Suamiku Si OB Ganteng

Suamiku Si OB Ganteng
Ch 38 Cerita


__ADS_3

Sebuah mobil Rolls Royce berwarna hitam baru saja terparkir dengan sempurna di depan sebuah gedung perusahaan yang mengelola salah satu marketplace terbesar dan nomor 1 di benua Amerika. Tak lama kemudian, dari dalam sana, turun seorang wanita anggun dan masih terlihat sangat cantik di usia yang sudah mencapai kepala 5.


Wanita itu berjalan dengan anggun memasuki gedung perusahaan dengan ditemani seorang perempuan yang usianya sedikit lebih muda. Semua pasang mata tampak menatap dengan penuh rasa kagum seraya menundukkan kepalanya sebagai tanda penghormatan kepada sang wanita yang mereka kenal sebagai nyonya besar Miguel.


Di dalam ruangannya, Ellard tampak sedang sibuk dengan pekerjaannya. Matanya tampak fokus menatap layar komputer dengan jari jemari yang bergerak dengan lincah mengetik entah apa di sana. Hingga dering ponselnya menginterupsi fokusnya pada benda berbentuk segi empat itu.


"Hmm ... " sahut Ellard saat tau sang penelepon.


'Kenapa nggak langsung ke ruangan aja sih?'


Gerry mendengus kesal karena sahutan Ellard yang hanya berupa gumaman.


"Kamu bisu, Ell?" sinis Gerry.


"Jangan banyak bicara, katakan saja ada apa! Kalau tidak ada, segera lanjutkan pekerjaanmu!" tegas Ellard kalau sedang bekerja mode on.


"Ck, dasar atasan menyebalkan.!" cibir Gerry. "Ell, ada aunty Arriana di bawah. Dia baru datang." ujar Gerry membuat Ellard tersentak hingga sontak berdiri.


"Are you serious?" tanya Ellard mencoba meyakinkan ia tak salah dengar.


"Aku tidak sedang dalam mode bercanda. I'm so serious." tegas Gerry membuat Ellard memijit pelipisnya.


"Ger, cepat kau sambut kedatangan mommy ku di depan lift . Jangan sampai mommy menyebutkan namaku." titahnya. Ellard khawatir sang mommy menyebut nama Ellard di depan Zola sehingga membuat penyamarannya selama ini terbongkar.


Gerry pun segera berlari menuju pintu lift lantai teratas itu setelah Ellard menutup panggilannya.


Ellard pun lantas segera memakai maskernya untuk berjaga-jaga bila sang mommy meminta Zola melakukan sesuatu.


Tak lama kemudian, terdengar suara lift berdenting, tampak Arriana keluar dari sana dan menyunggingkan senyum saat melihat Gerry menyambutnya.


"Selamat siang, nyonya. Silahkan!." ujar Gerry dengan sopan seraya membungkukkan sedikit badannya.


"Selamat siang juga Gerry. Lama tidak melihatmu. Apa kabarmu?" tanya Arriana seraya melangkahkan kakinya menuju ruangan Ellard.


"Kabar saya baik nyonya." sahut Gerry yang kini berjalan di belakang Arriana.


"Baguslah. Ellard ada?" tanya Arriana.


"Ada nyonya. Tuan muda Miguel sedang berada di ruangannya."


Seketika langkah Arriana terhenti. Gerry yang terkejut melihat langkah Arriana yang terhenti tiba-tiba, sontak juga ikut berhenti.


"Ulang lagi kata-katamu tadi!" titah Arriana.


"Ng ..." Gerry mencoba mengingat kata-kata terakhirnya. "Ada nyonya. Tuan muda Miguel sedang berada di ruangannya." ucap Gerry ragu-ragu.

__ADS_1


"Tuan muda Miguel?" tanya Arriana dengan mengerutkan keningnya.


Paham maksudnya, Gerry segera menjawab.


"Iya nyonya, Ellard meminta semua karyawannya memanggilnya tuan muda Miguel." ujar Gerry menjelaskan.


"Kenapa?" tanyanya penuh selidik.


"Saya juga kurang tau nyonya. Saya hanya mengikuti perintah saja ." sahut Gerry sopan.


Arriana hanya menganggukkan kepalanya lalu kembali melanjutkan langkahnya menuju ruangan Ellard.


Zola yang melihat kedatangan Arriana lantas berdiri kemudian sambil menundukkan kepalanya.


"Sekretaris baru?" tanya Arriana pada Zola.


"Iya nyonya. Saya sekretaris baru tuan muda Miguel." jawab Zola.


Arriana pun tersenyum lalu menepuk pelan pundak Zola membuat Zola mendongakkan wajahnya dan membalas senyum itu.


Gerry yang telah berdiri di depan ruangan Ellard lantas mengetuk pintu, kemudian membukanya. Ia mempersilakan Arriana masuk ke ruangan Ellard diikuti asisten pribadi Arriana.


"Hai, son, sibuk?" sapa Arriana.


"Lumayan mom. Kenapa mommy tidak mengabari terlebih dahulu sebelum ke sini?" tanya Ellard setelah mencium pipi Arriana.


"Bukan begitu, hanya saja bagaimana kalau Ell sedang tidak ada di kantor kan sia-sia mommy kesini." ucap Ellard. "Untuk wanitaku, mommy tenang saja, tak lama lagi pasti Ell akan mengenalkannya. "


"Kau tidak sedang membohongi mommy kan?" tanya Arriana dengan tatapan menyelidik.


Ellard mendengus pelan, "Ellard tidak berbohong, mom. Untuk apa coba?"


"Oh, ya, mommy mau tanya dari tadi, mengapa kau memakai masker saat bekerja?" Arriana mengerutkan keningnya, merasa ada sesuatu yang janggal dengan putranya itu.


"Ell memang sengaja untuk merahasiakan wajah Ell saat ini. Lebih nyaman saja kalau sedang di luar." sahutnya santai.


Arriana membulatkan matanya mendengar jawaban aneh Ellard. "Aneh!" cibir Arriana. "Baiklah, mom kasi kamu waktu 2 Minggu untuk membawa wanitanya itu, bila tidak, mom akan jodohkan kamu dengan Raline, ingat itu." ancam Arriana membuat Ellard membulatkan matanya.


"Mom ..." sergah Ellard.


"Enough. No debate! Okay!" pungkas Arriana sebelum meninggalkan ruangan Ellard.


...***...


Kini Zola dan Roland sedang makan siang berdua. Tadinya Zola ingin mengajak Keira, tapi entah sepertinya hubungannya dengan Keira sulit untuk diperbaiki. Keira menolak ajakan Zola, hingga Zola terpaksa hanya makan berdua dengan Roland. Maksud Zola mengajak sahabatnya itu untuk menjelaskan hubungannya dengan Ellard. Mereka memilih makan siang di sebuah Cafe yang letaknya di seberang kantor tujuannya agar pembicaraan mereka tidak dicuri dengar orang lain.

__ADS_1


"Jadi, kau bisa jelaskan Zo tentang foto itu? Aku yakin, kau bukan perempuan seperti yang mereka duga. Tapi kalau kau tak menjelaskan, siapa pun akan berpikir ke arah sana." ucap Roland setelah mereka selesai menyantap makan siangnya.


Zola menghela nafas pelan lalu menghembuskannya. Ia menatap lekat wajah Roland, meyakinkan dirinya bahwa pilihannya ini benar, yaitu menceritakan peristiwa malam itu dengan Roland. Ia harap sahabatnya itu dapat mengerti.


"Kami sudah menikah, Land." ucap Zola to the point, tanpa basa-basi.


Roland yang sedang meminum kopinya lantas menyemburkan kembali isinya, karena terkejut atas pernyataan Zola.


"Hah! Kamu tidak sedang bercanda kan, Zo?" ucap Roland setelah mengelap sisa kopi yang ada di bibirnya.


"I'm so serious. Kami memang telah menikah belum lama ini. " ucapnya tanpa ragu.


"Tapi kenapa? Kenapa tiba-tiba? Kenapa tidak ada yang tau?"


"Tidak tiba-tiba, sebenarnya Ellard telah memintanya beberapa kali, ku pikir tidak ada salahnya apalagi ia sangat baik padaku dan sudah beberapa kali menyelamatkan ku."


"Zo, mengapa harus orang lain? Bukankah kau tau, aku sudah lama menunggumu?" ujar Roland dengan nada lemah.


"Maaf, Land. Aku tak bisa. Aku yang hanya bersahabat denganmu dan tak pernah menghiraukan perasaanmu saja bisa membuat Keira seperti itu, apalagi bila kita menikah." ujar Zola sambil terkekeh. " Lagi pula , aku memang harus menikah dengannya karena ada beberapa hal yang membuat kami jadi terikat tapi maaf aku tidak bisa menceritakannya." Zola tidak jadi menceritakan kejadian malam itu. Biarlah itu jadi rahasianya dan Ellard. Orang lain tak perlu tau.


Roland menghela nafas pasrah. "Apa sekali pun kau tak pernah memiliki rasa sedikit pun padaku?" tanya Roland dengan tatapan sendunya.


"Maaf, Land. Aku selama ini hanya menganggapmu teman dan tidak lebih. " ujar Zola pelan membuat Roland terdiam.


"Apa kau mencintainya?"


"Aku belum tau tapi yang pasti dia dapat membuatku sangat nyaman." ujar Zola.


"Kalau dia? Apa dia mencintai mu?"


Zola seketika tersenyum lebar , wajahnya langsung berbinar, kemudian ia mengangguk dengan pasti. " Hmm ... dia mencintaiku. Doakan kami ya! Aku juga akan mendoakan mu agar segera menemukan seseorang yang mampu mencintai mu dengan tulus." ucap Zola membuat Roland tersenyum tipis.


"Semoga."


...***...


Selesai makan siang, Zola pun segera kembali ke kantor. Belum tiba di ruangannya, tiba-tiba Gerry memanggilnya dan menyerahkan setumpuk map berisi berkas-berkas yang harus segera Ellard tanda tangani.


"Zo, tolong antarkan berkas-berkas ini! Aku sedang sibuk. Tidak masalah kan?" pinta Gerry.


Zola tersenyum lalu mengangguk pasti. Ia meraih setumpuk berkas-berkas itu dan membawanya menuju ruangan Ellard. Baru saja ia tiba di depan ruangan Ellard, tiba-tiba ia berdiri mematung kemudian memutar langkahnya kembali ke ruangan Gerry. dan meletakkan berkas-berkas itu membuat Gerry terkejut.


"Zo, Kenapa?" tanya bingung.


"Bisa kau serahkan sendiri? Aku tiba-tiba sakit perut." ucap Zola singkat lalu ia segera pergi dari ruangan itu membuat Gerry bertanya-tanya apalagi saat melihat mata Zola memerah seperti ada yang disembunyikannya.

__ADS_1


...****...


...Happy reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2