Suamiku Si OB Ganteng

Suamiku Si OB Ganteng
Ch.52 Ya, ini aku.


__ADS_3

Pagi-pagi sekali, kantor Shoppa Lova sudah terlihat riuh karena jerit tangis para karyawan yang mendapatkan surat cinta spesial dari CEO mereka, Tuan Muda Miguel. Awalnya hati mereka tampak berbunga-bunga saat melihat di atas meja mereka ada sebuah amplop berwarna pink, persis seperti surat cinta. Semua karyawan yang mendapati surat tersebut tentu sangat senang. Wajah mereka merona karena bahagia. Bahkan mereka sampai mencium-cium surat itu yang memang wangi. Apalagi saat melihat nama pengirim di depan amplop,


...from : Ellard Miguel...


...CEO of Shoppa Lova Company...


...with love....


Mereka bersorak riang dan saling berpelukan. Yang tidak mendapat, hanya bisa memberikan selamat. Mereka pikir , isi surat itu merupakan sebuah kabar baik, entah undangan kencan, makan malam, pesta, atau surat kenaikan pangkat. Tanpa mereka sadari, isi surat tersebut sangatlah jauh dari ekspektasi.


Perlahan mereka membuka ampop itu dengan tangan gemetar dan jantung berdebar. Setelah lembaran surat berada di tangan, mereka membuka lembaran tersebut, sudut bibir yang melengkung ke atas tadi berubah jadi melengkung ke bawah. Tak butuh waktu lama, jerit tangis terdengar bersahut-sahutan di dalam gedung Shoppa Lova.


Karyawan yang tidak mendapatkan surat tersebut tentu bingung dan panik saat melihat rekan-rekannya menangis histeris. Lalu mereka segera membaca surat itu, mereka shock seketika karena isinya berupa kalimat pemecatan karena mereka bekerja secara tidak profesional dan mengedepankan gosip hingga merendahkan dan mencemooh sesama karyawan, sesuatu yang sangat dibenci CEO mereka.


Regan , Keira, dan Clara berlarian menuju meja kerja masing-masing. Tentu mereka juga khawatir bagaimana bila nama mereka menjadi salah satu dari orang-orang yang mendapat surat cinta pemecatan secara tak hormat dari CEO mereka, tapi saat tiba di meja kerja mereka, senyum lega menghiasi bibir mereka. Artinya posisi mereka aman. Yah, untuk saat ini mungkin, tapi belum tentu untuk saat lainnya.


Seharusnya kesempatan ini mereka jadikan ajang memperbaiki diri, tapi sebaliknya, mereka makin pongah. Mereka dengan congkaknya menyombongkan diri sebagai karyawan kesayangan Shoppa Lova jadi takkan mungkin mereka dipecat dari sana. Karyawan lain hanya menanggapi santai ketiga orang itu. Mereka lebih memilih aman dari pada mencari masalah yang ujung-ujungnya membahayakan pekerjaan mereka.


"Bagaimana, Ger? Semua sudah beres?" tanya Ellard dengan punggung bersandar di kursi kebesarannya.


Gerry tersenyum bangga, sambil mengacungkan jempolnya ke arah Ellard.


"Semua beres. Tinggal 3 manusia menyebalkan itu saja. Ngomong-ngomong mengapa tidak sekalian saja kau menyingkirkan mereka?" tanya Gerry penasaran. Kini ia sudah duduk di sofa ruangan Ellard.


Ellard tersenyum menyeringai dengan sorot mata tajam.

__ADS_1


"Kalau hanya dipecat itu tidak menyenangkan, Ger. Tentu mereka harus dibuat shock mengetahui siapa OB yang selalu mereka hina tersebut . Aku sudah membayangkan bagaimana ekspresi mereka semua. Apakah mereka masih bisa tersenyum mengejek atau tertawa bahagia nantinya?" tukas Ellard yang dipahami oleh Gerry. Tentu, kalau hanya dipecat saja, itu takkan menyenangkan. "Lagipula aku ingin memperkenalkan Zola sebagai istriku di hari spesial, bukannya karena ketahuan tanpa disengaja. Oh ya, bagaimana tugas yang aku berikan? Semua sudah terkumpul?" tanya Ellard.


Gerry mengangguk seraya tersenyum lebar.


"Kecurigaan mu benar. Semua bukti sudah di tangan. Tinggal menunggu perintahmu saja maka semua akan segera dibereskan." tukas Gerry tersenyum bangga karena berhasil mengerjakan tugas yang diberikan Ellard.


"Kau memang selalu dapat ku andalkan, Ger. Thanks a lot!" ujar Ellard. Walaupun Gerry bawahannya, tetap ungkapan terima kasih itu penting tak peduli kepada siapapun. Apalagi semua tugas yang ia berikan kepada Gerry dapat ia selesaikan dengan baik. "Bonus untukmu segera meluncur." sambungnya lagi dengan wajah datar seperti biasa.


Senyum Gerry makin lebar, ia tentu sangat senang. Ellard memang tidak pernah ingkar pada setiap perkataannya.


...***...


Clara berjalan dengan anggun dan senyum lebar menuju ruangan CEO. Tepat saat itu, Zola sedang pergi ke toilet jadi ia dapat melenggang dengan senang hati dan penuh percaya diri menemui atasannya yang ia yakini dapat dengan mudah ia pikat. Sama seperti Regan yang dapat ia tundukkan dengan mudah, ia yakin CEO-nya juga pasti begitu. Dengan Zola yang notabene sudah menikah saja ia mau, maka tak mungkin tuan muda Miguel menolaknya. Ia akan melakukan apa saja asal CEO mereka itu dapat jatuh ke pelukannya.


Tok tok tok ...


Setelah memakai maskernya, Ellard membuka pintu menggunakan tombol otomatis. Tak lama kemudian, Clara masuk dengan senyum manis di bibirnya. Ellard tak bergeming, ia tetap menyibukkan dirinya dengan setumpuk berkas-berkas. Clara berjalan dengan anggun sambil membawa sebuah berkas di tangannya tepat saat pintu tertutup.


"Selamat siang tuan muda Miguel. Ini laporan rincian pengeluaran untuk acara Event kali ini." ujar Clara dengan suara mendayu-dayu, berharap Ellard terperdaya dengan pesonanya. Bahkan Clara juga berjalan dengan gerakan sensual sambil menggerakkan bokongnya berharap Ellard akan tergoda dengan tubuhnya yang seksi. Lalu Clara meletakkan berkas itu tepat di samping tangan Ellard.


Tanpa rasa malu m, Clara berdiri di belakang tubuh Ellard dan mengusap lengan kanan Ellard dengan seduktif. Berharap tindakannya tersebut dapat memancing gairah Ellard sehingga mau bercinta dengannya.


Ellard yang sadar dengan tujuan Clara lantas membalik tangannya, seolah-olah menggenggam pergelangan tangan Clara membuat Clara bersorak bahagia dalam hati. Namun itu hanya sepersekian detik, beberapa detik selanjutnya, Ellard memelintir tangan Clara hingga membuatnya menjerit kesakitan. Lalu dengan tangan yang masih terpelintir, Ellard berdiri lalu mendorong tubuh Clara hingga terhempas ke dinding. Kemudian, tangan kiri Ellard mencengkram rahang Clara dengan kuat hingga ia meringis kesakitan. Bahkan kini matanya telah memerah menahan sakit. Hingga tanpa diminta, setetes air mata keluar dari pelupuk matanya.


Bukannya iba, Ellard malah menyeringai dan makin mengeratkan cengkramannya hingga wajah Clara merah padam.

__ADS_1


"Kau kira kau siapa, hah, berani-beraninya menyentuh tubuhku?" ujar Ellard dingin. Membuat tubuh Clara bergetar karena takut. "Kau pikir, aku bisa kau taklukkan dengan mudah seperti pria bodoh itu? Ck ... Ck ... Ck ... Takkan semudah itu, jal*ng. Kau pikir aku mau disentuh oleh perempuan jal*ng seperti dirimu ini. Cih, kau salah mencari lawan b i t c h!" tukas Ellard dengan nada mencemooh.


"Segera siapkan surat pengunduran dirimu! Ku harap mulai besok pagi kau tidak memperlihatkan dirimu lagi di perusahaan ini atau aku akan membuatmu merasakan hal yang lebih menyakitkan." seru Ellard penuh nada ancaman.


Tubuh Clara lemas seketika, bahkan kakinya rasanya tak sanggup lagi menapak ke lantai tempatnya berdiri.


"Mengapa? Mengapa kau menolakku? Sedangkan Zola yang sudah menikah dengan OB sialan dan miskin itu , kau mau. Aku akui Zola lebih cantik dariku, tapi bukankah tubuhku lebih seksi! Kalau kau mengatakan, kau lebih suka dengan istri orang, aku juga istri seseorang. Kalau kau katakan, Zola bisa memuaskanmu di atas ranjang, maka aku jamin aku lebih hebat darinya. Tapi kenapa kau menolakku?". tanya Clara yang belum mau menyerah. Sudah kepalang basah, bukan. Jadi sekalian saja menceburkan diri.


Ellard tergelak membuat Clara menganga tak percaya dengan apa yang ada di hadapannya.


"Apa yang lucu?" tanya Clara sebab ia merasa apa yang ia tanyakan tidak ada yang lucu.


"Hahaha ... kau sungguh menggelikan nona Clara. Kau ingin tau mengapa aku menolakmu? Itu karena akulah orang pertama yang menyentuh Zola, dan begitulun aku, adalah orang pertama yang disentuhnya. Jadi kami bukan bekasan orang lain seperti dirimu b i t c h! " Tegas Ellard sambil tergelak. Namun tawanya bukannya terdengar indah, tapi menakutkan.


"Hah!" seru Clara tak percaya. "Kau pasti bercanda Tuan Muda Miguel." ujarnya dengan nada mengejek. Walaupun tubuhnya kini masih bergetar, tapi sifat angkuhnya masih saja lebih dominan.


"Baiklah, kalau kau tak percaya. Aku akan memberi tahu satu rahasia padamu, tapi setelah ini, bila ada yang mengetahuinya sebelum aku sendiri yang membocorkannya, maka kau akan habis di tanganku." ancam Ellard membuat nafas Clara tercekat. "Aku tidak main-main dengan perkataan ku." tegasnya lagi dengan nada datar dan dingin. Sorot matanya tajam dan begitu menghujam di benaknya.


Lalu perlahan, Ellard melepaskan masker yang menutupi sebagian wajahnya. Ellard juga membuka kaca mata kerjanya. Tiba-tiba, jantung Clara makin bertalu-talu bagai hendak meloncat dari sangkarnya. Nafasnya juga kian memburu dengan wajah yang kian pias bagai tak dialiri darah setetes pun.


"Ka ... kau ..." tunjuknya dengan suara nyaris menghilang karena ia kini ia begitu shock.


Ellard tersenyum miring.


"Ya, ini aku. Si OB sialan dan miskin." ujarnya sambil menyeringai. Tubuh Clara kini benar-benar limbung. Tenaganya telah menghilang bersamaan dengan kesombongannya yang nyaris lenyap. Ia pun jatuh tak sadarkan diri karena begitu terkejut dengan fakta yang barusan saja diterimanya.

__ADS_1


...***...


...Happy reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2