
Setelah mendengar penjelasan dokter, Ellard langsung berhambur ke dalam ruang perawatan Zola. Zola baru saja mengerjapkan matanya. Entah efek kelelahan atau memang mengantuk, saat dalam perjalanan ke rumah sakit tadi, Zola tertidur. Matanya menyipit, menyesuaikan pendaran cahaya yang terasa menyilaukan. Setelah penglihatannya jelas, barulah ia sadar telah ada sosok tinggi, gagah, dan tampan yang sudah berdiri di sampingnya dengan tersenyum lebar.
"Hai mommy! Sudah merasa lebih baik?" ucap Ellard lembut dan hangat. Tersirat kasih sayang tak terhingga dari caranya menatap hingga berbicara.
Zola yang masih setengah sadar, mengerjapkan matanya hingga berkali-kali. Ia merasa bingung. Apakah ia tidak salah dengar? Atau itu hanya perasaannya saja Ellard memanggilnya mommy.
Zola masih berusaha mencerna kalimat yang baru saja keluar dari bibir Ellard. Matanya membulat dengan mulut menganga. Zola terlihat sangat lucu sekali di mata Ellard. Ellard bahkan sampai terkekeh melihat ekspresi cengo Zola.
"Hei, kenapa melamun, hm?" tanya Ellard seraya mengusap puncak kepala Zola.
"Itu tadi, kau memanggilku apa? Bisa kau ulangi?" pinta Zola dengan alis bertaut.
"Ulangi? Yang mana?" goda Ellard. "Aku sudah bicara padamu 2 kali, sweety, jadi yang mana yang kau tanya?" sambungnya lagi.
"Ell, jangan menggodaku terus-terusan!" bibir Zola mencebik kesal. "Cepat, ucapkan lagi! Aku salah dengar atau bagaimana?"
Ellard terkekeh lalu mengecup kening Zola , lalu hidung, mata, pipi, terakhir bibir.
"Ck ... ditanya, bukannya jawab, malah cium-cium." Zola berdecak kesal yang justru membuat Ellard makin gemas.
Lalu Ellard mendekatkan wajahnya ke wajah Zola. Kini wajah mereka berhadapan dengan jarak yang begitu dekat.
__ADS_1
"Hai, mommy! Sudah merasa lebih baik, hm?" ulang Ellard lagi membuat mata Zola tiba-tiba berbinar.
"Ell, maksudmu ..." ucapan Zola terjeda karena tiba-tiba dadanya bergemuruh. Dipandanginya perutnya yang masih rata, "Di sini ..." nafas Zola tercekat , tak mampu melanjutkan kalimatnya.
"Yes, mommy. Di sini ada our baby. Buah hati kita. Buah cinta kita. Our precious baby." bisik Ellard dengan guratan kebahagiaan yang berbinar indah.
Zola bahkan sampai berkaca-kaca mendengar penuturan langsung dari Ellard. Ia sungguh tak menyangka akan sampai di titik ini. Ia tak pernah memimpikan sampai sejauh ini.
Selama menjalani hubungan dengan Ellard, ia hanya menjalaninya bagai air mengalir. Tak banyak berharap, tak banyak bermimpi, sebab segala harap dan mimpi telah lama ia kubur semenjak kegagalan hubungannya dengan Regan.
Kalau Zola ingat, sebenarnya impian dan harapannya telah lama mati, yaitu semenjak kepergian ibunya. Namun, semenjak mengenal Regan, perlahan ia menyemai impian dan harapannya lagi, hingga bertunas, lalu terus tumbuh dan berkembang. Tapi, ranting yang belum kokoh itu, kembali patah saat Regan mengkhianatinya. Akhirnya, Zola kembali menjadi sosok rapuh tanpa mimpi dan harapan. Tanpa keinginan apalagi cita-cita. Hingga akhirnya sosok Ellard datang, menembus dinding pembatas yang ia bangun. Memangkas ranting yang patah menyisakan batang yang kokoh. Lalu ia memupuk dan menyiram akarnya dengan cinta, kasih sayang, dan perhatian. Hingga akhirnya, putik cinta pun tumbuh bersemi dengan indahnya. Bahkan kini , tanpa sadar, telah tumbuh tunas yang baru dalam rahim Zola.
Sungguh Zola sangat mensyukuri pertemuannya dengan Ellard. Walaupun sedikit dibumbui sandiwara, tapi ia tak menyesali itu. Justru ia sangat berterima kasih. Sebab berkat Ellard ia dapat bangkit kembali dari keterpurukan. Ia juga menemukan kebahagiaan yang tak pernah ia rasakan baik dari mantan kekasihnya maupun keluarganya. Baginya, Ellard merupakan hadiah terindah dari Tuhan yang diberikan kepadanya.
Ellard tersenyum bahagia. Sungguh ia tak menyangka ia akhirnya dapat memenangkan hati Zola. Walaupun ia harus merendahkan diri menjadi seorang OB. Dihina, dicibir, hingga diremehkan. Dari yang biasanya memakai pakaian branded, mobil mewah, menjadi berbanding terbalik, harus memakai pakaian biasa dan cenderung murahan, motor butut, jauh dari kata mewah. Tapi bila akhirnya ia berhasil menjadikan Zola miliknya, bukan hanya raga, tapi juga hatinya, ia rela. Karena baginya, Zola adalah harta tak ternilai yang diberikan yang kuasa padanya.
"Justru aku yang harus berterima kasih padamu, sweety. Bila kau tidak membuka hati dan memberikan kesempatan padaku, mungkin kita takkan sampai di titik ini. Kau adalah cintaku, kau adalah bahagiaku, kau adalah masa depanku, tetaplah selalu bersamaku, jadi pendampingku, jadi ibu dari anak-anakku, hanya kamu, satu untuk selamanya." balas Ellard tulus dengan mata saling bertatapan.
Lalu perlahan, wajah Ellard makin dekat dengan wajah Zola, namun saat bibir mereka baru hampir bersatu, terdengar suara pintu yang dibuka secara kasar dari luar membuat mereka sontak saling menarik diri
"Zola ..." seru Arriana dengan wajah panik saat memasuki ruangan perawatan Zola. "Kau tidak apa-apa, sayang?" tanya Arriana dengan nafas memburu.
__ADS_1
Ellard memberengut, sedangkan Zola memasang senyum manis agar ibu mertuanya tidak panik lagi. Ia tahu, dari gesture tubuh dan raut wajah Arriana, sudah dapat dipastikan kalau ia mencemaskan keadaannya.
"I'm okay, mom. Don't worry. Aku hanya tidak emak badan saja sebab kalian akan segera menjadi kakek dan nenek." ujar Zola masih dengan senyum yang bertengger di bibir Zola.
Arriana terkejut mendengarnya, lalu tersenyum riang. Ia bahkan sampai berhambur ke pelukan Zola karena terlalu bahagia.
...***...
Di saat Zola , Ellard, Jhonny dan Arriana tengah berbahagia sebab kehamilan Zola, maka yang terjadi di kediaman Jordan adalah sebaliknya. Clara sibuk mengamuk untuk melampiaskan kekesalan,, kemarahan, dan emosi yang membara di dalam dadanya. Bagaimana tidak marah, ibunya, Catherine harus masuk penjara, kini disusul Regan , membuat emosinya bertambah-tambah.
"Aaargh ..." teriak Clara seraya melemparkan apa saja yang dapat dijangkaunya.
"Clara, tenanglah! Jangan seperti ini!; Hentikan! Percuma kau marah-marah seperti ini. Itu takkan menyelesaikan masalah " tukas Jordan seraya mencengkram kedua bahu Clara untuk menenangkannya.
Mata Clara membeliak tajam menatap Jordan, "Jadi aku harus apa, hah?" bentaknya kesal. "Baiklah, aku akan tenang kalau kau bisa membebaskan mommy. Tapi bila tidak, aku lah yang akan turun tangan langsung untuk menyelesaikannya." tukas Clara penuh penekanan.
Kepala Jordan tiba-tiba berdentum hebat. Inikah sifat asli anak kesayangannya? Bahkan bicara pun tak ada hormat sama sekali. Andai semua tidak serumit ini. Ia pun bingung harus mulai menyelesaikan dari mana.
"Ya, aku harus menemui Zola dan memintanya membujuk suaminya agar melepaskan Catherine dan Regan." pikir Jordan masalah kedua orang itu hanya sederhana saja bahkan cenderung sepele. Dia tidak tau, ada kejahatan yang lebih besar dari yang ia ketahui. Namun sebentar lagi Ellard akan mengungkap semuanya.
...***...
__ADS_1
...Happy reading 🥰🥰🥰...