Suamiku Si OB Ganteng

Suamiku Si OB Ganteng
Ch.37 Keira


__ADS_3

Motor Zola dan Ellard kini telah sampai di basemen apartemen. Dengan senyum lebar, Ellard merangkul pinggang Zola dengan erat membuat tubuh mereka menempel sempurna.


"Ell ... " pekik Zola saat Ellard menarik pinggangnya tiba-tiba. Ellard justru terkekeh geli melihat mata melotot Zola.


"My lovely Wifey, melotot aja cantik apalagi tersenyum." goda Ellard.


Zola mendengus lalu memencet hidung Ellard dengan kuat, "Receh banget. Belajar gombal dari mana tuh?" ejek Zola .


Ellard tidak tersinggung dengan ejekan Zola, ia justru mencium pipinya tanpa ragu saat tiba di depan lift membuat Zola makin melotot.


"Apaan sih, Ell? Malu ih!" desisnya.


"Malu? Aku hanya mencium pipi bukan bibir, kenapa malu? Kau lihat mereka, bahkan lebih parah dariku." ujarnya sambil menunjuk ke depan sebuah apartemen. Tanpa rasa malu, entah mereka sepasang kekasih atau suami istri, mereka justru saling mencumbu dengan begitu agresif, seperti sudah tak dapat lagi membendung hasrat yang terlanjur membara.


Zola segera memalingkan wajahnya saat melihat kegiatan yang tak seharusnya dilakukan di depan umum itu.


"Kenapa wajahmu memerah, hm? Kau mau juga." goda Ellard.


"Mes*m banget ih!"


"Mesumin istri itu wajar, bahkan bisa meningkatkan kemesraan, kalau mesumin istri pacar atau istri orang lain, baru kurang ajar." sahut Ellard santai.


"Ya, kalau kau berani berbuat seperti itu, jangan harap bisa bertemu denganku lagi." desis Zola dengan tatapan mengancam.


"Tak perlu kau ingatkan, baby. Itu takkan terjadi dan takkan mungkin terjadi. You are only one and only. " bisik Ellard setibanya mereka di depan apartemen Zola.


Saat pintu terbuka, tanpa aba-aba, Ellard langsung mendorong masuk tubuh Zola dan menutup pintu dengan kakinya hingga mengeluarkan bunyi yang begitu nyaring.


Zola tersentak melihat Ellard yang sudah mengungkung tubuhnya di balik pintu yang sudah tertutup rapat. Kedua tangan Ellard berada di sisi kanan dan kiri kepalanya, sedangkan wajah Ellard telah berada tepat di depan wajahnya. Nafas hangat Ellard berhembus tepat di depan hidungnya, membuat Zola seketika meremang. Bagaimana bisa hanya menghirup nafasnya saja bisa membuatku melayang, pikir Zola tapi itulah faktanya. Belum lagi aroma khas tubuh Ellard yang sangat maskulin, mampu membuat kinerja otaknya melemah, tubuhnya meremang, nafasnya menderu.


"Sepertinya kau sudah siap menerima serangan ku, baby." bisik Ellard parau . Bahkan suaranya pun sudah serak pertanda hasratnya yang telah terbakar.


Lalu Ellard mulai mencumbu bibir merah muda Zola dengan lembut disertai sedikit lum*t*n. tangannya tak tinggal diam, ia mulai menjelajahi segala sisi dan inci tubuh Zola, termasuk aset kembar Zola yang terasa nyaman dan pas di genggamannya hingga membuat Zola mend*s*h nikmat.


"Ell ... " desisnya saat cumbuan itu beralih ke leher jenjangnya.


"Yes, baby ..." sahutnya sambil tersenyum saat melihat cap strawberry berhasil di buatnya di leher Zola.


"Aku ... belum mandi ... " ujar Zola seraya m*ndes*h


"No, problem."

__ADS_1


"Tubuhku ... lengket."


"Aku juga."


"Nanti aku bau, kamu nggak suka."


"Aku suka, apapun yang ada padamu, aku suka. Ssst ... jangan bicara lagi. Kita lanjut di kamar, oke!" bisik Ellard tepat di depan daun telinga Zola.


Lalu tanpa aba-aba, Ellard mengangkat tubuh Zola menuju kamar mereka untuk melanjutkan apa yang seharusnya mereka lanjutkan sebagai pasangan yang telah sah di mata hukum dan agama.


...***...


Keesokan harinya,


Pagi hari yang biasanya dihiasi suara gaduh sapa menyapa para karyawan, kini justru dihiasi suara gaduh surat peringatan yang tergeletak di beberapa meja karyawan kantor. Mata mereka membelalak saat melihat surat peringatan itu. Mereka pikir itu sekadar ancaman asisten Gerry saja agar berhenti menggosipkan Zola, tapi nyatanya pagi ini semua yang dikatakan asisten Gerry menjadi kenyataan.


"Bagaimana ini?" karyawan yang mendapatkan surat peringatan itu panik.


"Mulai sekarang kita tidak boleh ceroboh lagi dan yang terpenting jangan sampai membicarakan Zola lagi. Ini berbahaya. Lihat, tertulis di sini bila kita sampai melakukan kesalahan untuk kedua kalinya maka kita akan dipecat secara tidak hormat dan di-blacklist dari semua perusahaan. Tentu ini bukan perihal main-main. Aku tidak mau sampai dipecat dari sini. Kau tahu kan gaji di sini sungguh fantastis."


"Kau benar. Aku salut dengan Zola. Bagaimana bisa ia seperti sangat dilindungi seperti ini. Bahkan kita yang hanya menggosipkannya saja mendapatkan surat peringatan. Aku jadi penasaran siapa yang menyebarkan foto itu sebab nomor yang mengirim foto itu tidak ada dalam kontak ku. Bahkan sepertinya nomor itu masih baru dan sengaja digunakan untuk menyebarkan foto-foto Zola. Apa dia akan mendapatkan surat peringatan juga ya?"


...***...


Brakkk ...


"Ro ... Roland ..." ucap Keira terbata saat melihat Roland telah berdiri di depannya dengan rahang mengeras menahan amarah.


"Jelaskan padaku, apa maksudnya ini?" desis Roland seraya melemparkan sebuah amplop putih tepat di wajah Keira.


"I ... itu apa?" tanyanya terbata. Ia baru saja datang jadi ia belum tahu informasi terkini yang tengah heboh di perusahaan.


"Aku tidak menyangka, ternyata kau musuh dalam selimut, Kei! Sebenarnya apa salah Zola hingga kau menyebarkan foto-foto itu? " bentak Roland.


"Foto apa?" tanyanya Ragu.


Roland tersenyum sinis, "Bukankah kau yang sudah mengirim foto-foto Zola ke grup perusahaan? Foto itu diambil di kawasan apartemen kalian, siapa lagi yang tau keberadaan Zola selain kau." desis Roland.


"Itu bukan aku, Land! Aku benar-benar tidak tau." kilahnya.


"Kalau kau tidak tahu, mana mungkin surat ini datang ke meja mu." ucap Roland seraya menunjuk surat peringatan untuk Keira.

__ADS_1


Keira pun bergegas membuka amplop putih itu dan membuka kertas yang terlipat di dalamnya. Keira seketika membelalakkan matanya saat membaca surat peringatan tersebut. Ia tak menyangka perbuatannya akan semudah itu ketahuan. Padahal ia sudah sangat berhati-hati dan menggunakan nomor lain yang tidak dikenali.


"Masih mau berkilah,hm?" desis Roland tajam.


"Land, aku hanya ingin membuka kedok Zola yang sebenarnya. Ternyata kita selama ini telah tertipu wajah polosnya. Kau lihat, dengan tidak tahu malunya Zola berangkulan mesra dengan seorang OB bahkan ia membawanya masuk ke dalam apartemen miliknya. Kau pasti paham apa yang biasa dilakukan lelaki dan perempuan saat berdua saja seperti itu di ruangan tertutup." Keira mencoba menjelaskan pada Roland.


"Mau Zola melakukan apapun itu bukan hakmu untuk menghakiminya. Lagi pula kalau pun itu memang benar, apa hakmu untuk ikut campur. "


"Tapi aku hanya ingin kau tidak tertipu lagi dengan wajah polosnya. Kau lihat sekarang, bahkan hanya karena masalah sepele, asisten Gerry sampai turun tangan bila itu yang berhubungan dengan Zola, jangan-jangan, Zola kini telah berubah menjadi gadis panggilan atau gadis penggoda. Dia juga bisa dengan mudahnya menjadi sekretaris CEO, jangan-jangan juga, CEO kita juga merupakan salah satu pelanggannya." seru Keira mencoba membuat Roland berpaling dari Zola. Ia kesal, bertahun mengejar Roland, tapi tak sedikit pun Roland membalas perasaannya. Jangankan membalas, melirik pun enggan.


"Kei, jadi menurut penilaianmu aku seperti itu?" ucap Zola dengan suara sendu mengejutkan Roland dan Keira yang tengah beradu argumen itu. "Kukira kita benar-benar sahabat, tapi ternyata ..." Zola menghela nafasnya, "Terima kasih Land, kau masih mau membelaku. Tapi percayalah, aku tidak seperti itu." lirih Zola lalu ia pun pergi meninggalkan kedua orang itu yang tengah membatu di tempat.


Sekembalinya dari ruangan Keira, Zola langsung menghempaskan tubuhnya di meja kerjanya. Ia menangkupkan kedua tangannya di wajah. Zola menangis tersedu. Ia tak menyangka, orang yang dikira sahabatnya ternyata hendak menusuknya dari belakang. Ia mulai berpikir, apa jangan-jangan peristiwa yang ia alami di club malam waktu itu adalah perbuatan Keira juga. Ia berharap tidak. Beruntung ia tidak menceritakan keseluruhan peristiwa yang ia alami di malam itu. Bila tidak, bisa jadi saat ini ia makin menjadi bahan olok-olokan semua karyawan Shoppa Lova.


Seperti biasa, Ellard kini tengah memperhatikan Zola dari layar laptopnya. Ia mengerutkan keningnya saat melihat Zola menangis. Ellard pun segera memutar rekaman posisi Zola terakhir sebelum menangis. Ellard tersenyum sinis, saat tau siapa dalang wanitanya itu sampai menangis.


Lalu ia mengetikkan sebuah pesan kepada Gerry yang saat ini sedang berada di luar. 30 menit kemudian, dengan nafas tersengal-sengal, Gerry datang dengan seikat bunga mawar merah di tangannya. Lalu ia menghampiri meja Zola.


"Hai Ger, itu ..." Zola menyapa Gerry yang kini berdiri di depan mejanya, namun tatapannya malah beralih ke buket bunga mawar yang dipegang Gerry.


"Ini ... " ucapnya terhenti karena ingin menarik nafas terlebih dahulu, "Ini titipan Ellard. Katanya, jangan bersedih lagi. Okay." ucap Gerry seraya menyerahkan seikat bunga mawar kepada Zola membuat Zola tersenyum manis. Lalu ia mencium aroma bunga itu. Senyumnya makin merekah saat aroma bunga itu telah memenuhi indra penciumannya.


"Thanks , Ger." ucapnya tulus yang dibalas lambaian tangan oleh Gerry.


'Dasar atasan nggak ada akhlak! Orang lagi dimana dipaksa beli bunga dalam waktu 30 menit. Emangnya Superman, bisa terbang secepat mungkin. Dia yang punya istri, kita yang repot. ' gerutu Gerry setibanya di ruangannya.


Tring ...


Bunyi pesan masuk di ponsel Gerry. Gerry pun segera membuka pesan itu. Matanya seketika melotot tak percaya, saat membaca pesan itu.


💌 Berani mengoceh, potong gaji.


Lalu ia membalik badan ke arah kamera CCTV yang ada di ruangannya.


"Mau motong gaji? Enak aja. Orang sudah susah payah masih mau diancam. Dasar temen nggak tau terima kasih." dengus Gerry sambil menunjuk ke arah kamera CCTV. di ruangannya.


...***...


...Happy reading 🥰🥰🥰...


,

__ADS_1


__ADS_2