
Sebuah Bugatti Divo berwarna hitam dengan garis melengkung berwarna biru di bagian tepi, meluncur bebas membelah jalanan Kota Los Angeles. Di dalamnya, ada sepasang suami istri yang tampak begitu bahagia. Mereka tak henti-hentinya saling melempar senyum untuk mengekspresikan rasa cinta dan kebahagiaan yang membuncah di dalam dada.
Tak butuh waktu lama, Bugatti Divo itu telah berhenti tepat di depan lobi kantor Shoppa Lova. Ellard turun dari mobil itu terlebih dahulu dengan tak lupa memakai masker dan kaca mata hitam mewah miliknya. Kemudian, ia memutari mobil dan membukakan pintu untuk Zola. Zola pun turun dari mobil itu dengan anggun dan tak lupa seulas senyum yang selalu terpatri di bibirnya. Setelah Zola turun, Ellard menyerahkan kunci mobilnya kepada valet parking.
Semua pasang mata yang melihat bagaimana atasan mereka memperlakukan Zola dengan begitu hangat dan romantis, merasa terkesima. Sebagian dari mereka memuji betapa beruntungnya Zola karena diperlakukan semanis itu oleh CEO mereka, tetapi ada juga yang mengutuk Zola sebagai wanita murahan karena menjalin hubungan dengan banyak pria tampan. Walaupun mereka belum melihat rupa asli seorang tuan Muda Miguel, tapi mereka meyakini kalau CEO mereka itu sangatlah tampan.
"Astaga, itu kan Zola! Lihat, bagaimana cara tuan muda Miguel memperlakukannya, ukh sangat-sangat manis dan romantis!"
"Kau benar, aku jadi iri. Enak kali ya bisa menjadi Zola."
"Mengapa Zola beruntung sekali sih bisa dekat dengan pria-pria tampan? Aku juga mau seperti Zola."
"Tapi wajar sih kalau Zola digilai pria-pria tampan seperti si OB dan tuan Muda Miguel, lah Zola nya aja cantik banget gitu!"
"Aku setuju."
"Cih, apanya yang cantik! Cantik tapi murahan dan kalian bangga?"
"Bilang aja kamu iri, ya kan teman-teman!"
"Benar tuh! Dasar."
"Cih, buat apa kami iri?"
"Benar, buat apa kami iri sama wanita jal*ng itu. Aku heran, kok mau-maunya tuan Muda Miguel sama jal*ng itu?"
"Oh, mungkin karena dia belum tau!"
"Mungkin tuan muda Miguel hanya sekedar memanfaatkan Zola sebagai teman kencannya. Mustahil dia mau menjalin hubungan dengan karyawan biasa seperti Zola."
"Bisa juga ini sejenis simbiosis mutualisme, mereka saling memberikan keuntungan, tuan muda Miguel diuntungkan dalam urusan ranjang, sedangkan Zola dalam hal pekerjaan."
__ADS_1
"Udah ah, malas ngeladenin orang-orang iri seperti mereka. Pergi yuk!"
"Pergi aja sana! Siapa juga yang mau bicara pada kalian."
Ellard dan Zola berjalan bersisian di lobi kantor. Lalu tiba-tiba, tangan Ellard menarik lengan Zola dan menggandengnya mesra membuat karyawan Shoppa Lova makin menjerit histeris dengan apa yang mereka lihat. Mereka jadi bertanya-tanya sebenarnya apa hubungan Zola dengan atasan mereka tersebut? Apakah benar selentingan kabar yang menyatakan Zola hanyalah penghangat ranjang CEO mereka.
"Ell, kau lihat tadi bagaimana cara mereka menatap kita khususnya aku! Pasti mereka tengah menggosipkanku hal macam-macam." terka Zola sambil mencebikkan bibirnya.
Ellard menaikkan sebelah alisnya ke atas, kemudian tersenyum.
"Tenang saja, bila mereka sampai ketahuan menjelekkanmu dari belakang, surat cinta khusus dariku akan segera menyapa mereka." tukas Ellard santai. Tapi terdengar keseriusan di sana.
Namun, beberapa detik kemudian, Zola mengerutkan keningnya, "Mengapa mereka malah dapat surat cinta spesial darimu? Tidak boleh. Aku tidak mengizinkan. Aku saja tidak pernah mendapat surat cinta dari mu." Zola mendelik kesal dengan bibir mengerucut membuat Ellard kian gemas dan tak sabar ingin mengecup dan melum*tnya disertai hisapan sehingga terciptalah decapan dan des*han.
"Ell, kau mendengarku, tidak!" Zola kembali mencebikkan bibirnya.
Ellard terkekeh lalu menarik pinggang Zola hingga merapat ke tubuhnya. "Dengar , aku dengar dengan baik, sweety. Kau mau surat cinta dari ku, hm? Boleh saja, sebab kau sebaiknya memang lebih fokus pada rumah tangga kita. Siapa tau di dalam sini, sudah ada Ellard junior atau Zola junior." ucap Ellard dengan lembut di telinga Ellard. dengan tangan mengusap perut Zola.
"Jadi surat cinta spesial darimu itu maksudnya ..."
Ellard mengangguk cepat saat Zola sudah menyadarinya. Zola tersenyum lebar lalu mengecup pipi Ellard sekilas membuat Ellard makin menguatkan rangkulannya di pinggang Zola dan mengecup puncak kepalanya.
...***...
"Tuah Hendrik, boleh saya masuk!" ucap Clara pelan tepat di depan pintu.
"Ya, silahkan masuk. Ada perlu apa kau mencariku?" tanya Hendrik , kepala tim HRD tanpa basa-basi.
Clara terkejut dengan pertanyaan Hendrik yang to the point. Lalu ia mulai mengutarakan maksud kedatangannya yang justru mendapat cibiran sinis dari Hendrik.
Ya, tujuan kedatangannya adalah agar Ellard yang ia ketahui sebagai seorang OB dipecat. Bahkan tanpa tahu malu, ia menyerahkan bukti-bukti kemesraannya pada Zola di jam kantor dan foto-foto bagaimana Ellard memukul Regan. Bahkan Clara juga membawa bukti visum Regan untuk memperkuat tuduhannya pada Ellard yang sudah berlaku kasar pada Regan.
__ADS_1
"Sudah selesai nona Clara?" tanya Hendrik sinis.
Mata Clara membola, mengapa ia justru mendapatkan perlakuan sinis dari Hendrik.
"Bagaimana tuan? Bukankah seharusnya tuan segera memecat OB yang tidak tahu diri itu karena sudah berpacaran saat jam kerja, ia juga sudah melakukan perbuatan kasar dengan memukul Regan. Hasil visum itu semuanya asli, tuan."
"Kalau asli kenapa? Bukankah ia sendiri yang memulai? Sudah wajar Ellard membalas perbuatan Regan. Beruntung Ellard tidak melaporkan kalian ke kantor polisi karena perbuatan kalian itu. Dan apa katamu tadi? Memecat OB itu? hahaha ... maafkan aku , itu tidak mungkin bahkan takkan mungkin. Jadi kalau urusanmu sudah selesai, silahkan keluar! Pintunya di sebelah sana bila kau lupa." imbuh Hendrik seraya menyeringai membuat Clara benar-benar tak habis pikir bagaimana bisa OB itu malah mendapatkan pembelaan dari Hendrik padahal bukti-bukti sudah ada di depan mata.
"Bagaimana?" tanya seseorang saat Clara telah keluar dari ruangan Hendrik.
Clara menggeleng lesu lalu ia berjalan menuju salah satu sudut ruangan yang akan sepi.
"Bagaimana bisa begitu?" tanya seseorang itu.
Clara mengedikkan bahunya tanda ia juga belum paham dengan situasi yang terasa aneh dan janggal ini. Tapi ia juga tidak bisa menebak alasannya.
"Bagaimana kalau kau coba dekati tuan Muda Miguel? Pasti akan lebih mudah bagimu bila kau berada di sisi tuan muda Miguel? Bila memang Zola hanya penghangat ranjangnya, bukankah kau lebih ahli dalam hal itu? Aku yakin kali ini kau akan berhasil menepuk kedua lalat menjijikkan itu." sarannya pada Clara.
Clara menyeringai, "Kau benar, sepertinya aku harus mengeluarkan keahlianku dalam menggoda. Dari pada aku menggoda OB tak tahu diri dan yang pastinya kere itu, lebih baik aku langsung menggoda mangsa luar biasa ini. Thanks atas saranmu." ujar Clara dengan senyum lebarnya.
Seseorang itu pun mengangguk lalu tersenyum tak kalah lebar.
"Semoga kau berhasil!" ujarnya lagi.
...***...
Besok diusahakan up ya, tapi gk bisa janji soalnya ada acara keluarga. Happy weekend. 🙏
...***...
...Happy reading 🥰🥰🥰...
__ADS_1