Suamiku Si OB Ganteng

Suamiku Si OB Ganteng
Ch.41 Mimpi


__ADS_3

"Hei Ell, bangun! Ck ... pasti nih orang mimpi mes*m sampai senyum-senyum gini." omel Gerry saat melihat Ellard tertidur dengan mimik wajah serius lalu beralih senyum-senyum seraya menggenggam tangan Zola. Yang membuat Gerry mengomel karena Ellard tak kunjung bangun padahal ia sudah menepuk pundaknya. Ia yakin, saat ini Ellard sedang mimpi indah dengan siapa lagi kalau dengan Zola.


plakkk ...


Gerry menepuk bahu Ellard lebih kuat membuat Ellard menjengit kaget.


"Aku juga mencintaimu, Zo." ucapnya lantang membuat Gerry melongo lalu tertawa terbahak-bahak. Sadar melihat Zola masih terlelap, Gerry langsung menutup mulutnya dengan telapak tangannya.


Gerry tertawa sampai perutnya berguncang. Bahkan ekor matanya sudah berair menahan geli melihat ekspresi cengo Ellard yang baru sadar dari mimpi.


"Kasian banget sih, sakin pinginnya dengerin kata cinta dari Zola sampai terbawa mimpi. Ell ... Ell ... Aku nggak nyangka kalau kamu bisa jadi bucin juga." ledek Gerry.


Ellard yang masih bingung melihat keberadaan Gerry yang sedang menertawakannya, mencoba mencerna apa yang terjadi. Diliriknya Zola yang masih terlelap, belum sadarkan diri karena pengaruh obat yang dicampurkan di cairan infus, baru ia ingat ternyata pernyataan cinta yang barusan ia dengar itu hanya mimpi.


Melihat Gerry yang masih asik terbahak, membuat Ellard menghunuskan tatapan tajamnya. Gerry yang sadar, berusaha menghentikan tawanya. Setelah lebih terkontrol, Gerry berdeham untuk mencairkan suasana.


"Mimpi apa sih, Ell? Muka kamu sampai serius banget kayak gitu. Terus senyum-senyum juga. Beneran nih, kamu mimpi Zola nyatain cinta ke kamu?" tanya Gerry penuh selidik.


Ellard menatap Gerry dengan tatapan malas, lalu ia merampas paper bag yang ia yakini berisi pakaian ganti miliknya dan segera masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan berganti pakaian.


Hanya butuh waktu 10 menit, Ellard telah keluar lagi dengan pakai casual miliknya. Beruntung Gerry tau password apartemen Ellard, jadi ia bisa bebas mengambil pakaian ganti Ellard setelah mengantarkan Raline pulang terlebih dahulu.


Tok tok tok ...


Terdengar suara pintu di ketuk, Gerry lun segera beranjak untuk membuka pintu. Ia yakin, itu adalah kurir layanan food delivery. Setibanya di basemen rumah sakit tadi, ia langsung memesankan makan malam untuknya dan Ellard yang ia yakini belum makan malam.


Tak waktu lama Gerry telah kembali lagi dengan 2 buah paper bag di tangannya.


"Makan dulu, Ell! Ini untukmu." ucap Gerry seraya menyerahkan satu buah paper bag kepada Ellard, tapi Ellard menolaknya. Ia malah menyandarkan tubuhnya ke sandaran sofa seraya menutup matanya dengan sebelah tangannya.


"Aku tau, kau sedang memikirkan keadaan Zola tapi saat ini kau harus memikirkan kesehatanmu. Bagaimana kau bisa menjaga Zola kalau kondisi tubuhmu tidak baik. Ingat, kau juga harus menyiapkan tenaga untuk membujuk, Zola." ujar Gerry dengan senyum mengejek.


Ellard mendengus lalu merampas paper bag yang disodorkan Gerry tadi dan mulai memakan apa yang ada di dalamnya.


"Ell, memang kamu belum berhasil membuat Zola jatuh cinta padamu?" tanya Gerry. Ellard diam, tak menjawab sama sekali.


"Kasihan banget sih! Tapi Ell, setau aku ya, menurut hasil penyelidikanku, selama ia jadian sama Regan, Zola itu memang nggak pernah mengungkapkan perasaannya melalui kata-kata, ia hanya melakukan melalui tindakan. Jadi jangan berharap kamu bisa buat dia bilang aku mencintaimu." ujar Gerry seraya terkekeh.


"Sudah puas?" desis Ellard membuat Gerry mengerutkan keningnya dengan tatapan mata yang tak putus dari wajah Ellard. "Sudah puas menertawakan ku, hm? Mungkin sebaiknya, aku melemparkan mu ke Antartika, supaya mulutmu beku dan tidak bisa lagi tertawa mengejekku." desis Ellard lagi membuat Gerry membungkam mulutnya sendiri.


...***...

__ADS_1


Gerry sudah pulang setelah mendapatkan pengusiran dari Ellard. Lelaki itu sepertinya hari ini sangat puas menertawakan kemalangan Ellard.


Kini Ellard membaringkan tubuhnya di samping Zola dengan bertumpu pada satu lengannya agar ia dapat memandang puas wajah Zola.


"Sweety, udah hampir 5 jam, kok kamu belum bangun sih? Apa kamu nggak kangen aku? Aku kangen kamu, Zo. Bangunlah sayang, aku akan jelaskan semuanya. Aku benar-benar minta maaf atas kesalahanku selama ini. Aku tidak bermaksud menipumu, sweety. Kamu tau, Sakin aku frustasi mikirin kamu, aku sampai mimpi kamu udah maafin aku dan bilang kamu mencintaiku. Ck ... sepertinya, aku sudah benar-benar tergila-gila padamu. Wajar saja Gerry menertawakan kebodohan diriku." gumam Ellard seraya terkekeh. Lalu ia mengusap pipi Zola dengan punggung jari telunjuknya. "Zo, bangunlah. Aku mencintaimu." lirih Ellard lalu ia mengecup bibir Zola lembut.


"Sepertinya aku juga mencintaimu, Ell ."


tiba-tiba terdengar suara yang tak asing di telinga Ellard membuatnya mematung. Ditatapnya wajah perempuan yang tengah terbaring di hadapannya dengan intense. Ellard sampai mengusap matanya berkali-kali untuk memastikan ia tidak mimpi kali ini.


"Kamu udah sadar, Sweety? Ini beneran udah bangun? Atau cuma halusinasi ku saja? " gumam Ellard. Lalu ia menepuk pipinya sendiri untuk memastikan apakah ia sedang bermimpi seperti sebelumnya.


"Aaawww ... sakit!" gumamnya sambil mengusap pipinya. "Hah, kamu udah beneran bangun , sweety? Terus yang barusan kamu katakan itu benar-benar kamu kan yang bilang? Aku nggak lagi mimpi lagi kan?" cetus Ellard dengan senyum lebarnya.


"Kenapa? Kau tidak suka aku bangun dan sadarkan diri?" ketus Zola masih menyimpan rasa kesal.


"Astaga, sweety! Bagaimana kamu berpikir seperti itu , sedangkan melihatmu terbaring tak sadarkan diri saja hampir membuat duniaku runtuh." ucap Ellard sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. "My sweety, terima kasih kau tidak apa-apa. Tapi ngomong-ngomong, apa yang kau katakan tadi sungguhan, kan? "


"Yang mana?"


"Yang kau bilang sepertinya kau juga mencintaiku."


"Please, sayang, jangan mempermainkan ku!" seru Ellard dengan wajah memelas.


"Tidak ada siaran ulang." ujar Zola sambil memalingkan wajah.


"Sayang ..."


"Apa?"


"Kau masih marah padaku?"


"Menurutmu?" sinis Zola dengan mata memicing.


"Aku minta maaf. Nanti sepulang dari sini, pasti akan aku jelaskan semuanya."


"Janji?"


"Janji my lovely Wifey. I'm promise to you." ujar Ellard seraya menggenggam tangan Zola dan mengecupnya. Namun Zola hanya diam membuat Ellard makin merasa bersalah.


Selama di rumah sakit, Zola diperlakukan bagai seorang putri. Apapun yang yang diinginkan Zola, bahkan sebelum meminta, Ellard sudah mewujudkannya dengan senang hati. Tapi di saat bersamaan, ada seseorang yang dongkol setengah mati karena berapa hari ini ia bukan hanya direpotkan dalam hal pekerjaan, tapi juga urusan asmara sang atasan. Zola yang masih kesal dengan Ellard membuat Ellard berjuang mati-matian agar Zola tidak marah lagi padanya. Segala macam cara dilakukannya agar Zola tidak kesal lagi, tapi Zola masih mendiamkannya. Alhasil, dalam prosesnya, Ellard merepotkan satu orang yang memang dipekerjakan untuk membantunya dalam hal apapun.

__ADS_1


"Ger, belikan coklat dari toko Summary choco. Pilih yang paling istimewa." titah Ellard melalui sambungan telepon.


Gerry melotot tak percaya, sekarang saja ia sedang sibuk membereskan masalah meeting yang harus ditunda karena Ellard yang tidak masuk bekerja, tapi sekarang ia sudah kembali diperintahkan membeli coklat. Bukan hanya masalah ia sedang sibuk, tapi jarak ke toko itu sangat jauh dari kantor. Bisa memakan perjalanan 2 jam, pulang pergi jadi 4 jam.


"Tapi, Ell, toko itu ada di barat daya LA, sangat jauh dari sini. Belum lagi aku sedang sibuk saat ini. Lain kali saja ya atau kau bisa minta delivery saja." tolak Gerry.


"Tidak. Aku ingin kau sendiri yang membelinya kesana. Kau bisa memilih mana yang terbaik. Menurut kabar, coklat disana sangat enak. Bila kita memberikannya pada pasangan, itu dapat membuat pasangan kita makin cinta dan mudah luluh jadi kau sendiri yang harus turun tangan membelikannya." pinta Ellard, no penolakan.


Gerry menghela nafas panjang, "Tapi Ell ..."


"Aku tunggu sampai jam 3 sore. Lewat dari jam itu, siap-siap hukumannya." potong Ellard lalu ia langsung memutuskan sambungan teleponnya.


"Sial." umpat Gerry kesal. Ia mengacak rambutnya frustasi. Namun, ia tetap mengambil kunci mobil dan menjalankan perintah Ellard walau dengan setengah hati. "Dasar, atasan benar-benar nggak ada akhlak. Awas kau nanti, aku akan meminta bonus 2 ah 3x lipat." gumamnya seraya berjalan menuju lift.


"Hei, tuan muda Miguel kemana ya? "


"Emang dia nggak ada?"


"Nggak , semenjak pergi terburu-buru 2 hari lalu, ia belum muncul lagi."


"Eh, si sekretarisnya juga nggak ada lho. Jangan-jangan ..."


"Ssst ... hati-hati! Ingat, di sini , dinding pun pun punya telinga."


"Hei kalian sedang bisik-bisik apa?" tanya Clara yang kini sudah berada di sisi para penggosip kantor.


"Eh, Clara! tidak ada apa-apa kok." kilah mereka.


"Kalian lagi gosipin apa sih? Jangan rahasia-rahasiaan deh! Aku tadi dengar kalian bilang sekretaris, apa maksudnya Zola? Dia kenapa?"


" tapi kamu janji nggak bakal bilang siapa-siapa!" bisik mereka dan Clara mengangguk.


"Itu, CEO kita sudah 2 hari nggak masuk dan Zola juga, apa jangan-jangan mereka punya affair ya? tapi kan Zola sedang dekat dengan si OB itu. Malah ya, aku pernah pergoki mereka sedang ciuman, tepatnya si OB itu cium bibir Zola terus Zola diam aja."


"Kamu serius?" tanya Clara dan para penggosip kantor itu mengangguk antusias membuat seringai tipis terbit di bibir Clara.


...***...


...Happy reading 🥰🥰🥰...


... ...

__ADS_1


__ADS_2