Suamiku Tua

Suamiku Tua
Chapter 24


__ADS_3

Dear reader, apa kabarmu hari ini?🌷


Selamat makan daging ya dears, selamat hati raya idul adha🐄🐑🐏


______


"Ini sudah malam lho!, apa kamu akan terus berdiam di situ terus?" ucap Mas Dewa setelah membuka pintu, melongokkan sebagian kepalanya.


Aku, hanya terdiam dan memilih fokus pada gadgetku.


Dia pasti tau alasannya, kenapa aku seharian mengurung diri di kamar.


Aku tak menyangka, ada orang senekad mas Dewa. Meski memang uang yang berkuasa, tapi, masih saja aku tak habis pikir ini menimpaku. Aku sendiri yang mengalaminya.


Tindakan mas Dewa sungguh di luar nalarku. Dalam sekejap hidupku berubah drastis. Pernah sekali ayah benar-benar kehabisan uang, dan kami hanya makan berlaukkan kecap saja.


Pikiranku melayang, memutar beberapa ingatan masa kemarin. Saat ibu terus mengeluh dengan keadaan.


Aku terpaksa berhenti kuliah, waktu itu. Nilam, tetanggaku waktu kami mengontrak dulu. Menawariku pekerjaan.


Gaji yang didapat tak seberapa. Bahkan tak sampai 5% dari uang jajanku dulu, saat Ayah masih menjabat jadi seorang direktur.


Tapi, uang yang tak seberapa itu sangat berharga untuk kehidupan kami. Meski hanya cukup untuk beli bahan makanan pokok, tak apa.


Hal terberat dalam hidupku adalah ketika melihat ayah menangis, hatiku teriris sekali, lelaki yang katanya konon pantang untuk menangis, di suatu malam aku mmergoki ayah sedang menangis, bahkan sampai sesenggukan.


Parahnya lagi, aku bahkan hampir jadi korban pelecehan seksual di angkot. Waktu itu aku berangkat bekerja ke pabrik pembuatan sepatu. Nilam, teman kerja sekaligus tetanggaku masuk shift siang, jadilah aku pergi sendiri.

__ADS_1


Biasanya kami memang berangkat bareng, angkot penuh sesak. Aku di apit oleh dua orang lelaki berbadan cungkring namun tampang sangar.


Risih, jijik. Itu yang aku rasakan. Angkot-pun seperti siput jalannya. Lelaki cungkring di sebelah kiriku terus menerus menggeser-geserkan badannya ke tubuhku.


Merasa akan ada hal buruk, aku menyetop angkot dan turun. Sungguh aku merasa takut.


"Hei, malah melamun." Mas Dewa tau-tau sudah di depanku, bahkan sekarang ikut duduk bersandar pada ranjang, sepertiku.


Dert..


Ting..


(Aya, ayah sudah pindah dari kontrakan. Sekarang ayah dan ibumu di rumah lama)


Aku menatap mas Dewa, apa maksudnya ini?


"Kamu yakin gak mau makan? Kasihan robert dong, kalau harus ikut-ikutan mogok makan. Atau kugoreng saja ikan peliharaanmu itu?" Mas Dewa paling jago soal ngancam mengancam.


"Aku masih mau ngambek dulu, nanti kuminta tolong Bik Sum buat kasih makan robert." ucapku sinis.


"Kasihan Bik Sum, dong. Kalau harus di tambah lagi kerjaannya." tatapan mas Dewa seakan mengejek ke arahku.


Benar-benar menyebalkan!


"Nasib.. Nasib punya suami tua, ya begini. Sok kalem ngadepin masalah." gerutuku.


"Apa!? Kamu ngatain aku tua?"

__ADS_1


Ups! Kenapa sih untul hal-hal seperti ini dia harus denger.


Aku hanya mencebik melihat mas Dewa yang sudah berkacak pinggang menatapku tajam.


Padahal, ekspetasiku adalah mas Dewa mengemis maaf dariku lalu aku memutuskan untuk pergi dari rumah, kemudian hidup mas Dewa berasa hancur karena sudah menyakiti hati istrinya.


Ya, minimal seperti kisah dalam novel online yang sering kubaca lah.


Tapi ini apa?


Tubuhku berhianat dengan hati gengs!. Aku ingin pergi, tapi kok rasanya berat untuk sekedar melangkah keluar dari kamar ini.


Soal mual tadi siang, ternyata itu efek dari jatuh tangga kemarin, lagian saat ini aku juga sedang mens.


"Ok, besok kita ke rumah orangtua kamu. Buat jelasin semuanya. Biar kamu puas." Mas Dewa hendak memelukku lagi dari belakang.


His.. Suka banget sih peluk-peluk. Kan aku jadi nyaman. Aduh!


Tapi kalau dipikir-pikir, emang ada benernya juga tindakan mas Dewa kemarin, ibu jadi sadar.


Meski awalnya berat, toh segala sesuatunya kan emang gak ada yang instant.


Mie instant aja perlu di rebus dulu kalau mau memakannya.


"Halah!, paling juga kamu udah ngancam ayah aku. Buat jelasin sama persis, seperti yang kamu jelasin ke aku kemarin."


"Nih, ponselku kamu pegang." Mas Dewa meletakkan ponselnya di tanganku, kemudian membuat gerakan agar tanganku menggenggam erat ponselnya "Kalau masih ragu lagi, kemanapun kamu harus ikut aku, termasuk ke kamar mandi. Gimana?" Mas Dewa menaik turunkan alisnya, tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2