
Langit sore tiba-tiba mendung, awan hitam mulai berarak disertai petir yang bergemuruh bersahut-sahutan di langit yang mulai menghitam. Tampak sebuah sepeda motor membelah jalanan dengan begitu kencang, pengemudinya mengindahkan cuaca yang makin memburuk. Entah apa yang ada dipikirannya saat ini. Yang ia inginkan hanyalah pergi sejauh mungkin untuk menenangkan diri sementara waktu ini. Pikirannya sedang berkecamuk tak tentu arah. Hingga saat bulir-bulir air hujan mulai jatuh begitu derasnya pun, ia tak peduli. Ia justru makin memacu motornya dengan kecepatan tinggi. Seiring tubuhnya yang makin dingin, justru matanya kian memanas hingga bulir-bulir air mata itu meluruh bercampur dengan air hujan.
Di saat yang sama, Gerry yang merasa heran juga khawatir meraih berkas yang tadi dikembalikan Zola. Ia segera membawanya ke ruangan CEO dengan pikiran yang entah kemana. Diliriknya meja kerja Zola, lalu beralih ke jam tangan yang melingkari tangannya, ternyata sudah 30 menit berlalu semenjak Zola menyerahkan kembali berkas itu.
"Dia kemana? Apa masih sakit perut?" gumam Gerry penasaran.
Setibanya di depan ruangan CEO, mata Gerry melotot saat melihat pintu tidak terkunci sempurna seperti biasanya, bahkan sedikit terbuka.
Dengan langkah panjang, Gerry menerobos pintu itu. Masa bodoh dengan kemarahan Ellard, yang penting ia menuntaskan rasa penasarannya terlebih dahulu.
"Kau ... apa-apaan kau masuk ke ruangan ku tanpa permisi, hah!" sergah Ellard dengan nada sedikit meninggi.
"Bukan itu masalahnya, Ell. Ada yang lebih gawat dari itu. " ucap Gerry membuat Ellard mengerutkan keningnya. "Apa pintu itu dari tadi tidak tertutup rapat?" tanya Gerry to the point.
Mata Ellard melotot seketika. Ia baru sadar. Setelah kepergian ibunya tadi, ia tidak memeriksa pintu itu sama sekali sebab ia sedang sibuk memeriksa laporan keuangan yang terasa janggal.
"Ell, aku tadi meminta Zola mengantarkan berkas ini tapi tiba-tiba ia kembali ke ruangan ku dan meminta ku menyerahkannya sendiri dengan alasan sakit perut dan aku mempercayainya. Itu terjadi 30 menit yang lalu. Tapi saat aku ingin menyerahkan berkas ini, Zola masih belum kembali, aku khawatir ..."
Perkataan Gerry terpotong saat Ellard segera memeriksa rekaman CCTV di depan ruangannya. Seketika, tubuh Ellard membeku.
"Ger, sepertinya Zola sudah mengetahuinya!" ucap Ellard dengan wajah pias.
__ADS_1
Lalu Ellard kembali menelusuri rekaman CCTV untuk mengikuti jejak Zola. Wajahnya kian pias saat tau, ternyata Zola pergi keluar perusahaan dengan mengemudikan motornya.
"Ell, di luar sedang hujan badai." ucap Gerry memberitahu. Ia juga khawatir dengan keadaan Zola. Apalagi saat ini sedang terjadi hujan badai di luar. Tentu hal itu membahayakan apalagi Zola saat ini sedang mengemudikan motornya dengan perasaan yang kacau.
Ellard mengacak rambutnya frustasi. Ia takut akibat kecerobohannya , bukan hanya membuat Zola kecewa dan pergi darinya, tapi juga membuat Zola celaka.
"Ger, tolong bantu aku mencari Zola!" mohon Ellard dengan mata memerah. Ia benar-benar merasa sangat kacau sekarang.
Gerry mengangguk pasti. Ia segera beranjak menuju ruangannya untuk mengambil kunci mobilnya. Begitu pula Ellard, ia segera berdiri dan memakai masker dan kaca mata hitamnya, tak lupa ia mengambil ponselnya yang tergeletak di meja, kemudian ia berlarian menuju lift agar segera sampai ke lobby. Saat di lift, ia menelpon valet parking agar segera menyiapkan mobilnya di depan lobby kantor.
Saat lift berdenting dan pintu terbuka, dengan tergesa Ellard melangkahkan kakinya keluar dari lift VIP miliknya membuat para karyawan yang berada di lobby merasa bingung saat melihat atasan mereka berlarian dengan tergesa. Tak lama kemudian, disusul Gerry yang juga berjalan dengan tergesa. Wajahnya terlihat tegang. Semua karyawan yang melihat tampak bertanya-tanya apa gerangan yang terjadi.
Sekeluarnya dari lobby, ia langsung menerima kunci mobil yang diserahkan valet parking dan masuk ke dalamnya. Tak peduli hujan badai yang sedang menerjang, Ellard melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Walau agak kesusahan, ia tetap berusaha fokus. Sembari menyetir, ia memakai earphone dan memencet nomor panggilan cepat khusus Zola, yaitu angka 1. Namun, setelah melakukan panggilan hingga beberapa kali, panggilan itu tak kunjung jua diangkat. Yang ada di pikiran Ellard saat ini adalah Zola kembali ke apartemen.
Karena hujan badai, Ellard jadi kesulitan membelah jalanan. Jarak pandangnya terganggu. Pergerakan mobil pun ikut terhambat. Ia tidak bisa melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ellard menggeram frustasi. Ia sampai memukul-mukul kemudi hingga berkali-kali, merutuki kebodohan dan kecerobohannya. Padahal ia sedang menunggu saat yang tepat untuk berkata jujur, tapi rencana tinggallah rencana. Belum sempat ia menjelaskan, Zola malah melihat dengan mata kepalanya sendiri dirinya saat duduk di kursi CEO. Ia yakin, Zola past kecewa karena merasa dibodohi.
Ellard punya alasan tersendiri melakukan itu. Bukan hanya supaya bisa berdekatan dengan Zola. Tapi ada hal lain. Alasan lain. Ellard harap Zola mau mendengarkannya. Ellard harap Zola mau mengerti. Ellard harap, Zola mau memaafkan segala tindakannya.
"Please, Zo, jangan tinggalkan aku! Aku mohon maafkan aku! Zo, kau kemana?" gumam Ellard frustasi.
Jarak tempuh dari kantor ke apartemen yang biasanya memakan waktu 30 menit, kini memakan waktu hampir 1 jam karena derasnya hujan yang mengguyur sebagian besar kota LA. Setibanya di basemen, Ellard bergegas turun dan memasuki mini lobby mini di mana ada lift yang akan mengantarkannya menuju lantai yang dituju.
__ADS_1
Setibanya di depan apartemen Zola, Ellard langsung menekan password dan masuk ke dalamnya.
"Zo ... Zola ..." teriak Ellard seraya mencari ke kamar wanitanya itu. Namun saat membuka pintu kamar, ia tak melihat keberadaan Zola. "Zo ..." panggilnyq lagi seraya membuka pintu kamar mandi, tapi hasilnya sama, Zola tidak ada. Ellard makin frustasi dibuatnya. Lalu ia memeriksa rak sepatu untuk memastikan Zola pulang atau tidak. Wajahnya kian pias, saat Ellard tidak melihat sepatu yang tadi dipakai Zola.
Ellard mondar-mandir di ruang tamu seraya melirik jam tangannya. Sudah hampir 2 jam berlalu, tapi ia tak kunjung mendapatkan kabar keberadaan Zola. Gerry juga belum menghubunginya, artinya Gerry lun sama , belum menemukan keberadaan Zola.
Lantas ia teringat, ia pernah memasang GPS di ponsel Zola, lalu ia segera memeriksanya.
"Bodoh! Mengapa baru ingat sekarang?" umpatnya seraya merutuki diri sendiri. Karena terlalu panik, ia sampai lupa pada GPS yang pernah dipasangnya itu.
Setelah mengotak-atik ponselnya sebentar, Ellard pun mendapatkan lokasi keberadaan Zola. Tanpa banyak berpikir, ia langsung menuju mobilnya kembali seraya menghubungi Gerry dan memberitahukan keberadaan Zola. Siapa tau, lokasi Gerry tak jauh dari lokasi itu. Ternyata lokasi keberadaan Zola bertentangan arah membuat perjalanan ke sana makin lama.
Setelah satu jam kemudian, akhirnya mobil Ellard tiba di lokasi , disusul Gerry di belakangnya. Tapi yang membuat keduanya bingung, mereka tidak melihat keberadaan Zola tapi lokasi GPS ponselnya menunjukkan inilah tempatnya. Ellard dan Gerry lantas turun dari dalam mobil. Tak peduli hujan yang masih mengguyur dan membasahi sekujur tubuh mereka, yang mereka pikirkan sekarang adalah keberadaan Zola, hingga mata elang Ellard tak sengaja menangkap sebuah motor tergelak di dekat sebuah pohon. Jantung Ellard berdentum hebat. Rasa khawatir makin menggerogoti benaknya. Ellard bergegas mendekati motor itu berharap melihat keberadaan Zola, namun yang ia dapatkan hanyalah motor yang lecet dibeberapa bagian, bahkan sayap dan spionnya patah. Hatinya makin tak tenang, lantas ia mengambil ponselnya dan menekan nomor Zola.
"Ell, kau dengar itu? Apa mungkin itu bunyi nada dering ponsel Zola?" tanya Gerry saat ia menangkap bunyi nada dering ponsel di sekitar sana.
Gerry dan Ellard pun lantas mencari keberadaan ponsel itu dan benar saja, ponsel Zola tergeletak di dekat motor. Ellard menggeram frustasi. Ia mengusap wajahnya hingga berkali-kali. Matanya kini sudah memerah bahkan berkaca-kaca. Ia khawatir, sangat-sangat khawatir. Ia yakin, dari melihat kondisi motor yang biasa digunakan Zola, sepertinya wanitanya itu mengalami kecelakaan. Ia berharap, ada seseorang yang menolongnya.
"Zo, kau dimana? Aku mohon kembalilah. Zo, aku harap kau baik-baik saja. Zo, aku merindukanmu ... sangat merindukanmu!" lirih Ellard hingga tanpa sadar setitik air mata mengalir hingga bercampur dengan tetesan air hujan yang mulai membasahi wajahnya.
...***...
__ADS_1
...Happy reading 🥰🥰🥰...