
..._selamat membaca_...
Hari sudah sore. Aya terbangun dari tidurnya. Kepalanya sedikit pusing karena terus menangis. Matanya menatap langit-langit gazebo.
Ish aku pikir mimpi, ternyata beneran
"Den Ayu, sudah bangun?" Ucap Bik Sum yang kini sedang duduk di tepi gazebo
"Eh Bik, sejak kapan bibi ada di sini?" Aya beringsut bangun, ikut duduk di samping Bik Sum.
Bik Sum tersenyum "Ayo masuk Den Ayu ini sudah sore" ajak Bik Sum.
"Jam berapa sekarang, Bik?"
"Pukul lima Den Ayu" ucap wanita yang selalu memakai baju khas adat jawa dengan bawahan jarik tapih bermotif batik.
Aya hanya terduduk lesu, rasanya seluruh persendian tulangnya copot semua mengingat Dewa memesan sebuah kamar bersama seorang wanita.
*Aku yakin mereka pasti chek in, lagi ahoy-ahoy tu di sana, ah belum tentu juga sih pesen kamar, mungkin juga mereka akan meeting terus lagi tanya ruangan berapa.
Hais, ruangan berapa? Emangnya rumah sakit. Ok! Akan kutanyakan langsung ke Mas Dewa nanti kalau dia udah pulang*.
Begitulah pergolakan batin Aya, seorang perempuan sanggup menyembunyikan cintanya selama empat puluh tahun, tapi tak mampu menyembunyikan kecemburuannya barang sebentar saja.
__ADS_1
Setelah mandi, sedikit bersolek dan memakai baju dengan warna yang Dewa sukai atas saran Bik Sum, Aya duduk di sofa ruang tamu, menunggu kepulangan suaminya.
"Den Ayu, dandanlah secantik mungkin, sambut kepulangan suamimu dengan kelembutan meski didalam sana api kemarahan bergejolak membara, bicarakanlah apa-apa yamg mengganjal dihati Den Ayu saat suami sudah merasa relax" ucapan Bik Sum saat di gazebo terus terngiang.
Aku janji akan menjadi istri yang baik untukmu Mas, jika di hotel itu tak terjadi apapun.
Inhale...
Exhale...
Inhale...
Exhale...
Aya terus menarik nafas dan menghembuskannya lewat mulut, menurut artikel ini adalah salah satu cara meredam emosi.
Ia lah dianya kan lagi ahoy di hotel. Ihh sebel.
Jam empat, jam lima, jam enam hari mulai petang...
Aku bersiap diri menyambut kepulanganmu...
Jam tujuh, jam delapan, jam sembilan kok nyamuk yang datang..
__ADS_1
"Sudah malam nona, sebaiknya anda makan dulu" ucap Mbak Minah sang juru masak di rumah Dewa.
"Tidak Mbak Minah, aku masih akan menunggu suamiku pulang" ucapnya masih menatap pintu.
"Maaf tuan tadi berpesan agar nona makan terlebih dulu dan tak perlu menunggu tuan" ucapnya dengan meremas kedua tangan, ia terus menunduk.
Pelayan lain tak boleh berbicara menatap sang majikan kecuali Bik Sum. Karena Bik Sum bukan hanya kepala pelayan melainkan pengasuh Dewa sedari kecil, dan sudah dianggap ibu sambungnya. Begitu peraturan di rumah Dewa.
Aya tak menyangka Dewa akan berpesan seperti itu, dia bangun, didekatinya pelayan itu "Apa maksudmu aku tak perlu menunggunya?"
Mbak Minah mundur satu langkah, ia takut Aya akan mrarah padanya "Tuan tidak pulang nyonya" ucapnya lirih
Aya shock, disentuhnya dada yang semakin kencang berdetak, hampir saja ia luruh di lantai, airmata kembali menetes deras menghapus make up tipisnya.
Ia merosot pada sofa, memukul-mukul dahinya berharap mampu mengurangi sedikit sakit dihatinya.
Gak mungkin ini gak mungkinkan.
"Nona tenanglah, akan ku ambilkan ait minum untuk nona" Minah berlari ke dapur, ia khawatir dengan keadaan istri sang majikan.
"Minumlah nona" Minah menyodorkan segelas air putih, di usapnya pelan bahu yang terus berguncang itu karena sebuah isakan.
"Kami semua ada disini nona untuk menemani nona" tatapan Minah begitu sendu, merasa kasihan pada Aya.
__ADS_1
"Pergilah, biarkan aku sendiri" Aya menyenderkan kepalanya pada sofa, pikirannya terus berkecamuk.
Aku akan mendatangi kantormu Mas, Ok kamu gak pulang tapi kamu gak mungkin ke kantor.