Suamiku Si OB Ganteng

Suamiku Si OB Ganteng
Ch. 53 Mengapa


__ADS_3

Clara kini telah berada di rumah sakit. Ia dibawa ke rumah sakit oleh Regan. Gerry dan Zola bahkan hampir seluruh karyawan Shoppa Lova bertanya-tanya sebenarnya apa yang terjadi dengan Clara. Bagaimana ia bisa pingsan di ruangan Ellard.


"Hubby, sebenarnya apa yang terjadi? Mengapa Clara ada di ruanganmu? Lalu kenapa ia bisa pingsan seperti itu?" cecar Zola yang sudah sangat penasaran.


"Iya Ell, kau harus menjelaskan pada kami, sebenarnya apa yang terjadi?" timpal Gerry. Kini Gerry sedang duduk bersisian dengan Raline. Ya, Raline sengaja datang menemui Gerry untuk mengantarkannya makan siang.


Ellard mengangkat kedua alisnya lalu menghembuskannya nafas panjang. Ia pun tak menyangka, reaksi Clara setelah mengetahui identitas dirinya sampai membuatnya pingsan.


"Dia mencoba menggodaku." ujarnya singkat.


"Hah! Kamu serius!" seru Zola, Raline, dan Gerry bersamaan.


"Perlu bukti?" tanyanya


"Lalu ?" kini Raline pun tak menutup rasa penasarannya.


"Aku mencengkram rahangnya dan membuka identitasku sebenarnya." sahut Ellard santai sambil menghempaskan bokongnya di samping Zola. Bahkan tanpa rasa malu, Ellard mencuri satu kecupan di bibir Zola membuat Raline menganga, sedangkan Gerry mengumpat kesal.


"Emang nggak papa kamu bongkar identitasmu sekarang?" tanya Gerry penasaran.


Ellard mengedikkan bahunya acuh, "Aku sudah mengancamnya, kalau sampai ia buka suara, maka aku akan segera memberinya pelajaran." tukas Ellard dengan sorot mata tajam.


Di saat Ellard, Zola, dan Gerry sedang berbincang santai, di sebuah rumah sakit, tampak Catherine begitu panik saat mendapat kabar dari Regan kalau Clara masuk rumah sakit. Catherine bahkan mencecar Regan dengan berbagai macam pertanyaan mengenai alasan putrinya tersebut pingsan.


"Re, jelaskan pada mom, mengapa Clara bisa sampai pingsan seperti ini?" tanya Catherine sembari menggenggam tangan Clara. Wajah Clara terlihat pucat. Catherine datang bersama Jordan, tapi Jordan hanya diam sambil duduk di kursi yang ada di dekat brankar Clara.


"Aku juga tidak tau, mom alasan Clara pingsan . Saat Gerry menghubungi dan memintaku segera ke ruangan CEO, aku lihat Clara sudah tergeletak di lantai tak sadarkan diri." tutur Regan yang juga penasaran.


"Apa CEO kalian sudah melakukan kekerasan pada Clara? Lihatlah, rahang Clara terlihat merah seperti memar, sepertinya ini dicengkeram dengan kuat ." ujar Catherine sambil memperhatikan rahang Clara.


"Aku yakin, ini pasti ada hubungannya dengan gadis sialan itu. Pasti ia yang meminta CEO kalian menyakiti Clara." ujar Catherine bersungut-sungut. Tampak kilat amarah di matanya.


"Jangan sembarangan berasumsi! Ingat, dia bukan orang sembarangan. Bila kau macam-macam dan sampai membuatnya marah, aku tidak ikut bertanggung jawab." tegas Jordan.


"Justru karena dia bukan orang sembarangan, Jor, jadi kota bisa menuntutnya. Kita bisa melakukan visum untuk menekannya dan melakukan apa yang kita minta." seringai Catherine. Otak liciknya mulai bekerja tak mempedulikan sergahan Jordan.


"Kau mau kemana? Jangan macam-macam, Cath!" sergah Jordan. Bahkan Jordan sudah berdiri hendak mencegah Catherine membuat masalah kepada seseorang yang bukan lawannya.


"Ck ... kau ini, Jor! Aku hanya ingin pergi ke cafetaria. Aku mengantuk. I need a cup of coffee untuk mengatasinya." dusta Catherine. Tentu ia sedang merencanakan niat liciknya.

__ADS_1


Jordan menghela nafas lega. Ia pikir Catherine akan membuat masalah dengan CEO tempat putrinya bekerja. Sebenarnya ia juga penasaran alasan putrinya itu pingsan. Ia memang sempat mendengar cerita Catherine tentang Zola yang menjalin hubungan dengan dua pria sekaligus, yaitu OB di sana dan atasannya. Ia berpikir, apa mungkin hal ini ada hubungannya dengan Zola? Mungkinkah Zola meminta kekasih sekaligus CEO mereka untuk membuat perhitungan dengan Clara? Tapi ia pikir lagi itu tak mungkin, sebab Zola bukanlah gadis seperti itu. Bahkan ia sedikit meragukan bahwa Zola tengah menjalin hubungan dengan dua pria sekaligus. Jordan memijit pelipisnya, ia bingung mana yang harus ia percaya.


Catherine keluar dari ruangan perawatan Clara dengan tersenyum lebar. Dari dulu, Jordan selalu berhasil ia kelabui. Entah Jordan yang bodoh atau Catherine yang terlampau licik, yang pasti ia selalu berhasil dalam misinya. Ia pun yakin, kali ini pun akan berhasil.


...***...


Kini Catherine telah berdiri di depan gedung Shoppa Lova. Ia menatap gedung tinggi menjulang itu dengan pandangan kagum. Lalu Catherine melangkahkan kakinya masuk ke dalam gedung itu dengan penuh percaya diri. Ditanyakannya keberadaan CEO Shoppa Lova tersebut pada seorang resepsionis. Setelah mendapatkan izin, Catherine pun naik menggunakan lift menuju ruangan Ellard.


Zola mengerutkan keningnya saat melihat keberadaan Catherine di sana. Ia pikir, hanya namanya saja yang menyerupai, tapi ternyata Catherine yang disebut resepsionis itu benar-benar ibu dari Clara. Malas berurusan dengan Catherine, Zola langsung saja mempersilahkan ia masuk ke ruangan Ellard sesuai perintah Ellard. Entah apa maksud dan tujuan kedatangannya, tapi Zola yakin ia pasti berhubungan dengan Clara.


"Selamat datang nyonya, apa ada yang bisa saya bantu?" tanya Ellard to the point saat melihat Catherine masuk ke ruangannya. Bahkan tanpa dipersilahkan, Catherine telah duduk terlebih dahulu di sofa ruang kerja Ellard.


"Wah wah wah, sepertinya dirimu memang orang yang to the point." sarkas Catherine.


"Yah, untuk orang-orang seperti dirimu, memang aku tak butuh basa-basi. Jadi katakan tujuan kedatanganmu?" ucap Ellard dengan mata memicing dengan kedua siku tangannya ia tumpu di atas meja dan telapak tangannya ia jadikan tumpuan dagunya.


Aura intimidasi begitu kentara di ruangan itu. Walaupun wajahnya tertutup masker, tapi Catherine tetap bisa merasakan tatapan tajam penuh intimidasi dari Ellard. Tapi bukan Catherine namanya bila merasa takut.


Catherine tersenyum miring, "Baguslah kalau kau tak suka basa-basi dengan ku jadi langsung saja. Aku minta penjelasanmu, apa yang terjadi dengan anakku?"


"Benar kau ingin tau?" ucap Ellard dingin membuat bulu kuduk Catherine tiba-tiba berdiri.


Ellard terkekeh renyah membuat Catherine merasakan aura mengerikan di ruangan itu.


"Kau tau aku paling benci dengan perempuan penggoda. Apalagi ia bahkan rela melakukan berbagai cara termasuk merendahkan dirinya sendiri. Nah, begitu pula dengan putrimu itu. Ia mencoba menggodaku dan aku hanya membela diri dengan mencengkram tangan kurang ajarnya itu yang berani memegang tanganku dan rahangnya yang berani mengucapkan kata-kata menjijikkan. Belum lagi, kelakuannya yang suka merendahkan Zola, apa yang aku lakukan belum ada apa-apanya dari segala penderitaan yang telah berikan kepada Zola."


"Jadi semua karena perempuan sialan itu?" terka Catherine murka.


"Jangan mengumpati Zola dengan mulut kotormu itu, sialan!" seru Ellard murka bahkan ia sampai menggebrak meja kerjanya. "Atau aku akan membungkam mulutmu hingga tidak bisa bicara kembali."


Jantung Catherine tiba-tiba berdebar tidak beraturan. Tubuhnya bergidik ngeri sendiri saat melihat bagaimana murkanya seorang Ellard.


"Mengapa kau marah, hah!! Itu memang kenyaataannya.!" ujar Catherine. Setengah mati ia menahan diri agar tidak hilang kendali. Tubuhnya sudah bergetar hebat, namun ia belum mau kalah.


"Ambil itu." Ellard melemparkan sebuah kertas kecil kosong namun sudah ada tanda tangannya.


"Ini ..." Catherine meraih kertas itu dengan sumringah . Ia tak menyangka, tanpa ia pinta, Ellard sedang santainya menyerahkan sebuah cek kosong yang bebas ia isi nominal berapa pun.


"Ah, kau sungguh pengertian, tuan. Kalau begitu, aku bebas bukan mau mengisi nominal berapa pun?" tanya Catherine.

__ADS_1


"Terserah kau saja, tapi mulai hari ini, aku minta kau jangan memperlihatkan wajahmu lagi di hadapanku." tegas Ellard yang mulai jengah melihat keberadaan Catherine.


"Baiklah tuan." sahutnya penuh rasa kebahagiaan.


"Dasar perempuan matre." sinis Ellard saat punggung Catherine sudah tak terlihat lagi. "Tunggu saja, aku akan menghancurkan kalian semua yang sudah membuat Zola menderita." gumam Ellard dengan mata berkilat amarah dan kebencian.


...***...


Kini Ellard dan Zola telah dalam perjalanan pulang. Namun di perjalanan, Ellard memperhatikan wajah Zola yang tampak sedikit pucat. Ia khawatir dengan kesehatan wanitanya itu.


"Kau sakit, sweety?" tanya Ellard seraya mengusap sayang pipi Zola.


Zola menggeleng, "Tidak Ell, aku hanya sedang merasa lelah. Aku yakin, setelah beristirahat, aku akan pulih kembali." ujar Zola sambil mengulas senyum.


Ellard pun tersenyum lembut seraya mengusap puncak kepala Zola penuh kasih.


"Baiklah, kalau kau merasa tak enak badan, katakan, hm. Aku tidak mau kau sampai sakit." tutur Ellard lembut sarat perhatian.


"Baiklah, hubby. cup ..." sahut Zola lalu ia mengecup pipi Ellard sekilas kemudian ia memejamkan mata selama perjalanan pulang.


...***...


Di rumah sakit,


"Kau dari mana Cath?" tanya Jordan . "Tidak mungkin kau minum kopi sampai berjam-jam kan!" sinis Jordan.


"Ah, a-aku tadi mendadak sakit perut jadi aku bolak-balik kamar mandi." dusta Catherine. Jordan tau Catherine berbohong, tapi ia enggan bertanya lebih lanjut. "Bagaimana keadaan Clara? Apa ia sudah siuman?" tanya Catherine setelah meletakkan tasnya ke atas nakas.


"Tadi ia sudah sadarkan diri, namun ia tak mau bicara sepatah katapun. Ia hanya diam, bahkan saat aku bertanya, ia tetap diam." ujar Jordan sambil menyugar rambutnya kasar.


Lalu Catherine menghampiri brankar Clara, "Sayang, kau kenapa hm? Apa yang terjadi padamu? Katakanlah!" ujar Catherine lembut. Clara membuka mata dan menatap wajah Catherine. Lalu ia memalingkan wajah, ia sedang enggan bicara. Ia masih cukup shock dengan kenyataan yang baru saja dilihatnya. Bila ia katakan apa yang dilihatnya itu pada Catherine, bukan hanya itu akan membuatnya malu karena dikalahkan oleh Zola, tapi ia juga khawatir dengan ancaman Ellard. Jadi ia lebih memilih bungkam.


"Cla, what happened?" tanya Catherine lagi dengan sorot mata penuh kekhawatiran.


Clara hanya menggeleng sambil menatap ke arah lain.


'Mengapa? Mengapa perempuan itu harus Zola? Apa sih istimewanya dia? Bahkan sampai sekarang, Regan pun belum bisa melupakannya. Setelah aku berhasil merebut Regan darinya, kini ia justru dinikahi Tuan Muda Miguel. Mengapa Zola bisa seberuntung itu?' gumam Clara dalam hati sambil mengepalkan tangannya. Hati Clara terlampau dikuasai sifat iri dan dengki, jadi ia tidak senang saat melihat orang lain bahagia, terutama orang itu adalah Zola, saudara seayah dirinya sendiri.


...***...

__ADS_1


...Happy reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2