Suamiku Si OB Ganteng

Suamiku Si OB Ganteng
Ch.40 Aku mencintaimu, Ell.


__ADS_3

"Bagaimana dok, keadaannya?" tanya seorang perempuan kepada dokter yang baru saja keluar dari ruang rawat pasien.


"Keadaannya belum stabil. Luka-luka di tubuhnya tidak terlalu serius. Hanya kakinya saja yang sedikit terkilir. Dia terkena hipotermia, mungkin karena terlalu lama kehujanan." ujar dokter itu menjelaskan. Dan perempuan itu mengangguk paham.


"Boleh saya masuk, dokter?" tanya perempuan itu. Dokter mengangguk pasti dan mempersilahkannya.


Perempuan itu pun masuk ke dalam ruangan serba putih itu. Lalu ia mengambil tempat untuk duduk di sebuah kursi yang disediakan di samping brankar. Tampak seorang perempuan cantik sedang terlelap setelah menjalani beberapa perawatan.


Sesaat sebelumnya,


Zola mengemudikan motornya begitu kencang tak tentu arah. Yang ingin ia lakukan sekarang adalah menenangkan diri berharap semua pikiran buruknya segera hilang. Sebenarnya ia bisa saja langsung meminta penjelasan kepada Ellard, tapi ia tunda hal tersebut. Pikirannya sedang benar-benar berkecamuk. Ia pikir tak apalah menenangkan diri sejenak sembari menerobos derasnya hujan.


Tapi cuaca yang kian dingin hingga menusuk tulang, ditambah pakaiannya yang telah basah sempurna, membuat kesadarannya mulai hilang, penglihatannya pun kian mengabur. Alhasil , ia kehilangan kontrol atas motornya hingga ia menabrak pembatas jalan. Motornya tergelincir di bahu jalan, menimpa sebagai kakinya.


"El ... lard ..." lirih Zola lalu ia tak sadarkan diri.


Tak lama kemudian, sebuah mobil BMW berwarna hitam melewati jalanan basah itu. Saat sang sopir melihat ada sebuah sepeda motor yang tergeletak, membuatnya penasaran. Ia memicingkan mata sembari memperlambat laju kendaraannya. Sang sopir pun membelalakkan matanya saat melihat ada seseorang yang tertimpa motor itu dan sepertinya orang itu dalam keadaan pingsan. Seseorang yang duduk di kursi belakang pun bertanya pada sopirnya, apa yang ia lihat. Lalu sopir itu pun memberitahu apa yang ia lihat. Perempuan itu pun turut penasaran. Lalu meminta sopirnya itu membantu Zola yang sudah pingsan. Setelah berhasil membantu Zola, perempuan itu meminta sopirnya mengantarkan mereka ke rumah sakit.


...***...


Ddrrddd ...


Ponsel perempuan itu bergetar, lalu ia pun segera keluar dari ruang rawat Zola dan bergegas mengangkat panggilan itu.


"Hallo mom." ucap perempuan itu.


"Hallo sayang, kau dimana? Ini sudah hampir malam. Mengapa belum pulang, sayang?" tanya ibu perempuan itu.


"Sorry, mom, Raline sedang berada di rumah sakit ..."


"Apa??? Kau sakit apa, nak? Apa yang terjadi padamu?" cecar mommy Raline.


Raline terkekeh pelan, "Raline tidak sakit, mom. Raline tidak apa-apa, jangan khawatir. Raline hanya menolong seseorang yang mengalami kecelakaan. Raline belum bisa meninggalkannya sebab Raline belum bisa menghubungi keluarganya. Soalnya dia masih belum sadarkan diri, mom." ujar Raline menjelaskan pada Rose, mommy Raline.


Rose menghela nafas lega saat tau bukan putrinya yang dirawat di rumah sakit.


"Syukurlah, kau membuat mom cemas, nak. Ya sudah, kalau keluarganya sudah datang, kau segera pulang ya." pesan Rose yang diiyakan Raline. Setelah tak ada lagi yang ingin dibahas, Raline pun menutup panggilan teleponnya dan masuk kembali ke ruang rawat Zola.

__ADS_1


Sedangkan di tempat lain, setelah mendapatkan informasi dari suruhannya tentang keberadaan Zola, Ellard dan Gerry pun segera melajukan mobilnya menuju rumah sakit dimana Zola dirawat. Ellard begitu panik saat mengetahui wanitanya itu terluka dan sedang dirawat. Tak mau buang waktu, Ellard melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, beruntung hujan sudah reda sehingga ia tak kesulitan mempercepat laju kendaraannya.


Setibanya di rumah sakit, Ellard langsung menuju meja resepsionis untuk menanyakan keberadaan korban kecelakaan atas nama Zola. Setelah tau dimana Zola dirawat, Ellard pun dengan tergesa mencari ruangan itu. Setelah ketemu, tanpa ragu, Ellard langsung menerobos masuk membuat Raline yang sedang menunggui Zola berjengit kaget.


"Ellard ... Gerry ..." seru Raline saat melihat Ellard masuk ke ruangan itu, disusul Gerry.


Tak menghiraukan seruan Raline, Ellard langsung menuju brankar dan menggenggam tangan Zola yang masih terasa dingin.


"Sweety, aku mohon bangun. Maafkan aku. Jangan seperti ini! Maafkan aku yang tidak jujur padamu. Sayang, bukalah matamu." lirih Ellard. Mata Ellard sudah memanas dan berkaca-kaca. Sekali kedip saja, air mata Ellard pasti langsung jatuh.


Raline yang berdiri di samping brankar seketika membeku. Ia benar-benar terkejut, ia tak menyangka akhirnya ia bisa bertemu dengan wanita yang berhasil menaklukkan hati seorang Ellard Miguel dengan cara seperti ini.


Melihat Raline yang tampak membeku memperhatikan Ellard, Gerry pun segera menghampirinya sambil menepuk pelan bahunya. Raline pun lantas menoleh ke arah Gerry. Gerry menyunggingkan senyum yang dibalas senyum tipis oleh Raline. Gerry mengajak Raline duduk di sofa tak jauh dari brankar. Ia ingin menanyakan kronologis kecelakaan Zola.


"Kau pasti ingin menanyakan tentang kecelakaan perempuan bernama Zola itu kan?" tebak Raline. Ia sudah tau nama Zola dari kartu identitas yang ada di dalam dompetnya.


"Hmm ... Bisa kau ceritakan!" pinta Gerry. Tak lama kemudian, Ellard pun menyusul duduk di sofa tunggal yang bersebelahan dengan Gerry.


"Aku tidak tau kronologis kecelakaannya sebab bukan aku pelakunya dan aku pun tidak melihat bagaimana kejadiannya. Saat kami temukan, gadis itu tengah pingsan di pinggir jalan dengan sebagian kakinya tertimpa motor. Aku pun meminta sopirku membantunya masuk ke dalam mobil lalu membawanya ke mari." jelas Raline.


"Menurut dokter, bagaimana keadaannya?" tanya Ellard. "Tidak ada hal buruk yang menimpanya, bukan?" Terlihat jelas raut khawatir di wajah Ellard.


"Kalian kalau ingin pulang, pulang saja. Aku akan menunggui Zola di sini." ujar Ellard.


"Tapi kau butuh baju ganti, Ell. Bajumu basah semua. Begini saja, nanti aku kemari lagi untuk mengantarkanmu pakaian ganti." ujar Gerry yang juga mengkhawatirkan keadaan sahabatnya itu. Ellard mengangguk lalu kembali duduk di kursi samping brankar Zola. Lalu Gerry melirik Raline, "Kau pulang dengan siapa?" tanya Gerry.


"Aku naik taksi saja. Sopirku tadi sudah ku minta pulang terlebih dahulu sebab pakaiannya sudah basah semua." ujar Raline sembari mengambil tas selempangnya.


"Mari ku antar." ucap Gerry singkat.


Raline menoleh, "Terima kasih, tak perlu repot-repot, tapi aku bisa pulang sendiri." ucapnya lembut. Ia tak mau merepotkan Gerry.


Gerry yang anti penolakan, langsung menarik tangan Raline. Raline tersentak, tak percaya pada tindakan Gerry yang semaunya.


"Lepas!" Raline berontak dalam genggaman tangan Gerry.


Tapi Gerry tak menggubris hal itu. Ia justru semakin memanjangkan langkahnya agar segala urusannya lekas selesai, tak peduli pada langkah Raline yang terseok-seok.

__ADS_1


"Hei, kau ingin aku mati ya!" bentak Raline membuat Gerry menoleh.


Nafas Raline sudah tersengal-sengal karena harus mengimbangi langkah Gerry.


"Kau lihat sepatuku!" tunjuknya pada kakinya. Gerry yang tak mengerti hanya mengerutkan keningnya. "Aku sedang memakai heels, bila dipaksa berjalan seperti dirimu, kakiku sakit, bodoh." Raline segera menutup mulut dengan sebelah tangannya karena keceplosan mengumpat. "Itu gara-gara kau!" tunjuknya pada Gerry. "Dan, kau tau, tanganku sakit kau tarik seperti itu." cicit Raline yang hampir menangis membuat Gerry terkejut dan langsung memeriksa pergelangan tangan Raline.


"Maaf, maafkan aku. Aku hanya ingin semuanya cepat selesai." ujar Gerry seraya mengusap pergelangan tangan Raline yang memerah.


Raline hanya mengangguk dengan mata berkaca-kaca.


"Maafkan aku, ya! Mari aku antar. Hari sudah cukup malam. Tidak aman bagimu naik taksi seorang diri." tukas Gerry seraya mengusap puncak kepala Raline membuat Raline mendongak membuat mata mereka bersirobok. Lalu Raline mengalihkan pandangannya ke arah lain membuat Gerry tersenyum.


"Ayo, kita pulang!" Kini Gerry menggandeng tangan Raline dengan lembut. Tidak ada penolakan dari Raline membuat Gerry tenang.


Saat Gerry dan Raline sudah keluar, barulah Ellard bisa dengan leluasa memeriksa tubuh Zola yang kini sudah memakai pakaian khusus pasien. Diusapnya pelipis Zola yang terbalut perban, lalu ditelusurinya lengan Zola yang tampak lecet, kemudian kaki, hingga bagian kaki kiri yang terbungkus gips membuat hati Ellard perih.


Ellard membungkukkan sedikit tubuhnya, lalu mengecup kaki yang berbalut gips itu dengan sayang.


"Lekas sembuh sayang. Aku merindukanmu." bisik Ellard tepat di telinga Zola , lalu ia mengecup pelipis Zola dan beralih ke bibir. Kemudian, Ellard duduk di kursi yang ada di samping brankar. Ingin rasanya Ellard naik ke atas tempat tidur dan memeluk tubuh Zola yang masih dingin, namun pakaian yang ia kenakan masih basah, bukannya menghangatkan, bisa-bisa ia malah membuat Zola makin kedinginan.


Beberapa saat kemudian, Ellard yang sedang terlelap akibat kelelahan, sontak terbangun saat merasakan pergerakan jemari Zola yang ada di genggamannya. Ellard lantas berdiri, matanya berbinar seketika saat melihat mata Zola yang telah terbuka. Baru saja ia hendak memanggil dokter, tapi Zola mencegahnya.


" Sweety, kau sudah sadarkan diri?" tanya Ellard dengan mata berbinar. "Aku panggil dokter dulu ya!" imbuhnya lagi tapi Zola menggeleng.


"Ell ..."lirih Zola membuat Ellard mendekat dan memeluk Zola.


"Maafkan aku, Zo. Maafkan kesalahan ku. Kau bebas ingin marah padaku, tapi kau harus sehat dulu ya! Aku akan jelaskan semuanya nanti. Kau tau, aku sangat mengkhawatirkanmu." ujar Ellard.


Zola tersenyum. Lalu diperhatikannya pakaian Ellard yang terlihat lembab.


"Kau habis hujan-hujanan? Ini pasti karena kau mencariku. Maafkan sifatku yang kekanakan, Ell!" ujar Zola sendu.


Ellard menggenggam erat tangan Zola dan mengecupnya.


"Ini bukan salahmu, Zo! Ini semua salahku. Andai aku jujur sejak awal, semua ini pasti takkan terjadi. Maafkan aku." lirih Ellard dengan mata berkaca-kaca membuat Zola makin yakin kalau pria yang ada di hadapannya ini benar-benar mencintainya.


"Aku mencintaimu, Ell." lirih Zola seraya tersenyum lemah membuat Ellard tiba-tiba membeku di tempatnya karena tak percaya dengan apa yang di dengarnya.

__ADS_1


...***...


...Happy reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2