
3 bulan telah berlalu semenjak peristiwa penangkapan Catherine, Clara, Keira, dan Regan. Mereka telah menjalani sidang dan mendapatkan vonis penjara sesuai berat kesalahan mereka.
Tapi hal itu tidak berlaku dengan Catherine. Akibat terobsesi menjadi wanita kaya raya, Catherine sampai menderita gangguan mental. Selama di dalam penjara, Catherine tidak henti-hentinya meracau agar mengembalikan cek senilai satu juta dollar miliknya. Bahkan Catherine sampai mengamuk dan menyerang setiap orang yang ada di dekatnya hingga akhirnya Catherine divonis mengidap gangguan mental. Jordan hanya bisa menghembuskan nafas lelah saat mengetahui fakta mengejutkan itu.
Sedangkan Clara dan Keira, mereka dimasukkan ke dalam satu sel tahanan. Bila dulu mereka ternyata berteman tanpa ada yang mengetahui, maka saat di sel tahanan, justru mereka menjadi musuh. Keira tak henti-henti menuding Clara-lah penyebab ia harus masuk ke dalam balik jeruji besi karat itu. Sebab Clara-lah yang selalu memanas-manasi dirinya agar membenci Zola. Ia mengatakan Zola perebutan kekasih orang. Ia juga memanas-manasinya dengan mengatakan yang tidak-tidak.
"Zola itu munafik, Kei. Dia hanya pura-pura baik di hadapan mu. Lihat saja, dia bilang padamu tidak menyukai Roland, tapi dia justru tampak sangat akrab seperti layaknya kekasih. Kau tau, bahkan kemarin aku melihat mereka jalan berdua di sebuah mall. Lalu mereka juga masuk ke ruang privat di sebuah cafe." dusta Clara memanas-manasi Keira agar Keira mau berpihak padanya hingga akhirnya tujuan Clara pun tercapai. Ia berhasil mempengaruhi pikiran Keira , membuatnya menjadi membenci Zola. Baginya, Zola itu tak pantas bahagia.
...***...
"Kau itu memang wanita jal*ng." tunjuk Keira pada Clara dengan sorot mata penuh kebencian. "Karena kau aku jadi terjebak di penjara ini. Karena kau aku harus menderita. Karena kau juga, orang-orang jadi membenciku. Zola membenciku, Roland juga. Kau memang bajing*n, brengs*k, bedeb*h. Karena kau, semua masa depanku jadi hancur. Dasar brengs*k." Keira mengumpat seraya berteriak dengan kedua tangan terkepal hendak menyerang Clara.
"Kau saja yang bodoh mau-maunya mendengarkan semua perkataanku dan melakukannya." cibir Clara dengan bibir meliuk sinis menatap Keira nyalang. "Apa kau lihat-lihat!" bentaknya pada seorang narapidana wanita yang baru masuk hari itu dan menatapnya jengah karena ka anggap terlalu berisik dan menyebalkan.
"Nyalimu besar juga sepertinya. Kau tau, tanganku rasanya sudah sejak tadi gatal ingin menghajar seseorang. Sepertinya kau orang yang tepat untuk aku jadikan sasaran olahraga jari-jemariku ini." desisnya sambil menyeringai.
Jantung Clara sudah berdetak sangat kencang. Tatapan nyalangnya seketika berubah menciut. Apalagi saat ia melihat seringaian yang terbit di bibir perempuan itu. Awalnya perempuan itu terlihat seperti lemah dan pendiam, tapi saat ia menyingsingkan lengan bajunya, tatto di sepanjang lengannya terlihat jelas untuk menyamarkan bekas-bekas luka. Lalu dalam sekali sentak Clara terhempas ke tanah hingga ia mendesis kesakitan.
"Mana keberanianmu tadi? Cih, ternyata hanya segini nyalimu tikus kecil." cibirnya seraya terkekeh geli. Lalu ia berjalan mendekati Clara dan menjambak rambutnya ke belakang dengan kuat sehingga Clara memekik kesakitan yang justru membuat perempuan itu tergelak melihat wajah memerah Clara. "Mulai saat ini kau akan menjadi bawahanku. Tugasmu melayaniku termasuk memijat tubuhku setiap hari. Paham!" desisnya tajam tapi Clara masih bungkam. Lalu perempuan itu makin menarik kuat rambut panjang Clara hingga air matanya keluar dari sudut mata. "Jawab aku, b i t c h!" sentaknya yang membuat Clara mengangguk pasrah. "Apa kau bisu? Mana suaramu yang lantang tadi!" sentaknya lagi membuat Clara terpaksa menjawabnya walaupun terbata.
"I-iya ... ba-baiklah."
"Good girl." ujarnya terkekeh seraya menepuk pelan pipi Clara.
Sementara itu, di sel tahanan khusus para lelaki, tampak Regan yang hanya melamun. Di otaknya hanya ada rasa penyesalan terhadap Zola. Bukan penyesalan karena sudah berusaha melecehkannya, tapi penyesalan membuat Zola lepas dari tangannya. Ia benar-benar menyesal telah mengikuti hawa napsu sehingga terperangkap dalam hubungan toxic dengan Clara. Hubungan yang hanya membawanya ke dalam penderitaan. Hubungan yang membuatnya terpaksa menggelapkan dana demi menyenangkan Clara sang penghangat ranjangnya. Hubungan yang membuatnya kehilangan Zola, satu-satunya gadis yang pernah ia cintai.
"Hei bro, mikirin apa?" tanya salah seorang napi yang kini satu sel dengannya.
Regan lantas menoleh ke sumber suara dan tersenyum miris.
"Memikirkan seseorang yang sudah tak mungkin tergapai lagi." sahutnya sekenanya.
__ADS_1
Orang itu mengerutkan keningnya tanda tak mengerti.
"Aku membuat kesalahan sehingga orang yang ku cinta kecewa dan membenci diriku. Dan kini ia justru telah menemukan seseorang yang benar-benar mencintainya." ujar Regan seraya tersenyum miris.
"Aku turut prihatin mendengarnya. Sudah, jangan pikirkan lagi. Bila kau benar-benar mencintainya, bukankah seharusnya kau turut berbahagia dan mendoakan kebahagiaannya." tutur pria itu memberi saran. Regan mengangguk. Mau menyesal pun percuma, semua telah terlambat. Ia kini hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk mantan kekasih terindahnya itu.
...***...
Sedangkan di sebuah rumah yang cukup besar, ada seorang pria yang sudah mulai menua menyandarkan punggungnya di sandaran sofa. Matanya menerawang, tak pernah terpikirkan olehnya akan menghabiskan sisa-sisa usianya dalam kesendirian. Andai ia bisa memperlakukan Zola dengan baik dari awal, mungkin semua masalah takkan jadi serumit ini. Bukan hanya itu, mungkin saja dia takkan kesepian karena ada Zola yang akan menemaninya. Tapi kini, jangankan menemani, menemui pun Zola enggan. Zola sudah terlanjur kecewa dengan sikap Jordan di masa lalu. Sayangnya, penyesalan itu datangnya terlambat. Kini ia hanya bisa meratap sembari berdoa semoga Zola kelak memaafkannya.
...***...
"Ger, kau mau mengajakku kemana?" tanya Raline saat mobil yang dibawa Gerry membelah jalanan yang belum pernah dilewatinya.
"Ke suatu tempat." ujarnya santai seraya tersenyum tipis.
"Kau tidak membawaku untuk kau jual kan?" tanya Raline dengan mata memicing.
"Turunkan aku segera, Ger! Aku tidak mau. Cepat, berhenti!" teriak Raline panik, sedangkan Gerry tampak acuh tak acuh.
"Gerry, turunkan aku!" teriaknya lagi.
Namun, tiba-tiba mobil berhenti mendadak hingga tubuh Raline terhuyung ke depan, hampir saja menabrak dasbor mobil, tapi tangan kekar Gerry sudah lebih dahulu menahannya. Jantung Raline tiba-tiba berdebar kencang. Ia menatap Gerry was-was, sedangkan Gerry tersenyum geli melihat ekspresi ketakutan di wajah Raline.
"Kau jangan bertindak macam-macam, kalau tidak ingin aku melakukan sesuatu yang diluar akal pikiranmu." desis Gerry tepat di sebelah telinga Raline membuatnya meremang. "Mengerti!" tegas Gerry .
"A-aku me-mengerti." cicit Raline.
Lalu Gerry membukakan pintu mobil untuk Raline dan menggandengnya keluar dari mobilnya. Raline mengerutkan keningnya saat melihat apartemen mewah tempat ia menginjakkan kaki. Dalam hati, ia was-was, apakah Gerry membuat janji temu dengan orang yang membelinya di sini? 'Astaga, Zola, tolong aku! Mom, Dad, I'm scared.'
Hanya dalam hitungan detik, Gerry dan Rakine telah tiba di lantai yang dituju, lalu Gerry membuka pintu apartemen miliknya menggunakan sensor tubuhnya hingga pintu pun terbuka otomatis.
__ADS_1
Suasana di dalam apartemen itu sungguh gelap, membuat Raline ketakutan dan mengeratkan cengkramannya pada lengan berotot Gerry. Hingga tibalah mereka di tengah ruangan, lalu Gerry menekan saklar lampu yang ada di dinding.
Mata Raline membelalak seketika saat melihat apa yang ada di hadapannya. Sebuah meja dengan taplak putih. Di atasnya terhidang mulai dari kue, steak, buah, hingga wine. Tak lupa tiga buah lilin yang belum dinyalakan. Lalu Gerry mendekati meja itu dan menyalakan lilinnya. Setelah menyala sempurna, Gerry mematikan lampu.
Gerry mendekati Raline yang masih diam membeku. Ia dalam keadaan bingung saat ini. Gerry pun menuntunnya untuk duduk di salah satu kursi.
"Apa maksudnya ini, Ger?" tanya Raline yang masih bingung.
"Makan malam romantis, kau tidak suka?" tanya Gerry dengan alis bertaut.
Wajah bengong Raline tiba-tiba bersemu merah. Apalagi saat Gerry dengan begitu cekatan membantunya mulai dari memotong daging steak, menyuapkan irisan kue, menuangkan wine, membuat dada Raline berdebar tak menentu.
Lalu Gerry berdiri dan duduk bersimpuh dengan satu kaki di samping Raline. Ia mengeluarkan sebuah kotak berwarna merah hati dan membukanya. Mata Raline membelalak tak percaya saat melihat sebuah cincin permata yang cantik, sederhana, namun elegan bertahta di dalamnya.
"Raline, mungkin ini terlalu mendadak bagimu, tapi aku sudah tidak bisa menahan diri lagi. Sebenarnya sejak awal aku melihatmu aku sudah memiliki rasa padamu karena itu aku selalu mencoba dekat dengan mu. Raline, mungkin aku bukanlah pria yang romantis, tapi aku sungguh-sungguh mencintaimu. Maukah kau menikah denganku, hidup bersamaku, melahirkan anak-anakku, menua bersamaku, hingga waktu yang memisahkan kita?" ucap Gerry tegas
Raline tampak berkaca-kaca lalu ia tersenyum lebar karena ia pun memiliki rasa yang sama dengan Gerry. Awalnya ia memang menyukai Ellard, tapi ia sadar, Ellard tak mungkin lagi tergapai oleh dirinya. Sebab ia tau, Ellard begitu mencintai Zola. Hingga seiring bergantinya waktu, tanpa sadar , ia mulai menaruh rasa pada Gerry yang kerap menemaninya.
"Kapan kau akan menikahi ku?" bukannya menjawab pernyataan cinta Gerry, Raline justru balik bertanya.
Gerry membulatkan matanya saat mendengar pertanyaan Raline.
"Bila kau mau, besok pun aku bersedia." ucap Gerry pasti membuat Raline tersenyum manis. Lalu ia menyodorkan tangannya agar Gerry segera memasangkan cincin permata biru itu di jari manisnya.
Gerry pun segera memasangkan cincin itu lalu mengecupnya membuat Raline tersipu malu .
Lalu Gerry berdiri dan menarik tangan Raline sehingga mereka sama-sama berdiri. Gerry menyusupkan tangan kirinya di belakang tengkuk Raline dan tangan sebelahnya ia lingkarkan ke pinggang sehingga tubuh mereka merapat. Lalu perlahan, Gerry menyatukan bibir mereka berdua. Awalnya bibir mereka hanya saling menempel saja hingga kemudian, Raline tampak memejamkan matanya. Mengikuti nalurinya, Gerry pun memejamkan matanya dan mulai menggerakkan bibirnya walaupun masih kaku, tapi bukankah hal seperti itu dapat menggunakan insting. Lalu Gerry pun mulai melu mat bibir atas dan bawah Raline secara bergantian. Kini tangan Raline sudah berpindah melingkari leher Gerry. Belum puas dengan aksi pagutannya, Gerry mencoba menyusupkan lidahnya ke dalam rongga mulut Raline. Mengabsen setiap sudut dalam rongga mulut itu hingga menghasilkan suara decapan yang menggema di dalam ruangan apartemen itu. Pertautan bibir mereka baru terlepas saat pasokan oksigen di paru-paru mereka mulai menipis. Lalu mereka terkekeh berdua seraya berpelukan. Pengalaman pertama yang mendebarkan, pikir mereka sebab mereka baru kali ini melakukan hal seperti itu .
...***...
...Happy reading 🥰🥰🥰...
__ADS_1