Suamiku Tua

Suamiku Tua
Chapter 8


__ADS_3

..._selamat membaca_...


"Loh, kita gak pulang ke rumah, Mas?" tanya Aya begitu menyadari mobil suaminya terparkir di halaman sebuah restoran, karena selama perjalanan ia tertidur.


"Temani aku makan siang" jawab Dewa datar.


Aya menurut, ia kemudian turun dari mobil berjalan di sanping suaminya memasuki restoran tersebut.


Setelah memesan makanan, menunggu beberapa saat dalam keheningan karena keduanya masih diam. Hidangan pun sudah tersaji, mereka kini sedang menikmati santap siap.


Hingga suara seorang lelaki menghentikan sejenak aktifitas mereka.


"Aya?" sapa lelaki tersebut.


Aya menoleh pada lelaki di sampingnya, rona bahagia muncul begitu saja di wajahnya. "Andre, ya ampun. Kamu kemana aja sih" tanya Aya


Dewa, memang tidak tahu siapa Andre. ia masih membiarkan wanitanya menyapa lelaki tersebut. Lelaki yang sudah sah menjadi suami Aya, ingin melihat sejauh mana Aya akan melewati batas.


"Maaf ya soal itu, kamu kesini sama siapa?" tanya Andre sontak membuat Aya langsung menyadari keberadaan suaminya.


Hatinya bimbang, memperkenalkan Dewa sebagai suami atau apa?. Karena Dewa lebih pantas menjadi om-nya daripada suami, begitu menurut Aya.


Dewa bangkit dari duduknya, meninggalkan makan siang tanpa menghabiskannya. Berlalu dari tempat itu tanpa mengajak Aya.

__ADS_1


Selesai membayar makanan kepada kasir, Dewa melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, hatinya sudah dikuasai cemburu, ia begitu kecewa kenapa Aya tak memperkenakan Dewa sebagai suami kepada temannya, terlebih itu lelaki.


Apa Dewa terlihat begitu buruk? Apa ia tak menarik atau Aya malu bersuamikan dia?. Apa? Apa yang membuat Aya malu bersuamikan Dewa?


Sedangkan diluar sana, banyak wanita memimpikan menjadi istri Dewa, kalaupun tak bisa menjadi istri menjadi selirpun tak apa.


Ia kembali ke kantor, memasuki kamar mandi yang ada di ruang kerjanya. Mengguyur diri dengan siraman air dingin yang terus mengalir deras dari shower.


Setelah amarahnya sedikit mereda, ia memutuskan untuk istirahat di kamar pribadi yang terletak di ruangan itu juga.


"Tok.. Tok..Tok.. Tuan apa anda di dalam?" sang asisten pribadi terus mengetuk puntu kamar tersebut.


Karena menurut Katrin, sekertaris Tuan Dewa, majikannya itu sudah kembali ke kantor empat puluh lima menit yang lalu. Dan langsung masuk ke ruangannya.


Ceklek..


Pintu terbuka, menampakkan sosok sayu sang majikan.


"Ada apa?" ucapnya datar.


"Apa Anda baik-baik saja? Sepertinya Anda sakit, Tuan" ucap Samuel cemas, tak biasanya Dewa seperti ini.


" Kosongkan jadwalku hari ini, aku ingin istirahat" Dewa menutup pintu tanpa menunggu jawaban dari Samuel.

__ADS_1


Lelaki berjas hitam itu hanya bisa menghela nafas, berlalu dari tempat itu, kemudian melaksanakan perintah dari sang Tuan, membatalkan seluruh agenda meeting.


Sementara di rumah Dewa, seorang gadis tengah mondar-mandir di ruang tamu, jari jemarinya menyentuh layar pipih berlogo apel bekas gigit.


Kemudian menempelkan ponselnya ke telinga.


Tutt...


Tutt..


Nomor yang anda tuju tidak dapat menerima panggilan.


"Den Ayu" Bik Sum memegang bahu Aya lembut.


"Bik Sum" jawab Aya masih dengan perasaan cemas.


"Kenapa?" telisik Bik Sum


Aya hanya menatap Bik Sum dengan wajah yang begitu lemah, ia kemudian menghempaskan dirinya pada sofa panjang.


Bik Sum pun sama, ikut duduk di samping Aya "Den Ayu bisa cerita sama Bibik, kalau emang butuh teman cerita"


"Mas Dewa kemana ya, Bik"

__ADS_1


__ADS_2