
Namaku Devila soraya, dua bulan lagi tepat aku berusia sembilan belas tahun, setelah lulus sekolah menengah atas aku melanjutkan ke universitas, mengambil jurusan broadcasting.
Tapi sayang, pendidikanku harus terhenti karena usaha milik ayah bangkrut, ibu menggadaikan seluruh aset perusahaan untuk investasi yang ternyata itu semua penipuan.
Kami masih tinggal satu rumah, tentunya hanya sebuah rumah kontrakan sederhana, ayah seorang yang sangat bijak, ibu berkali-kali minta maaf pada kami, terlihat begitu menyesal dengan perbuatannya dulu.
Untuk mencukupi kebutuhan kami, ayah membuka usaha catering, Om Dewa partner bisnis setia ayah terus mengulurkan bantuan, karena merasa sudah terlalu banyak hutang budi, ayah memintaku menikah dengan Om Dewa.
"Aya, Nak Dewa itu orang yang baik sayang, kamu pasti akan bahagia menikah dengannya" ucap ayah saat kami sedang di ruang tengah menikmati santap malam
"Ayah, Aya akan kerja lebih keras, Aya akan bantu ayah, tapi jangan minta Aya untuk menikah dengan Om Dewa" pintaku
"Tidak, keputususan ayah sudah bulat kalian akan menikah bulan depan" Ayah mulai meninggikan suaranya.
Ibu, kulihat dia hanya pasrah, pasti merasa semakin bersalah. Selama ini kami hidup enak, tak pernah terpikir akan tinggal dikontrakan seperti ini, mau kemana-mana harus naik kendaraan umum.
Kami saling berpelukan, merasa tak berdaya melawan keadaan, usaha catering yang dirintis ayah tak kunjung membuahkan hasil. Modal sudah keluar banyak.
__ADS_1
Aku sudah bekerja di pabrik pembuatan sepatu, gaji yang kudapat masih sedikit karena aku karyawan baru. Sebagai anak tunggal, ayah mendidikku menjadi anak yang kuat.
Waktu terus berjalan, hari yang sebisa mungkin untuk kuhindari kini datang juga. Rumah sudah didekor, meski sederhana. para tetangga dan kerabat mulai berdatangan membantu acara hajatan ayah. Terkecuali teman-temanku, aku malu. Apa jadinya jika mereka tahu aku yang selalu menolak menikah muda kini harus menikah, sialnya dengan om-om lagi.
Calon suamiku itu, kata ibu adalah seorang pengusaha muda. Mungkin muda menurut orangtuaku, lah usianya aja udah tigapuluh tahun. Entah apa yang membuatnya masih melajang diusia yang sangat matang itu.
Aku sudah selesai didandani, memakai kebaya putih dengan adat Jawa, airmata tak henti menetes, bisa gak ini dibatalin?
"Teh, rombongan mempelai pria sudah datang, sebentar lagi akan dilangsungkan ijab qabulnya" ucap Mbak Mega sang perias, wajahnya terlihat sumringah, lebih pantas dia yang menjadi pengantin aku rasa.
"Saya terima nikah dan kawinnya Devila Soraya binti Abdurrahman Wahid dengan mas kawin seperangkat perhiasan seberat 30gram dibayar tunai!!"
"Bagaimana saksi?" tanya sang penghulu.
"Sah"
"Sah"
__ADS_1
"Sah"
"Alhamdulilah" kemudian sang penghulu memimpin doa.
Cekrekkk..
Pintu kamarku terbuka ibu masuk, lemas sekali rasanya, kini aku sudah resmi menjadi istri Om Dewa, Om Dewa Saktaraya.
"Ayo sayang, temui suamimu" ucap ibu setelah beliau berdiri dihadapanku.
"Bu..." aku memelas, berharap ini hanya mimpi.
"Maafkan ibu, ini semua salah ibu sayang, maafkan ibu" lama kami saling beperlukan, ibu kembali menangis.
Aku memang beberapa kali melihat Om Dewa, wajahnya cukup tampan, dengan jambang halus di kedua pipinya, hidung mancung kulit bersih, badannya tinggi tegap, mungkin rajin nge-gyim.
Tapi, apa bisa pernikahan tanpa dasar cinta?
__ADS_1