
Saat Zola telah kembali tertidur, Ellard justru kembali ke ruangan dokter. Sebagai calon daddy yang baik, Ellard ingin banyak bertanya seputar kehamilan mulai dari makanan yang baik untuk dikonsumsi ibu hamil, bagaimana dengan aktivitas hariannya, seputar mood dan morning sickness yang sepertinya sudah mulai Zola rasakan dan bagaimana cara mengatasinya, jenis dan merk susu yang bagus untuk ibu hamil, bahkan Ellard juga menanyakan perihal kegiatan hubungan intim boleh atau tidak dilakukan, bagaimana posisi yang baik dan aman bagi bayi dalam kandungan Zola, dan frekuensi yang dibolehkan serta aman. Semua hal yang berhubungan dengan kehamilan Zola ia tanyakan secara mendetail demi keamanan dan kesehatan calon buah hatinya.
Setelah selesai berkonsultasi, Ellard kembali ke kamar rawat Zola. Sesuai instruksi dokter, setelah Zola bangun, ia sudah bisa pulang. Karena itu, ia pun mulai membenahi segala barang-barang dan menyimpannya ke dalam tas.
"Kamu lagi apa, Ell?" tanya Arriana pada Ellard saat ia sedang memasukkan pakaian kotor Zola ke dalam sebuah kantong.
"Ell sedang beres-beres, mom. Setelah Zola bangun, kita sudah bisa pulang." ujar Ellard memberi tahu.
Arriana mengangguk mengerti. Lalu ia pun membantu Ellard agar pekerjaannya cepat selesai.
Tak lama kemudian, Zola pun bangun. Ellard segera menyampaikan bahwa Zola sudah diperbolehkan pulang. Saat berjalan melintasi koridor, Arriana langsung mencetuskan sebaiknya mereka pulang ke mansion keluarga mereka agar ia bisa lebih leluasa membantu Zola di masa kehamilannya.
Ellard pun setuju. Dengan begitu, ia bisa meninggalkan Zola dengan perasaan aman dan nyaman saat ia pergi bekerja. Untuk sementara memang Ellard meminta Zola beristirahat terlebih dahulu sampai ia benar-benar pulih.
Namun, baru saja Zola hendak melangkahkan kaki masuk ke dalam mobil, tiba-tiba seseorang datang dan mendorong Zola dengan keras.
"Aaaargh ..."
"Zola ... " teriak Ellard dan Arriana terkejut saat melihat Zola sudah terduduk di lantai.
Dengan sigap Ellard mencoba membantu Zola berdiri tanpa menoleh ke arah orang yang telah mendorong Zola. Sebab yang ada dalam pikirannya saat ini hanyalah keselamatan Zola dan calon buah hatinya.
"Ell, awas ...!" teriak Zola saat melihat orang itu yang ternyata Clara hendak menusuknya dengan pisau. Ellard yang reflek menoleh lantas menepis pisau yang hendak di arahkan ke Zola, namun pisau itu malah menggores lengan Ellard.
Melihat siapa yang hendak mencelakai Zola, membuat darah Ellard mendidih. Clara yang merasa ketakutan hendak melarikan diri, tetapi belum sempat ia berlari menjauh, beberapa orang sudah menangkap dan menahan dirinya. Ellard pun terlebih dahulu mengangkat Zola ke dalam rumah sakit dan membaringkannya di brankar yang baru saja di dorong beberapa perawat.
"Mom, tolong temani Zola sebentar! Aku harus membereskan tikus kecil itu terlebih dahulu." ucapnya pada Arriana.
"Kau tenang saja, Ell. Mom akan menjaga Zola dengan baik." ucap Arriana.
"Tapi lukamu, Ell ..." Zola panik saat melihat goresan pisau di lengan Ellard yang terlihat lebar dan dalam.
"Aku tidak apa-apa, sweety. Justru aku mengkhawatirkan keadaanmu dan calon anak kita. Kau periksa dulu, ya! Aku tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk padamu dan anak kita atau wanita jal*ng itu akan menerima balasannya." ucap Ellard lembut lalu mengecup pelipisnya. Setelah itu, Ellard langsung keluar melihat Clara yang masih ditahan oleh beberapa orang berseragam serba hitam.
__ADS_1
Tubuh Clara tiba-tiba bergetar saat melihat sorot mata tajam Ellard. Ia berusaha memberontak tapi tidak bisa. Pihak keamanan di sana pun hanya bisa pasrah saat melihatnya.
Dengan sebelah tangannya, Ellard mencekik leher Clara hingga wajahnya memucat seperti tidak dialiri darah. Tak ingin Clara mati secepat itu, Ellard melepaskan tangannya dari leher Clara hingga ia terbatuk-batuk.
"Kau berniat membunuh istriku, hah! Ternyata kau cukup nekat juga! Tapi takkan semudah itu." desisnya tajam.
"Lepas! Lepaskan aku brengs*k! Kalian berdua memang pasangan brengs*k. Cepat lepaskan kami." teriak Clara dengan wajah menggeram marah.
"Apa katamu tadi? Melepaskan kalian? Setelah apa yang kalian lakukan pada Zola." desis Ellard. "Tenang saja kalian pasti akan dilepaskan." ujar Ellard dengan tersenyum penuh arti membuat mata Clara berbinar.
"Kalau begitu cepat lepaskan aku sekarang. Mommy dan Regan juga." ujarnya.
Ellard kembali tersenyum dengan sorot mata dingin.
"Ya, kalian akan dilepaskan tapi di dalam tahanan. Berikut rekanmu juga agar kau tidak merasa kesepian di balik jeruji besi nanti." lanjut Ellard dengan menyeringai membuat wajah Clara kembali memucat .
Lalu Ellard pun segera memerintahkan beberapa orang itu membawa Clara ke kantor polisi. Setelah urusannya selesai, Ellard pun segera masuk kembali ke rumah sakit dan mencari keberadaan Zola.
"Mom, bagaimana keadaannya?" tanya Ellard tak kalah panik.
Ellard menghela nafas lega. Andai terjadi sesuatu yang buruk pada Zola dan calon buah hatinya, dapat ia pastikan, hari ini adalah hari terakhir Clara menghirup udara di bumi yang sama.
Ellard menatap Zola yang tengah tertidur pulas dengan jarum infus yang menancap di pergelangan tangannya. Melihat kejadian ini, membuat Ellard harus lebih berhati-hati dengan sekitar. Bukan tidak mungkin, akan datang orang lain yang berniat sama seperti Clara, yaitu mencelakakan istri dan calon anaknya.
"Ell, minta dokter mengobati lukamu terlebih dahulu. Mom takut bila dibiarkan akan terjadi infeksi." ujar Arriana mengingatkan.
Ellard pun mengangguk dan keluar dari ruang rawat Zola untuk menemui dokter.
Tak lama kemudian, setelah selesai mengobati lukanya, Ellard keluar dari ruangan dokter seraya mengambil ponselnya. Ia segera menghubungi Gerry.
"Halo Ger, kau dimana?" tanya Ellard.
"Aku ... ekhem ... aku di rumah Raline, Ell." sahutnya malu-malu.
__ADS_1
"Oh, ya sudah. Nanti aku minta kau bereskan semua yang aku perintahkan sebelumnya. Ini sudah tidak bisa dibiarkan. Serahkan semua bukti-bukti kejahatan orang-orang itu agar mereka segera mendapatkan hukuman yang setimpal. Kau tau, tadi Clara mencoba mencelakai Zola." ujar Ellard membuat Gerry terkejut.
"Jadi bagaimana keadaan Zola?" tanya Gerry yang turut khawatir.
"Dia sudah baik-baik saja sebab pisaunya berhasil ku tepis." ucapnya sambil melihat tangannya yang berbalut perban.
Gerry menghela nafas lega.
"Baiklah, sebentar lagi akan aku bereskan semua tikus got itu." ucap Gerry yang juga telah lama menyimpan kekesalan pada orang-orang yang telah menyakiti Zola.
Setelah mengatakan itu, Ellard pun langsung menutup sambungan teleponnya.
"Ada apa ?" tanya Raline dengan raut wajah khawatir.
"Aku harus pergi untuk menyerahkan bukti bukti kejahatan orang orang yang sudah menyakiti Zola ke pihak kepolisian. Ternyata tadi Clara hendak mencelakai Zola, beruntung Ellard berhasil menyelamatkannya." jelas Gerry seraya menatap manik mata Raline.
"Jadi kita tidak jadi pergi ke taman bermain?" tanya Raline dengan wajah sendu.
"Maaf." sahut Gerry merasa bersalah sebab ia telah memiliki janji untuk mengajak Raline jalan-jalan ke taman bermain.
"Kalau begitu, aku ikut denganmu, boleh?" tanya Raline dengan mata berbinar. Gerry pun mengangguk sambil tersenyum tipis.
Raline tersenyum girang lalu ia segera merangkul lengan Gerry membuat Gerry menaikkan alisnya ke atas karena sikap manja Raline padanya.
"Tidak boleh?" tanya Raline ragu.
Gerry hanya tersenyum lalu mengeratkan rangkulan itu membuat Raline makin kegirangan.
...***...
Mampir ke karya baruku satu ini ya kak! Rencananya karya ini akan othor ikutin lomba bertema Berbagi Cinta. Ditunggu tap love, like, komen, dan hadiahnya ya!
Makasih semua. 🙏🥰
__ADS_1
...Happy reading 🥰🥰🥰...