
Kini Gerry sedang mengemudikan mobilnya untuk mengajak Raline jalan-jalan. Sepanjang perjalanan, Raline tampak melamun, entah apa yang ada di pikiran gadis cantik itu.
"Ger, Ellard itu emang kayak gitu ya orangnya?" Raline mulai membuka suaranya.
"Kayak gitu bagaimana?" Gerry mengerutkan keningnya, belum paham ke mana arah pertanyaan Raline.
"Cuek, dingin, datar, ya kayak gitu deh." imbuh Raline.
"Ya, sesuai dugaanmu." sahut Gerry singkat.
Raline menghela nafas panjang lalu mengalihkan pandangannya ke jalanan kota LA.. Raline sedang berpikir bagaimana caranya mencairkan gunung es yang dibangun Ellard agar ia bisa mengambil hati pria idamannya tersebut. Sebenarnya sejak kecil Raline sudah menyukai Ellard. Ia pikir itu hanya cinta monyet tapi saat pertemuan untuk pertama kali setelah sekian tahun lamanya itu, ia menyadari bahwa perasaannya masih sama bahkan jauh lebih besar. Tapi adakah ia kesempatan sedangkan kata Arriana Ellard sudah memiliki gadis lain yang ia cintai.
'Ah, bisa jadi itu hanya alasan saja supaya ia bisa membatalkan rencana perjodohan kami.'
"Ger, emang benar ya kalau Ellard menyukai seorang gadis?" tanya Raline penuh selidik.
Gerry tersenyum miring, menyadari kalau Raline sepertinya menaruh hati pada sahabat sekaligus atasannya tersebut.
"Itu benar. Bahkan Ellard sangat mencintainya."
deg ...
'Sangat mencintai? Apakah aku tidak punya kesempatan sama sekali?'
"Orangnya bagaimana? Cantik ? Pekerjaannya?" lanjut Raline menyelidiki.
"Cantik, bahkan sangat cantik. Aku pun sempat menyukainya. Sayangnya aku kalah cepat dari Ellard." ujarnya seraya tersenyum. "Dia bukan hanya cantik di wajah, tapi hatinya. Dia gadis yang istimewa. Kalau pekerjaan, dia hanya seorang karyawan biasa."
"Apa dia karyawan di perusahaan kalian juga?"
"Sorry, that's secret." ujar Gerry seraya mengatupkan jari telunjuk dan jempolnya di depan bibir lalu memutarnya seperti mengunci.
Raline mendengus, lalu matanya fokus ke tulisan super besar yang terlihat dari balik kaca mobilnya.
"HOLLYWOOD? Kita ke Hollywood?" tanya Raline.
"Hmmm ... destinasi utama kota LA adalah Hollywood, jadi kita kesini saja. Disini juga banyak spot-spot yang instagramable jadi kamu bisa sekalian foto-foto."
"Emang kamu mau bantu fotoin?"
"No." sahut Gerry cepat.
__ADS_1
"Yah, ayo please, jadi fotografer aku satu hari aja ya, mau ya!" Raline memelas dengan kedua tangan ditangkupkan di depan dada.
"Hari ini saja aku sudah jadi sopirmu, lalu tur guide mu, dan sekarang minta aku jadi fotografer? Are you crazy?" Gerry mendelik kesal. Dia itu seorang asisten pribadi tapi hari ini pekerjaannya jauh berbeda dari pekerjaan seharusnya. Wajah Raline sontak masam mendengar penolakan Gerry.
"Kamu nggak asik " cetus Raline.
"Terserah. Seharusnya kamu berterima kasih aku mau menemanimu jadi jangan cerewet." ketus Gerry.
Hollywood adalah distrik di Los Angeles yang sangat terkenal di dunia, sebagai tempat industri perfilman terbaik di dunia.
Salah satu tempat yang terkenal di Hollywood, sekaligus landmark, berada di Hollywood Hills. Tulisan besar “HOLLYWOOD” yang ada di sebuah bukit, yang sering kita liat di film-film, di situlah tempat landmark tersebut berada.
Hollywood juga menghadirkan spot-spot yang sangat instagramable, hingga tempat-tempat yang romantis, terutama saat malam tiba.
Adapun tempat wisata, serta aktivitas wisata yang recommended untuk para wisatawan adalah sebagai berikut:
Grauman’s Chinese Theatre,
Hollywood Walk Of Fame,
Kodak Theatre,
Gerry kini membawa Raline ke Starline tour. Mereka mengambil paket tur untuk mengunjungi tempat-tempat yang romantis dan instagramable. Gerry yang kasihan melihat Raline hanya bermuka masam, lantas mengulurkan tangannya membuat Raline bingung.
"Apa?" tanya Raline.
"Ponsel. Jadi minta difotoin atau nggak?"
Raline tersenyum lebar lalu merogoh ponsel dalam tasnya dan menyerahkannya pada Gerry. Gerry pun mengambil ponsel itu dan membantu mengambil foto Raline di beberapa spot yang terlihat menarik bagi mereka. Setelah itu, Gerry mengajak Raline menuju Beverly Hills, yaitu kawasan tempat tinggal artis-artis ternama. Raline tersenyum lebar lalu ia mengucapkan terima kasih setelah tur berakhir.
...***...
"Re, kenapa wajahmu masam begitu? Ah, aku tau, kau pasti kesal melihat foto-foto yang beredar di grup perusahaan, bukan?" ujar Clara dengan nada mengejek . "Hahaha ... ku pikir Zola gadis baik-baik, ternyata dia juga suka melakukan nananina. Kau tertipu mentah-mentah oleh wajah polosnya." cibir Clara.
"Tutup mulutmu, Cla. Aku tak butuh komentarmu." sergah Regan.
"Hahaha ... Aku tak menyangka kau kalah oleh seorang OB rendahan." ejek Clara membuat Regan mendengus kesal dengan setumpuk api amarah di dada.
...***...
Zola tampak sedang sibuk mengetik beberapa berkas di layar komputernya. Tak lama kemudian pintu ruangan CEO terbuka, membuat Zola mendongakkan wajahnya saat melihat tubuh menjulang tinggi yang berdiri di depannya.
__ADS_1
'Ah, Ellard. Mengapa aku selalu teringat Ellard bila melihat tuan muda Miguel, ya.' batin Zola.
"Hei, Zola! Kau melamun?" tegur tuan muda Miguel membuat Zola gelagapan.
"Ah, iya, tuan, ada yang bisa saya bantu?" tanya Zola.
"Sebentar lagi waktunya pulang. Kau boleh berkemas sekarang. Aku akan pulang duluan." ujar Tuan Muda Miguel.
Zola mengangguk samar saat atasannya itu berlalu dari hadapannya. Zola pun segera membereskan berkas-berkas yang berceceran lalu menyimpannya di dalam laci meja kerjanya. Setelah semua beres, Zola melangkahkan kaki dengan wajah sumringah menuju lantai dasar.
Saat tiba di basemen, Zola langsung tersenyum lebar saat melihat Ellard telah duduk di atas motornya. Ia pun segera menghampiri Ellard yang tengah melambaikan tangannya pada Zola membuat beberapa orang melihatnya penuh arti. Ada yang kagum, tapi ada juga yang iri.
Dari tempatnya duduk, Ellard menangkap tatapan penuh amarah dari seseorang. Ellard pun segera berdiri saat melihat orang tersebut tampak sedang berusaha mensejajarkan langkahnya dengan Zola. Karena terlalu fokus pada Zola ia tak melihat saat sebuah tangan kekar menarik Zola tepat di depan matanya dan mendekapnya erat. Zola terkejut dan menatap lekat wajah Ellard seolah meminta jawaban. Namun pandangan mata Ellard ke arah belakang, membuat Zola membalik tubuhnya. Sontak Zola membelalakkan matanya saat melihat mata elang yang seakan ingin menerkamnya itu.
"Kau ...!" desis orang itu dengan wajah mengeras dan gigi bergemeletuk.
Ellard pun segera menarik tubuh Zola ke belakang tubuhnya. Lalu Ellard melipat tangannya di depan dada dan membalas tatapan tajam itu dengan lebih tajam lagi disertai senyum smirk.
"Kenapa? Tidak terima?" desis Ellard dengan satu sudut bibir terangkat.
"Zo, sepertinya seleramu jadi makin rendah, hm? Kau bahkan lebih memilih dia yang hanya seorang ... OB." ujar Regan dengan nada mencemooh. "Bahkan dia tidak ada apa-apanya dibandingkan diriku." Regan becak sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Kenapa dengan OB? " tanya Zola sinis. Ia kini sudah berdiri di samping Ellard dengan tangan Ellard melingkari pinggangnya. "Yang penting dia jauh lebih baik darimu. "
"Are you serious ? Lebih baik dariku? Dalam segi apa? Apakah pelayanan di atas ranjang?" desisnya tajam membuat Ellard murka lalu mencengkeram kerah baju Regan hingga nafasnya tercekat.
"Jangan bicara sembarangan tentang Zola karena dia tidak serendah pikiranmu! Urus saja jal*ngmu itu dan tidak usah ikut campur lagi urusan Zola sebab mulai kini hingga seterusnya, urusan Zola adalah urusan ku. Jadi bila kau mengusik hidup Zola maka aku akan membalasnya." tekan Ellard lalu ia mendorong tubuh Regan hingga terjungkal ke belakang.
"**** !!! Kau .. " tunjuknya pada Ellard. "Apa yang sudah Zola berikan hingga kau sok jadi pahlawan seperti ini, huh?" murka Regan.
Ellard tergelak mendengar pertanyaan Regan.
"Kau mau tau?" ujarnya pelan. "Cinta ..." bisiknya saat wajahnya sudah di depan wajah Regan.
Kesal mendengar ucapan Ellard bahwa Zola telah memberikan cintanya pada Ellard, Regan mengepalkan tangannya hendak memukul Ellard tapi dengan secepat kilat, Ellard menangkap pukulan itu lalu mendorongnya ke belakang.
"Jangan hanya karena aku seorang OB jadi kau ingin meremehkan ku! Sebab apa yang kau lihat belum tentu seperti yang terlihat." tegas Ellard lalu ia menggandeng tangan Zola menjauhi Regan yang masih berdiri di tempatnya dengan tatapan penuh kebencian.
...***...
...Happy reading 🥰🥰🥰...
__ADS_1