon maaf kepada Pak Wawan dan putrinya yang di wakilkan oleh Bu Ira. Atas kesalahan yang putranya lakukan.


***


Didalam ruang keluarga yang telah di persiapkan oleh keluarga Bilda untuk Emil dan kedua orang tuanya pun, seketika membuat mereka merebahkan tubuh mereka di atas kasur.Sementara itu Emil memilih tetap duduk di atas sofa kamar tersebut.


Merasa lelah dan capek dengan kejadian beberapa jam lalu membuat energi ketiganya terkuras habis.


Tak berselang lama Adzan magrib pun berkumandang Emil dan orang tuanya memutuskan untuk sholat berjamaah di masjid dekat rumah Bilda.


Setelah selesai sholat tak lupa Emil bermunajat kepada sang pemilik alam semesta.


Setelahnya di sudut masjid Bu Azizah telah menunggu putranya selesai sholat.

__ADS_1


Tak berselang lama Emil dan ayahnya keluar dari dalam masjid, mendapati ibunya duduk di salah satu sudut teras masjid Emil dan pak Lukman bergegas menemuinya.


Bu Azizah meminta keduanya untuk duduk di sebelahnya. kemudian Bu Azizah mencoba membuka obrolan diantara mereka.


"Emil... Mama tau keputusan yang kamu ambil sangat mendadak, tapi mama dan papa akan selalu mendukung keputusanmu, Terlebih gadis yang kamu pilih adalah Bilda. InshaAllah mama dan papa sangat setuju" tukas Bu Azizah dengan nada tenang kepada putranya.


Mendengar ucapan mama nya, Emil merasa lega, dan tersinggung senyum di bibirnya.


"Benar Emil, keputusan yang kamu ambil ini akan membawa dampak besar terhadap kehidupan kalian nantinya, jadi papa harap kamu menjadi suami dan imam yang baik" timpal pak Lukman


"InshaAllah pa.. ma... Emil akan berusaha sekuat tenaga, menjalankan Amanah orang tua Bilda dan mengingat selalu nasehat papa dan mama" Jawab Emil kemudian.


"Emil..." panggil Bu Azizah penuh kasih.


Mendapati panggilan mamanya, hal tersebut Emil serius memperhatikan ucapan orang tuanya.


"Mama tau kamu tidak mempersiapkan apa pun untuk Bilda. maka dari itu berikan ini kepada calon mantu mama besok, jadikan ini sebagai mahar nak" ucap Bu Azizah dengan sedikit berkaca-kaca .


Dengan mata yang berkaca-kaca Bu Azizah mengulurkan sebuah cincin yang dia lepaskan dari salah satu jemarinya, untuk dia berikan kepada putra semata wayangnya, cincin turun temurun peninggalan orangtuanya. Serta sebuah kalung emas berukuran besar yang di sana menggunakan liontin bertahta berlian yang sangat cantik dan terkesan mewah, yang dia lepaskan dari leher nya untuk dia berikan kepada putranya


"Cincin ini merupakan peninggalan kakek dan nenekmu Emil... , berikan lah ini pada calon mantu mama"


"Dan ini merupakan kalung yang papa mu berikan kepada mama sebagai hadiah kelahiran kamu saat itu" Ucap Bu Azizah dengan senyum simpul di bibirnya.


"Tapi maa!..." Emil mencoba menolak pemberian orang tuanya.


"Tidak ada tapi-tapian emil, papa yakin Bilda dan keluarganya pun tidak akan meminta ini darimu, namun sebagai seorang laki-laki sudah seharusnya kamu memuliakan calon istrimu dengan mahar yang kamu berikan" ucap pak Wawan mencoba meyakinkan putranya.


Setelah mendengarkan penuturan dari keduanya, dan juga beberapa wejangan yang disampaikan oleh ayah dan ibunya, Emil merasa lega, dan merasa lebih tenang.

__ADS_1


Meskipun dalam hati kecilnya masih merasa takut, apakah Bilda akan menerimanya dengan ikhlas ataukah hanya menerimanya karena keterpaksaan.


__ADS_2