Suamiku Si OB Ganteng

Suamiku Si OB Ganteng
Ch.42 Benarkah ini pria yang dinikahinya?


__ADS_3

Karena kesehatan Zola sudah semakin membaik, dokter pun mengizinkan Zola untuk pulang. Tentu Zola sangat senang. Ia sudah merasa sangat bosan sekali padahal baru 3 hari ia dirawat inap di rumah sakit itu. Selama sakit, keluarga Zola tiada yang muncul satu pun sebab Zola memang tidak mengabari mereka. Apalagi semenjak ia keluar dari rumah, Zola memutus komunikasi dengan keluarganya termasuk dengan Jordan.


Ellard pun tiada berniat sama sekali menghubungi mereka, sebab ia tau, hal itu justru bisa membuat mood Zola makin memburuk. Meskipun Jordan sudah pernah meminta maaf pada Zola, tapi untuk komunikasi atau sekadar menghubungi, Jordan masih seperti yang dulu. Hal itulah yang membuat Zola makin enggan berhubungan lagi dengan keluarganya, terutama ayahnya.


Ceklek ... ceklek ...


Zola mengambil foto kakinya yang terbalut gips dan jarum infus yang menancap di pergelangan tangannya.


Semoga lekas membaik seperti sedia kala. Udah rindu meja kerja kesayangan.


Send a status.


Tring ... tring ... tring ...


Baru saja Zola memposting status terbarunya, puluhan pesan masuk mengomentari statusnya itu.


"Rindu meja kerja apa si OB nih?"


"Serius rindu meja kerja, bukannya asisten Gerry?"


"Ck ... rindu meja kerja, padahal rindu sama CEO'nya. 😏 Kamu pasti ada affair kan sama tuan muda Miguel?"


"Kasian banget sih kamu Zo, putus dari Regan, jadiannya sama OB. Biar pun ganteng, tetap aja cuma OB."


"Paling sakit bohongan buat dapat perhatian tuan muda Miguel."


"Zo, kamu sakit? Kaki kamu kenapa?" Roland


"Zo, kamu kenapa? Kaki kamu kenapa? Kamu dirawat dimana nanti aku kesana." Regan.

__ADS_1


"Zo, kamu sakit apa? Kaki kamu kenapa di gips? Kenapa tidak kabarin Daddy kalau kamu sakit? Cepat beritahu di rumah sakit mana kamu di rawat!" Dad Jordan


Zola hanya membaca pesan-pesan yang datang beruntun itu tanpa mau membalasnya. Ia hanya membalas pesan dari Roland saja sebab sedari awal, memang Roland selalu bersikap baik padanya. Walaupun sudah ditolak, tapi Roland tetap bersikap baik.


"Aku kecelakaan, Land. Tapi udah baikan kok. Ini udah mau pulang." balas Zola.


Baru saja Zola meletakkan ponselnya, terdengar seruan dari arah pintu. Zola mengalihkan pandangannya ke arah pintu, dari sana muncul seseorang yang baru dikenalnya kemarin. Disusul Gerry di belakangnya. Kemarin Raline datang kembali ke rumah sakit untuk melihat perkembangan kesehatan Zola lalu mereka saling berkenalan.


"Zola ..." seru Raline saat baru memasuki kamar rawat Zola.


Zola tersenyum lebar dan membalas sapaan Raline.


"Hai, Ral! Kamu datang dengan Gerry?" seru Zola dengan mata memicing dan tersenyum jahil.


"Eh, itu, eee i ... iya." sahut Raline seraya tersenyum simpul.


"Wah, ada kemajuan nih kayaknya!" goda Zola. Gerry hanya tersenyum tipis lalu ia mengambil posisi duduk di sofa.


"Lagi ke kantin rumah sakit, cari sarapan." ujar Zola. Sedangkan Raline sudah duduk di sofa berseberangan dengan Gerry.


"Ini bukan lagi jam sarapan, Zo. Tapi sudah hampir masuk jam makan siang." ujar Gerry sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


Raline pun terkekeh karena memang jam sudah menunjukkan pukul 11.


"Zo, aku beneran salut sama kamu bisa taklukin tuh gunung Himalaya." ujar Raline seraya terkekeh.


Zola mengerutkan keningnya merasa bingung.


"Gunung Himalaya?"

__ADS_1


Gerry mengulum senyum tau apa alasannya. Lalu ia melirik Raline yang masih terkekeh.


"Gunung Himalaya soalnya liat aja kalo orang lain yang ajak dia bicara, nyaris dicuekin. Kalaupun menjawab, apa adanya banget. Singkat , padat, dan jelas. Nggak ada basa-basinya sama sekali. Orangnya terlalu dingin dan kaku gitu." jelas Raline yang masih terkekeh. "Hebat banget kamu, bisa tahan. Aku dulu aja ya, saat masih kecil, suka nangis gitu karena dicuekin sama dia. Eh pas gede ketemu lagi, aku pikir ya dia bakal berubah lebih ramah gitu, taunya makin parah. Jujur, aku sempat suka sama dia. Sampai aunty Arriana bilang, dia udah suka sama orang lain, awalnya aku nggak percaya sampai-sampai aku tanya ke Gerry, tapi aku masih belum yakin, tapi saat liat gimana ekspresi kekhawatirannya kemarin, aku baru yakin kalau dia udah benar-benar suka sama seseorang dan itu adalah kamu." cerita Raline dengan semangat menggebu membuat Zola bingung harus menanggapinya bagaimana.


"Sudah menggosipkan aku? Sepertinya kalian berdua cocok, suka membicarakan orang lain dari belakang." cibir Ellard yang tiba-tiba saja masuk ke ruangan itu.


Raline tampak shock, saat melihat tatapan tajam dan mendengar cibiran Ellard, sedangkan Gerry hanya acuh tak acuh . Wajah Raline sudah memerah karena malu. Ia tak tahu mengapa tiba-tiba saja mulutnya seakan tidak bisa direm dan membicarakan Ellard di depan Zola.


'Eh, tapi apa kata Ell tadi ? Cocok?' Raline melirik Gerry yang pura-pura acuh padahal matanya diam-diam melirik Raline.


"Kamu beli apa, Ell?" tanya Zola mengalihkan perhatian Ellard agar tidak lagi menatap tajam Raline yang sudah kelihatan salah tingkah.


"Ah, aku beli spaghetti dan salad sayuran, kamu mau kan!" ujar Ellard seraya mengeluarkan beberapa cup makanan berisi sarapan yang tertunda.


"Hmm ... nggak papa deh!" sahut Zola.


"Kok kalian bisa kesiangan sih sarapannya? Kalian nggak macam-macam kan di sini?" tanya Gerry dengan mata memicing.


"Macam-macam? Macam-macam seperti apa?" sahut Zola polos.


"Ya yang macam-macam , seperti ..."


"Gerry bawa barang-barang Zola ke mobil, sebentar lagi kita pulang. Sekalian, urus administrasinya." titah Ellard memotong pembicaraan Gerry.


Gerry mendengus, "Pokoknya aku minta bonus 3x lipat! Itu sebagai biaya soalnya makin hari kau makin seenaknya saja." tukas Gerry dengan tersenyum smirk.


Mata Ellard memicing, kini giliran Ellard yang menyeringai.


"Tidak masalah. Tapi ..." Ellard menjeda ucapannya. "Tapi kau harus siap 1x24 jam setiap aku membutuhkanmu." ujarnya membuat mata Gerry melotot tak percaya, begitupun Zola yang baru kali ini melihat sisi lain suaminya itu. Cara bicaranya yang dingin dan tegas . Wibawanya sungguh mencerminkan seorang pemimpin hebat membuat Zola meneguk ludahnya kasar. Zola sampai bergumam dalam hati, benarkah ini pria ini yang telah dinikahinya?

__ADS_1


...***...


...Happy reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2