
Seorang wanita yang masih terlihat cantik biarpun usianya sudah mulai senja, tampak memasuki sebuah bank ternama di LA dengan anggun. Ia tak henti-hentinya mengumbar senyum manisnya kepada setiap karyawan bank yang berpapasan dengannya. Lalu dengan penuh rasa percaya diri yang tinggi, ia duduk di salah satu kursi dan berhadapan langsung dengan teller bank tersebut.
"Selamat siang, nyonya. Ada yang bisa saya bantu?" tanya karyawan bank itu sopan dengan senyum terukir indah di bibirnya.
"Ah, iya, saya ingin mencairkan cek ini, bisa?" tanya Catherine lembut seraya menyerahkan sebuah cek.
Teller bank itu menerima cek tersebut dengan senang hati lalu mengamatinya dengan seksama. Dahinya mengernyit, sambil melirik Catherine yang tampak begitu bahagia.
'Ah, akhirnya aku akan menjadi miliarder! Persetan dengan Jordan dan minimarket kecilnya itu. Setelah berhasil mencairkan cek itu, aku akan mengajak Clara berkeliling dunia.' gumamnya dengan senyum bahagia sejuta Watt yang tak pupus dari bibir merahnya.
Setelah mendapatkan cek kosong itu, tanpa ragu-ragu Catherine menulis cek itu dengan nominal yang fantastis. Tentu ia takkan melewatkan kesempatan emas untuk mendulang dollar dalam jumlah fantastis. Bahkan ia tak peduli dengan Jordan, yang ia pikirkan sekarang hanyalah bersenang-senang dan berkeliling dunia menggunakan uang dari atasan putrinya tersebut. Ia yakin, uang itu merupakan kompensasi dari tindakan kekerasan yang dilakukan atasan Clara. Ia tidak masalah dengan hal tersebut. Justru ia senang, hanya karena sedikit memar, atasan Clara bersedia membayar mahal sebagai rasa tanggung jawab. Ia juga sudah menyimpan hasil visum untuk jaga-jaga kalau ia kehabisan uang dan ia bisa memanfaatkan hasil visum itu untuk memeras Ellard.
Yang jadi pertanyaan, apakah ia bisa?
"Maaf nyonya, karena nominal ini sangatlah besar, saya tidak berani mencairkannya. Jadi saya permisi sebentar untuk meminta bantuan manager saya." ujar karyawan bank itu sopan.
Catherine yang sudah tak sabar menikmati uang jutaan dolar tersebut, lantas mengibaskan tangannya ke udara dengan dagu terangkat.
"Cepatlah! Aku tidak punya banyak waktu menunggu karyawan rendahan seperti dirimu." ujar Catherine angkuh.
Lalu karyawan bank itu menunduk sopan, "Terima kasih, nyonya. Mohon tunggu sebentar!" ujarnya yang hanya direspon Catherine dengan kedikkan bahu saja.
Tak lama kemudian, karyawan bank tadi datang dengan seorang pria tampan yang merupakan manager Bank tersebut.
"Selamat siang, nyonya. Saya Ben, manager Bank ini. " ujar Ben memperkenalkan diri secara sopan. Namun, respon Catherine justru berdecak sinis.
"Tak usah basa-basi, cepat lakukan tugasmu sekarang! " bentak Catherine membuat orang-orang di dalam ruangan itu mengalihkan pandangannya ke arah Catherine karena suaranya yang keras. Catherine hanya memandang jengah semua orang itu. "Apa kalian? Tidak pernah melihat perempuan cantik dan kaya raya, hah!" geramnya membuat orang-orang tadi terkekeh sinis.
"Cih, sombong." ejek seorang wanita yang duduk di kursi tunggu.
"Dasar, orang miskin!" balas Catherine sambil menyeringai.
"Bagaimana? Sudah belum?" tanya Catherine yang sudah tak sabar lagi ingin melihat uang yang jumlahnya tak pernah ia lihat seumur hidupnya.
"Maaf nyonya, apa benar Anda ingin mencairkan uang senilai 1 juta dollar?" tanya manager itu memastikan.
"Tentu saja. Kenapa? Apa bank ini tidak menyediakan uang cash sebanyak itu?" tanya Catherine. "Kalau tidak ada, kalian bisa memindahbukukan uang tersebut ke rekening bank milikku." ujar Catherine.
"Apa benar cek ini berasal dari tuan muda Ellard Miguel?" tanya manager itu.
__ADS_1
Catherine mengangguk pasti. Lalu manager itu melakukan panggilan telepon kepada Ellard yang merupakan nasabah prioritas di bank itu. Setelah melakukan panggilan telepon, manager itu menelepon security bank yang berjaga di luar. Tak lama kemudian, 3 orang security berbadan besar masuk dan menundukkan kepala ke arah manager Bank tersebut.
"Tangkap wanita itu! Dia melakukan penipuan menggunakan cek palsu atas nama tuan muda Ellard Miguel, nasabah prioritas kita. Serahkan dia kepada pihak yang berwajib agar ia mendapatkan hukuman yang setimpal!" titahnya lagi.
Mata Catherine membulat sempurna. Ia sontak berdiri hingga kursinya berderit dan terguling ke belakang.
"Apa-apaan ini? Penipuan? Kau mengatakan aku melakukan penipuan? Apa kau gila? Aku tidak melakukan penipuan. Itu cek asli yang aku dapatkan sendiri dari atasan putriku." seru Catherine tidak terima dituduh penipu.
"Tidak mungkin tuan muda Ellard Miguel memberikan anda cek senilai ini, nyonya. Memangnya kau itu siapa, hah! Lagipula, cek ini palsu. Kau pikir kau dapat menipu kami." seru manager bank itu kesal melihat Catherine yang bukannya mengakui kesalahannya, tetapi justru membuat keributan.
"Dasar penipu. Miskin aja belagu." ejek wanita yang duduk di kursi tunggu tadi.
"Diam kau, brengs*k!" bentaknya pada wanita itu. "Lepas! Lepaskan aku brengs*k! Dasar bajing*n, lepaskan cepat atau aku akan membuat perhitungan pada kalian semua. Lepasss!" teriak Catherine sambil meronta-ronta saat kedua tangannya dipegangi security bank.
Namun, bagaimana pun Catherine melakukan perlawanan, tetap saja tenaganya tak seimbang. Bahkan kini penampilannya sudah berantakan. Tak butuh waktu lama, Catherine telah diserahkan ke kantor polisi setempat untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.
Seperti tak kehabisan tenaga, di kantor polisi pun Catherine tetap meronta dan mengamuk. Bahkan ia sampai melakukan perlawanan saat ada polisi wanita yang mencoba menenangkannya sehingga ia terpaksa diborgol lalu dimasukkan ke dalam penjara.
"Ini pasti rencanamu kan gadis sialan. Kau pasti meminta bantuan kekasihmu itu untuk menjebakku. Tunggu saja, aku akan menghabisimu dan kekasihmu itu. Aaargh ... " desis Catherine dengan gigi bergemeletuk penuh emosi kemudian berteriak membuat polisi di sana geleng-geleng kepala.
Ia menduga, Zola lah yang merencanakan ini. Bukannya ia sadar semua adalah buah dari perbuatannya, tapi ia tetap saja menyalahkan Zola.
...***...
"Andai kau melihatnya, mungkin kau akan sakit perut, Ell. Dia persis orang gila karena tak henti-hentinya berteriak." ujar Gerry sambil tergelak. Ya, siang itu, atas perintah dari Ellard memang ia mengikuti semua gerak-gerik Catherine. Bahkan saat di dalam bank pun ia melihat bagaimana Catherine dengan begitu sombongnya memaki karyawan dan manager bank tersebut. "Oh ya, aku sempat merekam sedikit bagaimana ia mengamuk saat diseret ke kantor polisi." ujar Gerry seraya menunjukkan sebuah video di ponselnya.
Ellard makin terbahak hingga sudut matanya basah.
"Sebenarnya itu belum apa-apa dibandingkan penderitaan Zola selama ini karena perbuatannya. Tapi untuk sementara ini cukup. Aku akan memberikan pelajaran satu per satu kepada mereka yang telah membuat hidup Zola-ku menderita." desis Ellard sambil menyeringai.
Gerry pun turut mendukung apa yang akan dilakukan Ellard sebab menurutnya mereka memang pantas mendapatkan hukuman atas perbuatannya kepada Zola.
...***...
Pagi ini, tidak seperti biasanya, Zola tampak masih asik bergelut dengan selimut. Padahal matahari sudah mulai meninggi membuat Ellard khawatir melihatnya. Ellard lantas menyingkap selimut yang membalut tubuh Zola dan memeriksa suhu tubuhnya.
"Normal. Ah, mungkin ia kelelahan karena deadline event yang tinggal 2 hari lagi." pikir Ellard.
Ellard memberikan kecupan hangat di dahi Zola, lalu ia berjalan menuju dapur untuk menyiapkan sarapan . Tak lama kemudian, terdengar suara langkah kaki memasuki dapur. Lalu sepasang tangan ramping memeluk tubuh Ellard dari belakang membuat Ellard terkekeh karena Zola tampak begitu asik mendusel hidungnya ke punggung telanjang Ellard. Ya, saat ini Ellard hanya mengenakan celana pendek untuk menutupi aset berharga yang membuktikan bahwa dirinya adalah pria tulen sejati.
__ADS_1
"Hmm ... halo kucing manisku! Sudah bangun, hm?"
"Miaow ..." sahut Zola pura-pura jadi kucing membuat Ellard makin terkekeh.
"Wah, kucingku sudah pintar menjawab rupanya!"
"Hubby, aroma tubuhmu harum sekali, aku suka." ujar Zola sambil mengecupi punggung Ellard membuat Ellard salah tingkah hingga menegang.
"Sweety, jangan memancingku!" tukas Ellard dengan suara serak sebab gairahnya yang mulai terpancing.
"Aku kan kucing dan kau ikannya, jadi aku sedang memancingmu untuk aku makan." tukas Zola seraya terkekeh geli.
"Oh, jadi kau sengaja, hm!" Ellard lantas segera mematikan kompor dan membalik tubuhnya hingga berhadapan dengan Zola.
Dipandanginya wajah polos Zola yang baru bangun tidur. "Cantik." pujinya membuat Zola tersipu malu.
Lalu Ellard mengangkat tubuh Zola ke atas meja makan, sebelah tangannya ia selipkan di belakang tengkuk Zola, lalu ia mulai menyatukan bibir keduanya. Ellard memagut bibir Zola dengan mesra, disertai dengan luma tan. Zola membuka sedikit celah bibirnya, memberikan akses bagi Ellard untuk melesatkan lidahnya dan mulai mengabsen setiap sudut rongga mulut Zola. Lidah mereka berdua saling bertaut, tanpa rasa jijik mereka bertukar saliva. Sedangkan tangan sebelahnya, sepertinya tak mau tinggal diam. Ia bergerak dengan liar mere mas apa saja yang dapat membangkitkan gairahnya. Kini bibir Ellard telah berpindah ke area leher. Ia memberikan jejak basah di sepanjang jalur yang dilewatinya disertai hisapan membuat jejak strawberry tercetak jelas dari leher hingga ke bagian aset kembar Zola. Zola mengerang dalam buaian kenikmatan, gairahnya sudah naik ke permukaan.
"Ell ... " Zola melenguh seraya menyebutkan nama Ellard.
Tak mau membuang waktu, Ellard membopong tubuh Zola ke kamar lalu merebahkannya dengan perlahan. Ia melucuti semua yang menempel ditubuhnya maupun Zola. Lalu mereka pun melanjutkan percintaan pagi mereka dengan gairah yang menggebu.
"Olahraga pagi yang menyenangkan." bisik Ellard saat mereka selesai melakukan percintaan pagi mereka. Zola hanya tersenyum malu sembari bersembunyi di balik selimut. Ellard pun memeluk tubuh Zola dengan erat. Beruntung hari ini weekend, jadi mereka bisa menghabiskan waktu mereka berdua dengan bermalas-malasan. Namun, tiba-tiba perut Zola berbunyi, membuat Ellard tergelak saat mengetahui ternyata istrinya itu tengah kelaparan.
"Ini salahmu yang memancing ikan ini sehingga acara memasakku jadi tertunda. Kalau tidak, kita tentu sudah makan dari tadi." ejek Ellard membuat Zola mencebikkan bibirnya.
"Jangan salahkan aku! Salahkan saja ikan ku ini yang begitu mudah dipancing. Jadi ikan, sekarang segera selesaikan acara memasakmu sebab kucing manismu ini sudah sangat kelaparan." tukas Zola seraya membuat ekspresi imut membuat Ellard tak bisa berhenti tersenyum bahagia.
"Siap kucing manisku. Love you. cup ..."
"Love you too, ikan." ujar Zola seraya terkekeh.
...***...
Halo kakak2 sekalian, othor kan ikutan lomba update tim, jd mohon bantuan votenya yah!
Caranya tinggal klik banner ungu itu trs kasi vote pakai poinnya.
Makasih kak. 🙏🥰
__ADS_1
...Happy reading 🥰🥰🥰...