
Hari demi hari Jordan kini diisi dengan kekosongan. Kesibukannya sehari-hari hanyalah seputar mengurus minimarketnya yang berjumlah 3 cabang, setelah itu pulang ke rumah. Jordan juga kini memiliki kegiatan rutin yang beberapa bulan ini ia tekuni, yaitu mengunjungi makam mendiang istri pertamanya, Marrie, mommy dari Zola.
Memang benar, penyesalan itu selalu datang di akhir. Seperti saat ini, Jordan hanya bisa meratapi kesalahannya di masa lalu yang membuat Marrie dan Zola menderita, bahkan ia baru tau bahwa Catherine penyebab Marrie meninggal. Awalnya ia masih peduli dengan Catherine, tapi setelah ia tau bahwa Catherine lah yang membunuh Marrie, ia jadi marah dan kecewa. Bagaimana bisa ia dulu begitu mencintai wanita seperti Catherine. Catherine begitu pandai bersandiwara. Ia juga pandai membulak-balikkan fakta hingga akhirnya ia terbuai dan termakan bujuk ragu Catherine.
Oleh sebab itu, sudah beberapa bulan ini, ia tidak pernah mengunjungi baik Catherine maupun Clara dan Regan. Ia harap, orang-orang itu segera menyadari bahwa perbuatan mereka salah selama ini. Sebelum semuanya terlambat dan menyisakan penyesalan seperti dirinya. Hidup sendiri kesepian tanpa ada orang terkasih menemani.
Sebelum pulang, Jordan meletakkan seikat bunga mawar putih di atas makam Marrie. Tanpa sadar air matanya mengalir. Ia usap batu nisan di depannya dengan penuh penyesalan. Ia sungguh menyesali perbuatannya di masa lalu padahal Marrie begitu mencintainya. Bisakah waktu diputar kembali agar Jordan bisa memperbaiki semuanya? Sayangnya tidak bisa. Jordan hanya bisa meratapi penyesalan yang tak berarti.
"Untuk apa Anda di makam ibu saya?" tutur Zola yang tiba-tiba saja sudah berdiri di belakang Jordan. Jordan tersentak kaget. Lalu ia mengusap kasar air matanya dan tersenyum memandang wajah cantik Zola.
Ia aneh, Zola besar tanpa kasih sayang orang tua tapi ia bisa tumbuh besar menjadi gadis yang baik, sedangkan Clara justru jadi gadis dengan pribadi yang buruk. Kesimpulannya, kesalahan ada pada mereka karena terlalu memanjakan Clara hingga memiliki kepribadian yang buruk, mulai dari egois, keras kepala, sombong, ingin menang sendiri, dan masih banyak lagi.
"Dad hanya mengunjungi ibumu, bagaimana pun Marrie adalah istri, Dad, Zo. Kau dengan siapa kemari?" tanya Jordan mengalihkan pembicaraan.
"Sopir." sahutnya singkat lalu Zola meletakkan bunga mawar putih yang memang kesukaan Marrie. Zola mengerutkan keningnya saat melihat ada bunga mawar lain di sana. Ingin ia singkirkan bunga itu, tapi ia takut ibunya sedih sebab semasa hidupnya, Marrie pernah mengatakan merindukan bunga mawar putih pemberian Jordan . Namun sayang, kenapa ayahnya baru memberinya di saat ia sudah tiada.
"Dad tau, ... dulu, mom selalu menunggu kepulangan dad di depan pintu dengan mengulas senyum tipis. Ia selalu menantikan kepulangan dad, mom juga sangat merindukan bunga mawar putih pemberian dad sebab sudah sejak lama dad tidak memberinya bunga kesayangannya itu. Zola benci saat melihat mom menunggu kepulangan dad dengan penuh harap. Padahal ia tau, harapan itu hanyalah harapan kosong sebab dad lebih sibuk dengan 2 wanita ular itu. Tidak pernah mempedulikan mom dan Zo. Dad bisa bayangkan bagaimana perasaan mom saat itu? Zo yang masih sangat kecil pun dapat melihat raut penuh harap di wajah, mom. Namun, wajah penuh harap itu memudar seiring bergantinya waktu. Mom sakit-sakitan hingga puncaknya saat mom dirawat di rumah sakit dan Zo di kamar mandi, tiba-tiba iblis wanita itu datang dan menbekap wajah mommy dengan bantal. Zo sangat takut hari itu. Zo ingin berteriak tapi Zo takut. Dari sana Zo mulai membenci iblis wanita itu." Zola menceritakan kepedihan yang harus ia tanggung seorang diri sejak kecil.
"Mengapa kau tidak menceritakannya pada Daddy?" tanya Jordan dengan alis bertaut.
Lalu Zola membalik badan hingga mereka berhadapan, "Apa mungkin dad akan percaya dengan ucapanku? Apa dad lupa bagaimana selama ini dad memperlakukan ku? Bahkan aku yang setiap hari membersihkan rumah dan memasak tidak diakui. Kau malah memarahi ku karena tidak membantu wanita ular itu padahal yang sebenarnya akulah yang mengerjakan semuanya sendiri. Apa dad pernah mencoba mencari tau kebenarannya? No, dad hanya memuji mereka dan memarahi ku." ujar Zola dengan tersenyum sinis.
"Maafkan Daddy, Zo. Daddy sangat menyesal. Bagaimana dad harus menebus semua kesalahan dad pada mommy dan dirimu?" tanya Jordan dengan penuh kesungguhan.
"Apa dengan menyesal semua yang telah hilang akan kembali? Bukan sebentar Zo mengharapkan dad bisa sedikit adil padaku. Tapi nyatanya, penantian Zo bertahun-tahun tiada artinya. Sedikit pun dad tak pernah mempedulikan perasaan, Zo. Bahkan saat tau Regan dan Clara mengkhianatiku, dad bukannya memarahi mereka dan memelukku. Menenangkan ku, tapi sebaliknya, aku lah dad salahkan. Dad tidak tau bagaimana rasanya hancur sendiri. Di saat itu aku pikir aku masih memiliki sahabat tempat ku berbagi, ternyata dia pun menikamku , dai bekerja sama dengan Clara ingin menghancurkan ku, dad bisa bayangkan bagaimana hancurnya aku saat itu? Aku bersyukur malam kelam itu justru aku diselamatkan Ellard. Dad pikir bagaimana nasibku selanjutnya bila aku jatuh ke tangan pria brengs*k yang hanya ingin menikmati tubuhku? Atau membunuh ku? Mungkin saat itu kau pun akan kembali menyalahkan diriku yang liar dan tak bisa menjaga diri." ujar Zola mengeluarkan isi hatinya selama ini sambil tertawa sumbang.
__ADS_1
Hati Jordan begitu teriris mendengar setiap penuturan Zola tentang bagaimana perasaannya saat itu. Jantung Jordan bak ditikam belati, bagaimana ia sebagai seorang ayah memang tak pernah sekalipun mempedulikan putrinya itu. Mengapa ia begitu buta mata dan buta hati. Andaikan bisa, ia bersedia menukar nyawanya demi mendapatkan maaf dari putrinya itu. Walaupun ia yakin, semua itu takkan bisa menggantikan apa yang telah hilang dan terlewatkan.
...***...
Hari ini adalah hari yang ditunggu-tunggu Gerry dan Raline. Hari dimana mereka akan mengikat janji suci untuk selalu bersama hingga maut memisahkan. Gerry dan Raline baru saja mengucapkan janji suci itu dari atas altar. Kebahagiaan terpancar dari senyum mereka yang sangat lebar.
Sorak sorai dan tepuk tangan memenuhi ruangan tempat diadakannya pesta pernikahan antara Gerry dan Raline saat mereka selesai mengucapkan janji suci itu. Tibalah saat semua undangan bersorak agar Gerry mencium Raline. Dengan tanpa canggung, Gerry menarik pinggang Raline dalam dekapannya lalu dengan perlahan mulai menyatukan bibir mereka
Seisi ruangan jadi makin riuh karena pasangan yang sedang dilanda jatuh cinta itu.
"Sweety, kau nanti ingin perayaan pesta pernikahan yang bagaimana?" tanya Ellard seraya berbisik pada Zola dan tangan saling bertautan.
Zola yang tadinya sedang memperhatikan kemesraan antara Gerry dan Raline pun menoleh hingga hidung mereka saling bersentuhan.
"Tentu aku ingin melakukannya. Aku ingin mengumumkan ke seluruh dunia bahwa wanita cantik yang ada di sampingku ini adalah milikku, the one and only." ujar Ellard sungguh-sungguh.
"Tapi kau lihat, perutku, pasti takkan ada gaun pengantin yang pantas dikenakan dengan perutku yang sedang membuncit ini." ujar Zola seraya terkekeh membayangkan ia memakai gaun pengantin dengan perut yang telah membesar.
"Kita akan meminta designer profesional merancangnya khusus untukmu. Tak ada yang tak mungkin bukan?" ucap Ellard dengan pasti.
"Tapi ... aaargh ..." tiba-tiba Zola meringis.
"Kau kenapa, Sweety?" tanya Ellard panik. Bahkan kini ia sudah berjongkok di bawah kaki Zola searay mengusap perut buncit Zola.
"Perutku sangat sakit, Ell. l" ujarnya sambil meringis. Tampak peluh sebesar biji jagung mulai membanjiri pelipis Zola. Wajah Zola juga makin memuncat.
__ADS_1
"Apa kau sudah ingin melahirkan, sweety?"
"A-aku tidak tau, Ell. Tapi menurut yang aku baca seharusnya rasa sakitnya itu datangnya perlahan, ada frekuensinya, dan jaraknya tidak secepat itu. Tapi yang aku rasakan justru ... aaakh ... Ell, a-apa itu. A-ku basah. Apa a-ku pipis." ucapnya sambil merintih.
Ellard terkejut saat melihat cairan bening telah membanjiri kursi tempat Zola duduk. Bahkan cairan itu sudah membanjiri lantai.
"Zo ... kau tenang ya , sayang. Kita akan segera ke rumah sakit." ujarnya seraya mengecup pelipis Zola.
Dari jauh, Gerry dapat melihat wajah panik Ellard dan wajah merintih Zola. Gerry merasakan pasti terjadi sesuatu. Ia pun izin pada Raline dan para tamu yang sedang berbincang dengannya untuk menghampiri Ellard dan Zola.
"Ada apa, Ell?" tanya Gerry yang kini ikut panik.
"Sepertinya Zola akan segera melahirkan. Aku akan segera ke rumah sakit." ujar Ellard seraya mengangkat tubuh Zola dengan hati-hati.
Gerry yang juga khawatir, mengikuti langkah Ellard. Beberapa tamu yang sudah mengenal Ellard pun ikut penasaran dan mencari tau apa yang sebenarnya terjadi. Saat tiba di dekat mobil, Ellard bingung sebab ia tidak membawa sopirnya.
"Kau duduk saja di belakang bersama Zola, biar aku yang mengantar kalian ke rumah sakit." ucap Gerry mantap.
"Tapi kau ..."
"Kalian lebih penting bagiku saat ini." ucapnya pasti. Lalu ia mengambil kunci mobil yang ada di tangan Ellard dan membantu membukakan pintu belakang. Setelah Ellard dan Zola masuk, baru ia masuk ke kursi kemudi. Dengan segera , Gerry mengendarai mobil itu meninggalkan pesta pernikahannya menuju rumah sakit membuat para tamu termasuk Raline dan orang tuanya melongo tak percaya. Tapi mereka mengerti kekhawatiran Gerry sebab Gerry bukan hanya sebatas asisten pribadi Ellard, tapi juga sahabat yang selalu sedia di saat Ellard membutuhkan.
...***...
...Happy reading 🥰🥰🥰...
__ADS_1