Suamiku Si OB Ganteng

Suamiku Si OB Ganteng
Ch.62 Baby Girl


__ADS_3

Mobil yang dikemudikan Gerry membelah jalanan dengan kecepatan cukup tinggi. Beruntung saat itu jalanan tidak cukup padat sehingga ia tetap bisa memacunya dengan kecepatan di atas normal. Saat di pertengahan perjalanan, sebenarnya mereka sempat dihentikan oleh satuan polisi karena melewati batas kecepatan maksimal, tetapi setelah memberikan penjelasan, para polisi mempersilahkan mereka melaju dengan kecepatan cukup tinggi.


Hanya dalam waktu 25 menit, akhirnya Gerry berhasil membawa pasangan Ellard dan Zola menuju ke rumah sakit. Tak mau banyak menunggu, setibanya di sana, Ellard langsung menggendong Zola dan meminta bantuan suster yang bertugas agar mengantarkan mereka ke ruangan bersalin. Begitu pula Gerry, selepas memarkirkan mobilnya, dengan tergesa ia mengejar langkah panjang Ellard.


Zola kini telah berada di ruangan bersalin. Ia kini sedang menjalani proses pemeriksaan sebelum menjalani proses persalinan. Sementara Zola di periksa, Gerry segera menghubungi Raline untuk meminta maaf karena meninggalkannya begitu saja di pesta pernikahan mereka. Mungkin banyak orang yang mengumpatinya sebagai mempelai pria konyol karena di hari pernikahannya ia justru pergi mengantarkan Ellard dan Zola ke rumah sakit. Beruntung, Raline dan keluarganya begitu memahaminya. Mereka justru mendukung apa yang ia lakukan sebab Ellard merupakan anak sahabat mereka. Selain itu, Gerry adalah asisten pribadi yang memang tugasnya selalu siap sedia untuk Ellard. Meskipun awalnya Ellard menolak diantarkan Gerry sebab ia pun paham hari ini adalah hari bersejarah bagi Gerry. Namun Gerry tetap bersikeras mengantar, jadilah Ellard menerima dengan pasrah. Salahnya sendiri tadi tidak menggunakan jasa sopir.


10 menit kemudian, Arriana dan Jhonny pun ternyata menyusul. Mereka juga ternyata begitu mengkhawatirkan putri menantunya tersebut. Apalagi yang akan dilahirkan ini adalah cucu yang sangat mereka idam-idamkan. Tentu mereka juga menyambut hari bahagia ini dengan penuh suka cita.


Setelah melakukan pemeriksaan, dokter menyatakan proses persalinan akan berlangsung sekitar 30 menit lagi sebab jalan lahir belum terbuka sempurna. Apalagi Zola lebih memilih melahirkan secara normal. Ia ingin merasakan sensasi rasa sakit itu dengan penuh suka cita. Ini juga merupakan caranya untuk mengenang kembali sang ibu yang juga pasti merasakan rasa sakit yang sama saat ingin melahirkannya dulu.


Di saat rasa sakit yang kian merayap di sekujur perut, pinggang, hingga kaki, tiba-tiba ia mengingat sosok ayahnya. Mata Zola tiba-tiba berkaca-kaca membuat Ellard panik.


"Ada apa, sweety? Apakah rasanya sangat sakit? Maafkan aku , sweety , ini semua salahku." Ellard justru menyalahkan dirinya sendiri sebab ia menganggap dirinya lah penyebab istrinya tercinta merasakan sakit luar biasa.


"No, Ell, bukan karena itu. Kau tidak bersalah. Justru ini bukti rasa cintaku padamu dengan melahirkan buah hati kita, buah cinta kita, harta kita yang paling berharga." ucap Zola lirih sambil meringis menahan sakit yang menusuk-nusuk.


"Jadi mengapa kau tampak begitu sedih, Wifey?" tanyanya lagi yang sudah sangat penasaran. Tangan kanannya menggenggam tangan Zola, sedangkan tangan kirinya mengusap puncak kepala Zola.


"Daddy ... Aku hanya mengingat, Daddy. Entah mengapa, aku tiba-tiba merindukannya." lirih Zola lagi. Bulir-bulir air matanya bahkan telah membasahi pipi sebagai bukti ia benar-benar merindukan ayahnya. Walaupun dan bagaimana pun, Jordan tetaplah ayahnya jadi sangat wajar ia merindukannya. Andai orang tau, dibalik amarahnya pada Jordan, sebenarnya tersimpan rasa rindu yang mendalam. Ada cinta dibalik luka. Menunjukkan sorot mata benci adalah bentuk perlindungan dirinya dari rasa sakit yang bisa kapan saja mendera. Oleh sebab itu, ia menutupi rasa cinta, kasih, sayang, dan rindu itu dengan sorot mata benci, dendam, dan amarah. Hanya Jordan keluarga yang memiliki hubungan darah dengannya, tiada lagi yang lain. Tanpa Jordan, takkan ada Zola sebab Zola ada karena benih dari Jordan.


Ellard yang paham raut kerinduan itu, lantas segera merogoh ponselnya yang tersimpan di balik saku jasnya. Lalu ia mulai mendial nomor ayah mertuanya itu.


"Halo ..." sapa seseorang lembut di seberang sana.


"Dad, ini Ellard." ucap Ellard membuat Jordan diseberang sana terkejut setengah mati sebab ini kali pertama Ellard menyebutnya Daddy. Sontak saja , Jordan tersenyum bahagia karena bisa mendengar panggilan yang begitu indah dari anak menantunya itu.


"Iya, Ell. Apa ada masalah?" tanya Jordan tiba-tiba merasakan sesuatu yang berbeda di benaknya. Rasa khawatir menggelayut padahal Ellard belum memberitahukan apa-apa padanya.

__ADS_1


"Zola akan melahirkan, dad, dan dia begitu merindukanmu. Sepertinya ia sangat ingin bertemu bahkan mungkin ia berharap Daddy bisa ikut mendampinginya di ruang persalinan." ucap Ellard tegas dan jelas. Tentu ia harus mengatakan semuanya dengan tegas dan jelas agar Jordan tidak membuang waktu dan segera menyusul kesana.


"Kirimkan segera alamat dan kamar apa nomor berapa Zola dirawat,!" titah Jordan tegas. Ellard pun segera melakukan apa yang diperintahkan Jordan setelah panggilan ditutup.


Tak menunggu lama, Jordan pun segera menyusul Zola ke rumah sakit . Dengan tergesa, Jordan mencari letak kamar persalinan dimana Zola berada. Setelah melakukan pencarian beberapa saat, akhirnya Jordan berhasil menemukan kamar itu dengan nafas tersengal-sengal sebab ia mencarinya dengan berlarian.


"Tuan Jordan ..." sapa Jhonny yang diresponnya dengan senyuman karena ia tengah begitu panik memikirkan keadaan Zola.


Tak lama kemudian, Ellard keluar sebab ia mendengar sayup-sayup ayahnya menyebut nama Jordan. Ellard pun mempersilahkan ayah mertuanya itu untuk ikutan masuk karena proses persalinan sebentar lagi dimulai.


"Zola putriku ..." panggil Jordan dengan mata berkaca-kaca. Ia tak dapat membendung kesedihan dan air matanya saat melihat putrinya sedang bertarung jiwa dan raga demi melahirkan anaknya.


"Dad ... maafkan Zola yang sudah egois dan keras kepala." ujar Zola seraya terisak.


Jordan pun segera memeluk tubuh Zola yang sudah dibalut pakaian khusus pasien itu.


"Ssst ... kau tidak salah sayang, memang semua salah daddy, jadi sudah sewajarnya kau marah dan menuntut keadilan pada Daddy mu yang bodoh dan tidak adil ini." sergah Jordan seraya mengusap lelehan air mata Zola dengan lembut.


"Dad, Zo merindukan, dad. Selama ini sebenarnya Zola bohong saat mengatakan Zo membenci Daddy, justru sebaliknya, Zo sangat menyayangi daddy dan merindukan Daddy." bahunya berguncang karena tangis.


"Daddy tau sayang, Daddy mengerti. Sekarang kamu bersiap hm, sebentar lagi kau akan melahirkan cucu Daddy. Berjuanglah sayang, Daddy akan menunggu di luar, oke." ucap Jordan mencoba menenangkan.


Zola mengangguk pelan, lalu Jordan menyeka sisa-sisa air mata di pipi Zola dan mengecup keningnya untuk memberikan kekuatan dan keyakinan pada putrinya yang berharga. Ya, Zola adalah putrinya yang berharga, bahkan sangat berharga. Padahal ia hampir tidak ikut andil sama sekali dalam mendidiknya, sebab ia hanya menyediakan hunian dan makanan bagi Zola, namun tidak pernah mendidiknya sebagaimana mestinya, tapi Zola tetap tumbuh dengan baik dan sifat dan sikapnya pun juga baik, persis sifat Marrie, mendiang istrinya.


'Kau berhasil mendidik anak kita dengan baik, Marrie. Andai kau masih ada pasti kau akan sangat bangga padanya. Maafkan aku Marrie yang dulu mengabaikanmu dan anak kita. Namun mulai sekarang, aku tak akan pernah lagi mengabaikannya walaupun sebenarnya sudah tidak ia butuhkan karena Zola telah memiliki suami yang luar biasa." gumam Jordan dala. hati saat menatap lekat wajah Zola.


Setelah memenangkan Zola, Jordan pun keluar dari ruangan itu sebab Zola hanya diperkenankan ditemani satu orang dan yang lebih berhak melakukannya adalah Ellard, si suami siaga .

__ADS_1


Menit berganti menit berlalu, hingga tiba-tiba Jordan, Jhonny, dan Arriana mendengar pekik tangis seorang bayi di dalam sana. Arriana sampai membenamkan wajahnya di dada Jhonny. Ia menangis haru saat mendengar pekik tangis bayi yang baru lahir itu.


Tak lama kemudian, Ellard keluar dari ruangan bersalin dengan senyum sumringah. Terlihat jelas wajah penuh kebahagiaan itu.


"Dad, Mom, dad Jordan, selamat, kalian telah menjadi grandma and grandpa sekarang. Cucu kalian perempuan. Pantas saja Zola melahirkannya cukup susah sebab bobotnya mencapai 4,1kg, bayi montok dan cantik." ujarnya bangga.



Jhonny dan Arriana saling berpelukan ikut terharu, sedangkan Jordan berpelukan dengan Ellard seraya mengucapkan selamat tanda bahwa ia pun turut bahagia. Sedangkan Gerry, kini ia tengah berpelukan dengan Raline, sebab saat Ellard menemani Zola di dalam, ternyata Raline menyusul. Ia pun ingin merasakan moment haru sahabat barunya itu. Ya, kini Raline dan Zola telah bersahabat. Ia juga berjanji, akan menjadi sahabat yang baik, tidak seperti mantan sahabat Zola terdahulu yang telah menusuknya dari belakang.


"Selamat, Ell, kami turut bahagia atas kelahiran putrimu." ucap Gerry seraya mengulurkan tangan agar saling berjabat. Lalu Ellard menarik tangan Gerry dan memeluknya.


"Terima kasih, semoga kalian pun segera menyusul supaya putriku ada teman bermain." ujarnya sambil terkekeh.


Gerry dan Raline saling berpandangan mata , lalu Raline memalingkan wajahnya yang telah merona merah karena ia tau arti tatapan itu.


"Tentu ... aku akan segera memprosesnya. Aku pun tak mau menunda-nunda. Bukankah sesuatu yang baik harus disegerakan." ujarnya seraya tersenyum lebar, sedangkan tangan kirinya sudah beralih ke pinggang Raline.


"Kau benar. " ujarnya sambil tergelak bahagia. "Sudah, sana pergi dan segera proses calon keponakan ku. Aku sudah tidak sabar menantikan kehadirannya." usir Ellard halus seraya memainkan alisnya.


"Ah, kau memang sahabat yang pengertian." sahutnya sumringah. "Ayo sayang, aku sudah tidak sabar merasakan indahnya surga dunia bersamamu." bisik Gerry sensual membuat Raline meremang.


"Ger ... kau ini ..." wajah Raline kini sudah benar-benar memerah seperti kepiting rebus. Gerry merasakan kebahagiaan tersendiri saat menggoda istri yang baru dinikahinya beberapa saat yang lalu .


"Common, baby." lalu tanpa ragu, Gerry menggendong Raline ala bridal style. Ia tau, Raline kesulitan berjalan karena panjang gaunnya yang lumayan.


Merasa malu karena Gerry menggendongnya di area rumah sakit, Raline pun membenamkan wajahnya di dada bidang Gerry. Dapat ia dengar, suara degup jantung Gerry yang begitu kencang, sama seperti dirinya.

__ADS_1


...***...


...Happy reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2