Suamiku Tua

Suamiku Tua
Chapter 7


__ADS_3

..._selamat membaca_...


Pagi menjelang.


Mentari bersinar cerah, perlahan cahaya itu menerobos pada sela-sela kamar Aya.


Ia menyipitkan matanya, merasakan silau karena cahaya tersebut tepat mengenai wajah cantik istri Dewa Saktaraya.


Perasaan, semalam sudah kekunci semua jendela, gordayn juga udah ditutup, kenapa sekarang kebuka yah


Ia mulai beranjak dari ranjang berukuran king size, hendak ke kamar mandi namun pandangannya dikagetkan dengan segepok uang lembaran berwarna merah di atas nakas.


Senyumnya mengembang, rona bahagia meliputi wajah ay itu.


Sedikit berlari ia menuju ke kamar privacy milik sang suami, saking senangnya sampai ia lupa mengetuk pintu.


Begitu pintu dibuka, terlihat Dewa sedang berdiri menghadap cermin dengan pakaian rapi, di tangannya terdapat dasi berwarna merah maroon.


Sepertinya ia hendak memakai dasi tersebut. Aya langsung menghambur ke arah Dewa, memeluknya dari belakang.


Membuat Dewa kaget, sekaligus senang. Tak sia-sia ia memberi uang. Membangunkan Aya dengan menyibak seluruh gordayn agar Aya bangun dengan sendirinya, tanpa merasa malu karena sang suami sudah terlebih dulu bangun tidur ketimbang istri.


"Mas, makasih ya udah ijinin Aya kuliah, Aya seneng banget" sedikit meloncat bahagia, masih tetap memeluk suami hingga tubuh Dewa ikut terguncang sedikit.


"Iya" jawab Dewa singkat, sebenarnya berat sekali mengijinkan Aya kuliah, tapi ia sadar tak baik terus mengurung Aya di rumah.


"Sini Mas aku pasangin dasinya" kemudian Aya mengambil dasi dari tangan Dewa, membalikkan badan sang suami agar menghadapnya.


Dewa terus menatap wajah cantik sang istri, merasa sangat bahagia. Hal sekecil ini saja sudah sangat membuatnya bersyukur.


"Selesai" soraknya, kedua tangannya masih berada pada dada bidang itu, membuat jantung sang empu berdetak lebih cepat seperti genderang mau perang.


Dewa memegang pinggang Aya, menariknya agar lebih dekat. Wajahnya kini sudah sangat dekat, bahkan nfas hangat Dewa mampu ia rasakan, Aya merasa gugup.

__ADS_1


Kalaupun pagi ini Mas Dewa akan menciumku, aku rela kok. Sebagai ucapan terimakasih karena udah ijinin aku kuliah


Perlahan Aya mulai memejamkan mata, lama sekali tapi tak kunjung ciuman itu mendarat pada bibirnya, kemudian ia membuka mata.


Manik matanya bertemu, ia memandang wajah Dewa lekat, seolah bertanya kenapa diam saja.


Dewa tersenyum, mengerti akan pandangan itu.


"Kamu belum mandi? Bau asem" Ucap Dewa dengan menjawil hidung Aya, membuatnya merona karena menahan malu.


Dewa keluar dari kamar tersebut, senyum terus menghiasi bibirnya. Melihat tingkah Aya yang begitu menggemaskan.


Ya ampun Mas Dewa, udah pasrah gini malah gak jadi.


___


Karena Aya melanjutkan kuliah, ia tak perlu mengikuti ospek. Dia tak lagi kuliah di Universitasnya yang dulu, Dewa bilang Aya akan kuliah di kampus dekat perusahaan Dewa, agar bisa berangkat bareng pulang bareng jika memang waktu mengijinkan.


"Hay" sapa seorang gadis


"Iya" jawab Aya


"Anak baru ya?" tanya gadis itu


"Iya, aku Devilla Soraya panggil aja Aya" ia mengulurkan tangan.


"Aku Riani Astika, panggil aja Tika" jawabnya membalas jabatan tangan Aya.


"Fakultas apa?" tanya Tika


"Aku bisnis, kamu apa" jawab Aya


"Wah sama dong, yuk masuk" jawab Tika antusias.

__ADS_1


Diseberang jalan, seorang lelaki memotret Aya, kemudian mengirimkannya pada seseorang. melaporkan secara detail apa saja yang gadis itu lakukan.


Ting..


Satu pesan masuk di ponsel Aya.


D.S (Pulang jam berapa?)


^^^Soraya (Jam 1, Mas)^^^


D.S (aku jemput)


Inisial D.S adalah Dewa Saktaraya.


"Woy, sibuk apa sih" ucap Tika menepuk bahu Aya.


"Eh, kita gak jadi pulang bareng nih, Tik. Aku udah ada yang jemput"


"Loh ya udah gak papa, lain kali aja"


Tika, seorang yang sangat humble, mudah akrab dengan siapa saja. Tak heran jika mereka sudah akrab hingga memutuskan untuk pulang bareng, tapi sayang. Suami Aya sudah akan menjemputnya.


Mobil Dewa sudah terparkir depan gerbang kampus tersebut.


Melihat sang istri sudah ada di depan kampus, buru-buru ia keluar, melambaikan tangannya menyambut istri tercinta.


"Mas udah lama?" tanya Aya, mencium punggung tangan Dewa, membuat hati lelaki berkemeja cokelat itu berdesir.


Dewa pikir, Aya akan menghindarinya karena malu ia datang ke kampus. Tapi salah, Aya justru terlihat senang.


"Ayo" Dewa menuntun Aya, membuka pintu mobil, mempersilahkan sang istri masuk, kemudian ia berjalan mengitari mobil dan duduk di belakang kemudi.


Mobil pun melaju, membaur bersama kendaraan lainnya membelah jalan raya.

__ADS_1


__ADS_2