Suamiku Si OB Ganteng

Suamiku Si OB Ganteng
Ch.63 My precious, Wifey.


__ADS_3

Tubuh Zola sudah dibersihkan, Ellard pun segera masuk untuk melihatnya. Wajah pucat itu menyambut kedatangan Ellard dengan senyum lebarnya. Ellard pun segera mendekat dan memeluk tubuh Zola. Dikecupnya dahi, mata, hidung, pipi,dan terakhir bibir Zola dengan lembut dan mesra. Lalu dipandanginya wajah cantik yang terlihat pucat itu dengan tatapan memuja. Binar cinta terlihat jelas di mata keduanya.


"Terima kasih banyak, sweet, my lovely, my precious Wifey, atas hadiah terindah yang kau beri. Hadiah tercantik yang pernah ku miliki. Aku mencintaimu, sweety, sangat mencintai. Now and forever, still loving you." ucap Ellard penuh kesungguhan.


Zola tersenyum lalu mengangkat sedikit wajahnya dan mengecup singkat bibir merah Ellard. Lalu tangannya terangkat mengusap lembut rahang kokoh milik Ellard. Ellard dapat merasakan darahnya seketika berdesir saat jari-jemari itu bergerak menelusuri setiap inci kulit wajahnya. Biarpun mereka sudah menikah hampir 1 tahun, tapi tetap saja, berdekatan dengan Zola mampu membuat kinerja jantungnya tak beraturan. Ellard memejamkan matanya, menikmati setiap sentuhan itu.


"Ell, tak perlu kau berterima kasih sebab aku melakukan semuanya tulus karena aku mencintai kalian." ucap Zola seraya tersenyum lembut. "Jadi hubby, siapa nama baby girl kita?" tanya Zola yang penasaran dengan nama bayi perempuannya.


Lalu Ellard tampak berpikir, "Elza Manuella Miguel." tukas Ellard seraya tersenyum lebar.


"Elza?"


"Hmm ... Ellard dan Zola." sambungnya sambil memainkan kedua alisnya membuat Zola terkekeh.


"Kita bisa memanggilnya baby Elza atau baby Ella. Mana menurutmu yang lebih bagus, Wifey?"


"Semuanya bagus, hubby dan aku menyukainya." tukas Zola bahagia.


Lalu tak lama kemudian, Arriana, Jhonny, dan Jordan masuk ke ruangan Zola. Arriana langsung berhambur ke pelukan Zola. Ia memeluk tubuh Zola dengan erat seraya mencium puncak kepala Zola.


Zola merasa sangat bahagia mendapat perlakuan yang begitu manis dari Arriana. Sungguh ia sangat merindukan sang ibu dan perlakuan Arriana yang penuh kasih mampu menggetarkan hati Zola. Ia takkan sungkan-sungkan mereguk kasih sayang dari mertuanya itu. Zola pun balas memeluk tubuh Arriana seraya terisak. Tiba-tiba Arriana dan Ellard khawatir pada Zola.


"Duh, sayang, mama memelukmu terlalu erat ya? Maafkan mommy." ucap Arriana penuh sesal.


"Ini semua salah mommy, makanya kalau peluk hati-hati." omel Ellard. "Mana yang sakit, Wifey? Kita panggil dokter ya?" ucap Ellard panik.


Baru saja Ellard hendak beranjak, tapi tangan Zola telah mencegahnya terlebih dahulu lalu menggeleng membuat Ellard bingung.

__ADS_1


"Kau harus diperiksa, Wifey. Aku tidak mau kamu ..." Zola menghentikan ucapan Ellard dengan meletakkan jari telunjuknya di depan bibir Ellard.


"Aku tidak sakit, hubby. Aku hanya terharu atas perhatian dan kasih sayang mommy. Mommy mengingatkanku pada mommy Marrie. Selama ini aku memendam rindu pada mommy dan kehadiran mommy membuatku seakan merasakan kehadiran Mommy Marrie.


Ucapan Zola ternyata mampu membuat Jordan tertohok. Ia hanya tertegun di tempat membayangkan betapa menderitanya Zola selama ini karena kehilangan orang-orang yang menyayanginya. Padahal Zola anak yang baik, tetapi selama ini ia begitu buta karena terlalu mempercayai setiap kata-kata Catherine dan Clara yang menjelek-jelekkan Zola.


"Oh sayang, mom berjanji padamu, mom akan terus menyayangi mu seperti anak mom sendiri. Hanya orang bodoh yang tidak mau menyayangi gadis secantik dan sebaik kamu." ucap Arriana pelan dan lembut pada Zola, namun masih dapat terdengar jelas di telinga Jordan.


Jordan membenarkan apa yang dikatakan Arriana. Hanya orang bodoh yang tidak mau menyayangi gadis secantik dan sebaik Zola. Padahal Zola putrinya sendiri, tapi karena kebodohannya, Zola kehilangan masa kecil yang indah dan kasih sayang.


"Terima kasih, mom. Zola sangat menyayangi mommy dan daddy." ucap Zola pasti.


"Hanya mommy dan Daddy, aku tidak?" tanya Ellard dengan wajah cemberut membuat semua orang yang ada di ruangan itu terkekeh.


"Ya, aku memang tidak menyayangimu, Ell." ucap Zola dengan sorot mata tajam, namun hanya dalam beberapa detik sorot mata itu melembut dan terlihat sebuah senyuman sangat cantik di bibir pucatnya. "Sebab aku, Zola Amaria, sangat-sangat menyayangi dan mencintai dirimu." ucapnya penuh kesungguhan membuat hati Ellard rasanya berbunga-bunga.


"Ich liebe dich, my precious Wifey." usai mengucapkan itu Ellard langsung mencium bibir Zola sekilas membuat Jordan, Jhonny, dan Arriana tersenyum.


Zola tersenyum bahagia, akhirnya ayahnya mau menyayanginya kembali. Lalu Zopa merentangkan tangan, Jordan yang paham maksudnya pun langsung memeluk tubuh Zola dengan erat. Jordan juga mencium puncak kepala Zola dengan sayang.


"Zo menyayangimu, dad." bisiknya di pelukan Jordan.


"Daddy juga sangat menyayangimu. Terima kasih sudah menyayangi dad yang buruk ini dan terima kasih karena telah menerima dad kembali."


...***...


Raline dan Gerry telah sampai di sebuah hotel mewah yang memang telah dipesan Ellard walaupun pemesanan masih melalui tangan Gerry sendiri. Awalnya, Gerry hanya melaksanakan perintah untuk membooking kamar hotel di sebuah hotel termewah dengan fasilitas terbaik. Jadilah Gerry memesankaj sesuai permintaan Ellard. Ia pikir Ellard memesan untuk dirinya dan Zola. Tapi ternyata, tepat di hari pernikahannya, Ellard membisikkan bahwa kamar hotel itu hadiah untuk pernikahan dirinya dan Raline.

__ADS_1


Tentu Gerry sangat terkejut sekaligus bahagia. Ellard memang tak pernah tanggung-tanggung dalam memberikan sesuatu. Karena itu, di sinilah mereka saat ini. Gerry dan Raline masuk ke kamar dengan tangan saling bertautan. Seolah tak ada waktu lain untuk menuntaskan dahaganya, Gerry langsung menerkam Raline saat itu juga.


Dilemparkannya jas dan dasi yang tadi mengikat lehernya sembarangan arah. Lalu Gerry mulai mencumbu dan memagut bibir Raline dengan mesra. Sebelah tangannya sibuk menekan tengkuk Raline agar tautan bibir itu makin dalam, sedangkan tangan satunya sibuk menarik resleting gaun yang terletak di belakang tubuh Raline hingga akhirnya gaun itu pun melorot ke lantai.


Gerry berdecak kagum, saat melihat keindahan yang terhidang di depannya. Walaupun tubuh itu masih sebagian tertutup, tapi tetap saja keindahan itu tercetak jelas di depan matanya.


"You're so beautiful, beib and i like it. May i ..?" lirih Gerry tepat di depan wajah Raline.


"I'm yours, now. So, do it, please!" ucapnya setengah mende sah sebab Gerry sedang mengecup mesra sepanjang garis leher Raline.


"With pleasure, beib." ujar Gerry seraya mengerling nakal membuat semburat merah terbit di pipi Raline.


Lalu Gerry kembali melu mat bibir Raline yang awalnya lembut tapi kini kian menuntut. Gerry menggigit pelan bibir bawah Raline hingga tanpa sadar Raline membuka mulutnya dan Gerry pun segera menelusup kan lidahnya ke dalam sana. Lidah mereka kini saling bertaut seolah-olah ingin mengabsen setiap sudut di dalam sana. Setelah puas bermain-main di area mulut, Gerry melesatkan bibirnya ke area leher. Ia meninggalkan kecupan basah di sekitar sana hingga meninggalkan banyak jejak kepemilikan. Lalu bibir itu turun ke area tulang selangka dan makin turun hingga ke dua puncak kembar yang terlihat mulai menegang. Gerry lun segera menanggalkan penutup area itu agar ia bisa lebih puas menikmatinya.


Bagaikan seorang bayi, Gerry begitu menikmati kegiatan yang baru baginya itu. Pantas saja banyak temannya dulu sangat senang bermain dengan wanita, ternyata rasanya memang sangat nikmat dan menyenangkan. Tapi beruntungnya ia tidak seperti teman-temannya yang suka melakukannya dengan sembarang wanita sebab prinsipnya sama dengan Ellard, the one and only.


Raline makin menggelinjang hebat saat sensasi asing itu merayapi sekujur tubuhnya. Sensasi geli tapi juga nikmat membuatnya mengerang, mende sah, dan merintih.


Semakin lama permainan itu makin menghanyutkan, hingga saatnya puncak dari segala kenikmatan akan segera mereka lakukan.


"Kau siap, sayang?" bisik Gerry tepat di depan wajah Raline.


Raline hanya menatap sayu Gerry. Dadanya naik turun akibat nafas yang tersengal. Peluh pun tampak membanjiri kedua daksa yang sedang dalam proses penyatuan itu. Raline tampak menggigit bibirnya, belum pada puncak kegiatan saja ia sudah kewalahan apalagi setelah ini, pikirnya. Tapi ia pun penasaran dan ingin melakukan apa yang teman-temannya katakan sebagai kegiatan menuju surga dunia.


Raline hanya bisa mengangguk pelan sebagai jawaban. Gerry yang sudah dipersilahkan memasuki pintu surganya pun segera memposisikan diri hingga perlahan tapi pasti akhirnya tongkat ajaib Gerry berhasil melepaskan keperjakaannya dan menembus pintu gerbang surga cinta Raline.


Awalnya Raline merintih sakit hingga bulir-bulir air mata mengalir dari pelupuk matanya, tapi semakin lama dan cepat tempo permainan itu ternyata mampu melambungkan angan kedua insan yang sedang dimabuk cinta tersebut hingga akhirnya mereka mencapai puncak bersama sambil menyebutkan nama pasangan masing-masing. Gerry tersenyum puas, sedangkan Raline tersenyum malu-malu, akhirnya kini mereka telah benar-benar menjadi satu. Tinggal menunggu waktu, hingga benih-benih yang Gerry tabur tadi mampu berkembang menjadi janin, calon buah hati mereka.

__ADS_1


...***...


...Happy reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2