Suamiku Si OB Ganteng

Suamiku Si OB Ganteng
Ch.43 Pulang


__ADS_3

Kini Zola dan Ellard sedang dalam perjalanan pulang dengan Gerry sebagai sopir dan tentunya Raline duduk di sebelahnya. Selama perjalanan diisi dengan percakapan antara Zola dan Raline. Ternyata Raline orangnya cukup menyenangkan diajak ngobrol. Raline tampak antusias menceritakan pengalamannya menempuh pendidikan di beberapa negara di dunia. Ia bisa bersekolah di beberapa negara sebab pekerjaan sang ayah yang menjabat sebagai seorang konsul mengharuskannya untuk tinggal di negara tempat ia ditugaskan. Ayahnya yang tidak mau berpisah dengan anak dan istri, membuatnya selalu memboyong anak dan istrinya kemanapun ia bertugas. Alhasil, riwayat pendidikan Raline bukan hanya di satu negara tapi beberapa negara.


Saat sedang asik mengobrol, Zola menoleh ke luar jendela mobil. Ia merasa aneh, ini bukanlah jalan yang biasa mereka lalui. Ia pikir, apakah Gerry membawa mereka melewati jalan lain , tapi jalan yang mereka lalui memang benar-benar asing sebab sepanjang jalanan yang mereka lewati, berdiri bangunan-bangunan tinggi menjulang dan megah, membuat Zola bertanya-tanya.


"Ger, kok lewat sini? Kita mau kemana sih?" tanya Zola pada Gerry yang sedang sibuk dengan kemudinya.


Gerry melirik Zola, namun ia malah mendapat tatapan tajam dari seseorang yang duduk di samping Zola membuatnya berdecak kesal.


"Tanya aja sama si gunung Himalaya!" tukas Gerry sambil membalas lirikan Ellard. "Untung orang seperti dia cuma satu, kalau lebih, bisa habis nih rambut harus menghadapi pegunungan Himalaya." cibir Gerry, sedangkan orang yang dicibir hanya acuh tak acuh seraya membuka beberapa email di Ipad-nya.


"Ell, kita mau kemana sih?" tanya Zola seraya menarik ujung lengan kemeja Ellard.


Ellard menoleh lalu mengelus sayang puncak kepala Zola membuat Gerry mendengus karena harus melihat secara langsung ke-uwuan dua sejoli itu. Atau yang lebih tepatnya melihat Ellard dalam mode butiran salju yang begitu lembut terhadap Zola.


"Nanti kamu liat sendiri, Sweety. Mulai hari ini kamu akan tinggal di sana dengan begitu tidak ada lagi yang bisa jadi paparazi dadakan yang cuma bisa membuat gosip murahan." pungkas Ellard dengan tersenyum hangat.


Raline hanya bisa melongo melihat kelembutan dan kehangatan sikap Ellard pada Zola melalui rear vision mirror. Gerry justru tersenyum tipis saat melihat wajah melongo Raline yang menatap sikap Ellard yang bisa berubah 360° saat di hadapan Zola.


"Kenapa?" tanya Gerry seraya berbisik kepada Rali.


Raline yang merasa terpergok memperhatikan pasangan sontak gelagapan dengan wajah memerah membuat Gerry tersenyum geli.


"Udah, tidak usah malu. Aku yang liat beginian tiap hari aja masih suka shock, apalagi yang masih baru kayak kayak kamu." ungkap Gerry pelan nyaris berbisik. Untung Ellard sedang sibuk merayu Zola, kalau tidak pasti Ellard sudah mendelik tajam pada dirinya yang sedang menggosipkannya.

__ADS_1


"Tapi disitulah kelebihannya, Ger. Hal itu justru membuktikan betapa besar cinta Ellard pada Zola sebab hanya Zola yang bisa meluluhkannya. Selain itu, Zola akan semakin yakin kalau ia benar-benar dicintai tanpa meragu sedikit pun sebab sikap Ellard ke Zola begitu istimewa, berbeda dengan sikap Ellard kepada orang lain." tukas Raline membuat Gerry kini paham bagaimana seharusnya bersikap kepada orang lain. Ramah memang perlu, tetapi kita harus tetap menjaga jarak. Apalagi bagi yang sudah memiliki pasangan, tentu harus bisa membedakan cara bersikap antara pada pasangan dengan orang lain.


...***...


Mobil yang membawa Ellard dan Zola kini telah berhenti di depan sebuah apartemen super mewah dan megah. Zola yang baru pertama kali menginjakkan kaki di tempat seperti itu hanya bisa berdecak kagum. Namun ia berusaha bersikap biasa saja. Ia tidak mau dikatakan norak oleh Ellard, Gerry, dan Raline.


"Kalian tidak ikut turun?" tanya Zola pada Gerry dan Raline. Lalu mereka menggeleng sambil tersenyum.


"Kami mau ke suatu tempat, Zo. Bukannya ada yang harus kalian ..."


"Ekhem, ayo Sweety, kita naik ke atas." potong Ellard membuat Gerry mendengus kesal sebab setiap dia ingin bicara pada Zola pasti dipotong.


Raline hanya bisa terkikik geli melihat Gerry yang selalu dibuat kicep oleh Ellard.


"Nasib kamu menyedihkan banget sih, Ger punya atasan kayak gitu." ejek Raline membuat Gerry menatapnya tajam.


Gerry dan Raline lantas saling bertatapan sebentar, lalu saling mengalihkan pandangannya dengan salah tingkah.


"Bye ..." seru Zola dengan pinggang yang telah dirangkul Ellard.


"Bye, Zo. Sampai jumpa lagi." seru Raline dengan senyum lebarnya. "Pantas aja Ellard bisa luluh dengan Zola, selain cantik, Zola juga sangat baik dan ramah." puji Raline seraya memandangi Ellard dan Zola yang masuk ke dalam lift.


"Ayo, ikut aku!" ajak Gerry.

__ADS_1


"Kemana?" tanya Raline penasaran.


"Cafe. Mau?"


"Hmm ... oke. Kamu traktir ya!" ujar Raline sambil tersenyum manis.


"No problem." sahut Gerry ." Tapi habis itu kamu harus temenin aku jalan-jalan." lanjutnya.


"Hah!" seru Raline tak percaya.


Ellard dan Zola kini telah berada di lantai tertinggi apartemen. Di lantai itu hanya tersedia satu unit apartemen yaitu milik Ellard seorang. Setibanya di depan pintu, Ellard langsung menempelkan sidik jarinya hingga pintu pun terbuka secara otomatis. Lalu Ellard mendorong Zola masuk ke dalamnya. Setelah pintu tertutup, Ellard langsung memeluk tubuh Zola dari belakang dan mengecup tengkuknya membuat Zola meremang seketika.


"Ell ..." lirih Zola membuat Ellard tersenyum.


Lalu Ellard melepas pelukannya dan membawa Zola untuk duduk di sofa . Sedangkan Ellard bersimpuh di depan kaki Zola membuat Zola mengerutkan dahinya.


"Zo, i'm so sorry."


.....


...***...


...Lanjut besok ya! Othor lg migrain, gk bisa konsen ngetik. 😓...

__ADS_1


...***...


...Happy reading n happy weekend 🥰🥰🥰...


__ADS_2