Suamiku Si OB Ganteng

Suamiku Si OB Ganteng
Ch.65 Peraturan


__ADS_3

Kini Gerry dan Ellard sedang berbicara berdua di ruang kerja milik Ellard 6. Semenjak melahirkan 2 Minggu lalu, Ellard makin jarang datang ke kantor. Hampir semua pekerjaannya ia selesaikan di mansion. Ya, mereka masih tinggal di mansion orang tuanya. Mengingat Zola yang masih terlalu awam dalam mengurus bayi, belum lagi ia belum lama melahirkan, tentu Zola akan sangat kerepotan mengurus buah hatinya sendiri nanti. Ingin mempekerjakan seorang maid, Ellard juga belum mendapatkan yang cocok. Karena itulah, rencananya mereka akan tinggal di cukup lama. Ellard juga sementara waktu ini, minimal sampai 40 hari ke depan, akan lebih banyak mengerjakan pekerjaannya di mansion. Kecuali untuk urusan mendesak dan yang memang membutuhkan ia turun tangan secara langsung.


Ellard tampak serius membicarakan beberapa laporan dengan Gerry. Sesekali dahinya berkerut, pertanda ia sedang menguras otaknya untuk memecahkan masalah dan menemukan solusi.


Selesai memeriksa berkas-berkas tersebut, Ellard pun mulai berbincang dengan Gerry.


"Ger, bagaimana, apa kau sudah menemukan asisten kedua untuk membantumu?" tanya Ellard yang kini sedang bersantai di sofa ruang kerjanya.


Gerry menghela nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan, lalu ia menatap lekat netra Ellard. Antara ragu dan yakin untuk memberitahukan sesuatu hal padanya.


"Ada apa? Kenapa kau menatapku seperti itu?" tanya Ellard heran sekaligus penasaran.


"Dia kembali."


"Dia kembali? Apa maksudmu? Aku menanyakanmu tentang hasil seleksi mencari asisten kedua agar hisa meringankan pekerjaanmu."


Gerry memijit pelipisnya pelan dan kembali berujar.


"Hampir semua peserta tidak memenuhi spesifikasi.. Hanya ada satu orang yang memilikinya, tapi aku tak yakin akan menerimanya." ujar Gerry pelan membuat alis Ellard bertaut mencoba memahami pemaparan Gerry.


"Jelaskan secara langsung, jangan menggunakan teka-teki!" titah Ellard tegas.


"Dia kembali, Joana ada di sini dan hanya dialah yang memiliki spesifikasi sesuai yang kita butuhkan." ujar Gerry menjelaskan membuat mata Ellard menyipit dan bibir terangkat sebelah.


"Ya, kau benar. Jangan pernah menerimanya untuk alasan apapun! Kau sangat tau kan dia perempuan yang seperti apa." tukas Ellard tersenyum sinis.


"Yah, kau benar, Ell. Aku sangat tau. Tapi aku penasaran, mengapa ia mau susah payah melamar pekerjaan sebagai asisten pribadi, sedangkan ia telah mendapatkan apa yang ia ingin."


"Apalagi kalau bukan kekuasaan dan kekayaanku yang sudah mendunia." pungkas Ellard seraya terkekeh. Ia ingat bagaimana tamaknya seorang Joana. Ia dulu berpikir Joana tulus mencintainya, namun nyatanya ia hanya mengincarnya sebab ia merupakan putra seorang pengusaha ternama.


...***...


"Sayang, kau sudah bersiap pergi?" tanya Zola saat melihat penampilan rapi Ellard, sedangkan Zola sedang menggendong baby Elza yang baru saja menangis. Hari ini Ellard ada kepentingan mendesak yaitu pertemuan dengan investor dari Asia.


"Hai princess nya Daddy, kenapa menangis, hm?" tanya Ellard seraya mengusap pipi tembam Elza dengan punggung jari telunjuknya.

__ADS_1


"Elza hanya ingin minta gendong mommy, dad. Jadi Elza menangis karena Elza belum bisa bicara." ujar Zola menirukan suara anak kecil. Pura-pura menjadi Elza . Ellard yang mendengarnya tersenyum geli.


"Anak Daddy semakin pintar, hm! Tapi jangan seperti itu terus ya, princess. Kasihan mommy, mommy pasti kerepotan bila kau terus menangis. Nanti mommy juga mudah lelah. " tukas Ellard dengan lembut membuat hati Zola menghangat mendapatkan perhatian yang tiada henti-hentinya dari Ellard dan kedua orang tuanya.


"Baik, Daddy." sahut Zola masih dengan suara anak kecilnya membuat Ellard makin terkekeh.


"Daddy, boleh siang nanti mommy dan princess Elza main ke kantormu?" tanya Zola dengan wajah penuh harap.


"Tentu, mom. Daddy akan senang sekali kalau kalian menemani Daddy bekerja. Nanti Daddy akan meminta Gerry menjemput kalian."


"No, kami bisa minta antar sopir, dad! Kasihan kalau meminta Gerry bolak-balik ke kantor dan ke mansion, lalu kembali ke kantor lagi." tolak Zola halus dengan senyum terukir di bibir merahnya.


"Baiklah kalau begitu, tapi selalu kabari Daddy, ok! Daddy tidak mau terjadi sesuatu pada kalian." tukas Ellard lembut seraya mengusap pipi Zola. Zola tersipu mendapatkan perlakuan yang begitu manis dari Ellard.


...***...


Ellard kini telah berada di kantor. Ia melakukan inspeksi dadakan ke semua divisi secara acak membuat karyawan yang bekerja tidak becus langsung mendapatkan surat peringatan. Ia juga memberi peringatan pada karyawan yang memakai pakaian tak pantas. Walaupun negara mereka merupakan negara bebas , namun Ellard tetap membatasi sesuatu yang dianggapnya tidak pantas.


"Kau ..." tunjuk Ellard pada perempuan yang memakai pakaian super ketat dan mini. Bahkan roknya hanya sebatas pertengahan paha dengan atasan blouses yang bukan hanya super ketat, tapi berpotongan b line rendah sehingga memamerkan asetnya yang bak semangka tumpah.


Perempuan itu melenggang sensual seraya tersenyum manis. Wajahnya merona , mungkin ia tersipu, dan merasa disukai oleh atasannya.


"Kau itu bekerja di kantor, bukan diskotik! Pulang sekarang dan ganti pakaianmu dengan yang layak! Saya beri kau waktu 1 jam dari sekarang. Kalau tidak, tidak usah datang lagi kemari." tegas Ellard membuat semua orang yang melihatnya tercengang. "Perintah ini juga berlaku pada yang lainnya. Bagi yang merasa, lekas laksanakan sesuai perintahku. Jangan sampai saya memberikan surat peringatan pada kalian!" tegas Ellard lagi membuat semua karyawati yang merasa pakaiannya tak pantas langsung berhamburan keluar dari sana.


Mereka tau, CEO mereka memiliki sikap tegas dan tidak tebang pilih tapi terkadang para perempuan sangat senang memamerkan kemolekan tubuh mereka tanpa berpikir kenyamanan orang lain yang ada di dekatnya. Karena itu Ellard membuat peraturan itu, demi menciptakan suasana kerja yang kondusif dan nyaman bagi semua karyawan tanpa terkecuali. Bahkan dirinya saja sebagai seorang lelaki sangat tidak nyaman melihat tubuh seorang perempuan yang terpampang secara terbuka di depannya. Beda kalau itu istrinya. Justru ia selalu memuja setiap bagian tubuh Zola dengan penuh cinta. Bahkan ia tak pernah merasa puas untuk melihat, menjelajah, dan menikmatinya.


...***...


"Aku ingin bertemu dengan CEO kalian." ucap seorang perempuan cantik di depan meja resepsionis.


"Maaf nona, tuan Ellard tidak bisa diganggu saat ini. Apalagi Anda tidak memiliki janji dengannya." sahut resepsionis tersebut sopan.


"Tapi aku harus bertemu dengannya. Katakan saja aku Joana. Aku yakin, dia mau menemuiku." ujar Joana mencoba sopan pada resepsionis itu.


"Baiklah, saya tanyakan dulu dengan asisten Gerry."

__ADS_1


"Tidak. Jangan bicara pada asisten Gerry. Langsung saja bicara pada Ellard, eh maksudku CEO kalian." sergah Joana . Ia yakin, bila bicara melalui Gerry, maka maka bukan hanya masalah akan makin runyam, tapi pasti Gerry akan langsung menolak kedatangannya dan mengusirnya.


"Maaf nona, sudah prosedurnya bagi siapa saja yang mencari tuan Ellard harus menghubungi asisten Gerry terlebih dahulu." resepsionis itu menjelaskan dengan wajah ramahnya.


"Baiklah. Cepat hubungi dia. Katakan padanya, aku takkan pulang sebelum ia menemuiku." tukas Joana sedikit mengancam.


Resepsionis itu hanya mengangguk kaku.


'Pemaksa sekali! Jangan-jangan dia menyukai Tuan Ellard! Ah, kejar saja saja kalau kau bisa!' seringai resepsionis itu dalam hati.


Beberapa menit kemudian,


"Bagaimana?" tanya Joana.


"Maaf nona, asisten Gerry sedang sibuk jadi silahkan kemari lain kali." ujar resepsionis itu.


Joana menekuk wajahnya merasa kesal. Tapi mau bagaimana lagi. Ia akan kemari lagi lain kali pikirannya. Lalu ia pun pergi dari hadapan resepsionis itu.


Baru saja ia berjalan beberapa langkah dari meja resepsionis, telinganya menangkap pembicaraan yang cukup menarik tingkat penasarannya.


"Hai, Zia!" sapa seorang perempuan cantik.


"Hai nona Zola. Hai juga princess Elza!" sapa Zia ramah.


"Ell di ruangannya?" tanya Zola.


Zia mengangguk mantap seraya tersenyum.


"Hmm ... tuan Ellard sudah menunggu nona sedari tadi." ucap Zia , sang resepsionis.


"Baiklah. Aku ke atas, ya! Bye aunty ..." ucap Zola seraya melambaikan tangan ke arah Zia.


Joana yang masih berdiri tak jauh dari meja resepsionis mengerutkan keningnya. Rasa penasaran bercokol di dalam dadanya.


'Siapa perempuan itu?'batinnya.

__ADS_1


...***...


...Happy reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2