Suamiku Si OB Ganteng

Suamiku Si OB Ganteng
Ch.56 Sebuah kalimat


__ADS_3

Semakin malam, acara justru makin meriah. Acara yang disiarkan secara live di beberapa stasiun televisi swasta itu ternyata mampu menyedot antusiasme masyarakat . Terbukti dari meningkatnya rating televisi yang turut menyiarkan, juga banyaknya penonton yang mengikuti live quis dan lelang serta meningkatnya penjualan berbagai macam produk selama berlangsungnya acara.


"Hubby, aku mau ke toilet sebentar ya." bisik Zola meminta izin.


"Baiklah. Tunggu sebentar."


"Kamu mau apa?" tanya Zola pelan saat melihat Ellard hendak berdiri.


"Kamu mau ke toilet, kan?" tanya Ellard dan Zola mengangguk. "Ayo!" ajaknya seraya mengulurkan tangan.


"Aku bisa sendiri, Ell." tolak Zola halus. Bukan mengapa, acara masih berlangsung dan tamu-tamu masih memadati convention center, tentu ia merasa tak enak hati hanya untuk ke toilet saja masa' harus ditemani, seperti wanita manja saja.


"Aku cuma tidak mau terjadi apa-apa pada kamu, sweety."


"Bagaimana kalau aku yang menemani kamu?" tawar Raline yang entah sejak kapan telah berdiri di samping Zola. Di sebelahnya, ada Gerry yang menemani.


"Hmm ... boleh juga, boleh ya, hubby!" bujuk Zola seraya tersenyum dan mengedip-ngedipkan matanya.


Ellard menghela nafas pelan, "Baiklah. Hati-hati! Kalau ada apa-apa, segera hubungi aku." pesan Ellard membuat Zola dan Raline terkekeh.


"Hanya ke toilet saja kamu segitu khawatirnya, Ell " ucap Raline tak percaya betapa overprotektifnya Ellard pada Zola.


"Aku hanya tidak ingin terjadi sesuatu yang tidak diinginkan pada istriku, apa itu masalah?" mata Ellard memicing. Ia tidak suka caranya mencintai Zola dicibir orang lain. Sebagai seorang suami ia hanya ingin melindungi istrinya, apalagi ia tau, banyak orang yang suka menyakiti istrinya bahkan termasuk orang-orang terdekatnya.


"Maksudku ..."


"Sudah, sana temani Zola ke toilet dan segera kembali." sergah Gerry memotong ucapan Raline yang ia yakini bila diteruskan dapat memancing emosi Ellard.


"Ah, baiklah! Ayo, Zo!" ajaknya pada Zola. Lalu mereka pun segera menuju ke toilet.

__ADS_1


...***...


"Apa yang terjadi pada Clara?" tanya Jordan pada Keira yang tengah menemani Clara di sebuah ruangan yang memang diperuntukan untuk pengunjung beristirahat saat kelelahan ataupun sakit.


"Aku tidak tau, uncle. Tiba-tiba saja Clara pingsan" ujar Keira jujur. Dia pun bingung saat melihat Clara yang tiba-tiba luruh di lantai dalam keadaan tidak sadarkan diri.


"Mungkin ini efek kelelahan, dad. Daddy kan tau, kami telah bekerja keras untuk menyukseskan event tahunan Shoppa Lova. Apalagi Clara baru saja keluar dari rumah sakit kemarin." ujar Regan menjelaskan. "Keira, kau bisa tolong temani Clara sebentar? Aku ingin keluar sebentar." ujar Regan dan Keira pun mengangguk.


Regan pun keluar meninggalkan Clara bersama Keira, sedangkan Jordan kembali ke mejanya. Sebenarnya ia bukanlah ingin menyaksikan kelangsungan acara, tetapi sebaliknya, ia sibuk memperhatikan Zola.


Dari tempat duduknya, ia dapat melihat betapa Ellard memperlakukan putrinya sangat baik. Berbanding terbalik dengan dirinya yang bukan hanya sering menyakiti Zola, tetapi juga mengabaikan dan tak pernah memberikan perhatian sekecil apapun. Ia justru selalu memperhatikan dan menyayangi Clara. Kebodohannya yang telah mengabaikan putri kandungnya sendiri, ternyata mampu membuatnya terpuruk dalam penyesalan yang tiada berarti.


...***...


Regan sedang hendak keluar dari toilet, mendadak membatalkan niatnya saat ia melihat Zola masuk ke toilet perempuan. Tak lama kemudian, Raline yang tadinya turut masuk , bergegas keluar membuat Regan menyeringai. Lalu ia pun masuk ke dalam sana dan mengunci pintu toilet dari luar.


Zola yang sedang menyeka mulutnya yang basah lantas menoleh saat mendengar suara pintu yang dikunci dari dalam. Zola membelalakkan matanya saat melihat siapa yang mengunci pintu tersebut. Zola mengerutkan keningnya dengan jantung berdegup kencang. Ia khawatir peristiwa lalu terulang kembali.


"Mau apa kau ke sini? Keluar! Apa kau tidak bisa membaca? Ini toilet khusus perempuan." ketus Zola mencoba tidak terintimidasi oleh tatapan sinis Regan.


"Ku pikir kau berbeda. Ternyata kau sama saja." desis Regan dengan tatapan mencemooh.


Zola mengerutkan keningnya, bingung. "Apa maksudmu?"


"Masih pura-pura bingung? Kau itu tak lebih dari perempuan matrealistis, Zo. Kau mau menikah dengannya pasti karena dia kaya, bukan! Point plusnya dia juga tampan, jadi kau lebih memilih dia daripada kembali padaku."


Zola terkekeh sampai ekor matanya basah. Sungguh pikiran Regan sangatlah naif. Zola tak menyangka mantan calon suaminya kini sedang playing victim.


"Mengapa kau tertawa? Kau merasa geli karena kebusukanmu terungkap?" seru Regan sinis.

__ADS_1


"Oh ayolah, Regan, jangan playing victim di hadapanku seolah-olah kaulah yang paling tersakiti di sini. Seharusnya kau berterima kasih pada Ellard sebab berkat dirinya lah aku dapat bangkit dari keterpurukanku. Kau mengatakan aku perempuan matrealistis? I'm not Clara. Bahkan aku menikah dengan Ellard saat ia masih menjadi OB. Kau pikir aku sudah mengetahui identitasnya sejak awal? Kau salah, Re. Terserah kau mau percaya atau tidak, itu bukan urusanku." desis Zola sambil memegangi perutnya yang tiba-tiba kembali bergolak.


Regan yang sedang dikuasai api emosi dan kecemburuan, meringsek ke hadapan Zola. Ia berusaha ingin memeluk Zola. Apalagi melihat penampilan Zola yang sangat seksi ternyata mampu membangkitkan sesuatu di bawah sana.


Zola mencoba memberontak sambil menahan gemuruh di perutnya. Namun tenaganya tak cukup untuk melawan apalagi ia tadi baru saja muntah-muntah. Posisi Regan yang terlalu dekat, membuatnya dapat menghirup aroma tubuhnya. Seketika rasa mual itu makin bergejolak hingga Zola tak mampu lagi menahan rasa mualnya dan memuntahkannya di pakaian Regan. Dan di saat bersamaan, Ellard masuk setelah pintu masuk yang terkunci tadi didobrak paksa hingga knopnya terlepas. Disusul Gerry dan Raline di belakangnya.


"Apa yang kau lakukan pada Zola, brengs*k!" seru Ellard dengan nada tinggi. Lalu ia melepaskan sebuah pukulan yang cukup kuat di rahang Regan hingga sudut bibirnya berdarah.


"Zo, apa yang terjadi denganmu?" seru Ellard panik saat melihat wajah pucat sang istri. Setelah memukul Regan, Ellard langsung menghampiri Zola yang sedang berdiri sambil berpegangan di tepi wastafel. Ellard memeluk tubuh lemah Zola dan menggendongnya ala bridal style. Zola hanya terdiam sambil menyandarkan kepalanya di dada Ellard.


"Urus bajing*n itu. Aku tidak mau ia lepas kali ini." desis Ellard dengan nada dingin dan mata memicing tajam.


Gerry yang paham maksudnya, segera meringkus Regan dan menyerahkannya pada bodyguardnya yang sudah berjaga di luar. Mereka takkan melepaskan Regan kali ini. Semua bukti telah terkumpul dan inilah saatnya hari pembalasan itu tiba.


Ellard yang khawatir pada kondisi Zola pun segera meminta sopirnya mengantarkan ke rumah sakit. Tak peduli acara perusahaannya yang belum selesai, yang terpenting saat ini adalah keadaan Zola.


Beberapa saat sebelumnya,


Saat baru saja Zola selesai buang air kecil, tiba-tiba saja perut Zola bergolak hingga muntah-muntah di wastafel membuat Raline yang ada di sana panik. Ia ingin menghubungi Ellard tapi ia tidak membawa ponsel, begitu juga Zola. Takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, tanpa kata Raline segera berlarian menemui Ellard dan menceritakan semuanya. Ellard yang panik pun lekas berlarian menuju toilet. Namun anehnya tiba-tiba kamar mandi itu terkunci dari dalam. Takut terjadi sesuatu pada istrinya, Ellard pun berusaha sekuat tenaga mendobrak pintuitu hingga akhirnya terbuka. Ellard menggertakan giginya saat melihat ada Regan di sana. Ia percaya pada Zola, tapi tidak dengan Regan. Melihat muntahan di pakaian Regan terutama bagian depan, sudah dapat dipastikan kalau Regan baru saja berusaha memaksakan dirinya lagi pada Zola. Tanpa banyak bicara, Ellard pun menumpahkan emosinya dengan memukul Regan.


Setibanya di rumah sakit, Ellard kembali menggendong Zola dan meminta perawat segera menyediakan kamar untuknya. Saat masa pemeriksaan, Ellard tak henti-hentinya mondar-mandir seperti seperti setrika. Pikirannya kalut. Setelah cukup lama menunggu, akhirnya dokter pun keluar dari ruangan Zola dengan senyum mengembang di bibirnya membuat Ellard bertanya-tanya dalam hati.


Dokter pun menjelaskan keadaan Zola dan Ellard hanya mendengarkan dengan seksama. Tapi sebuah kalimat dari dokter itu yang ternyata mampu membuat hatinya begitu semarak seakan ada ribuan kembang api yang menyala di langit sana. Jantungnya bergemuruh hebat sehingga tanpa sadar setetes air mata keluar dari pelupuk matanya.


"Selamat tuan, istri Anda hamil."


Ellard berseru bahagia saat mengetahui ternyata Zola kini tengah mengandung anaknya. Buah hatinya. Buah cintanya. Sebuah kalimat sakti mandraguna itu ternyata mampu menyapu segala gundah gulana yang tadi sempat merayapi benaknya dan menyisakan rasa bahagia tak terkira.


...***...

__ADS_1


...Happy reading 🥰🙏🥰...


__ADS_2