Suamiku Tua

Suamiku Tua
Chapter 6


__ADS_3

..._selamat membaca_...


Aya menaiki tangga, mencari suaminya. Ia kemudian menuju ruang kerja sang suami.


Ceklek..


"Mas Dewa" panggilnya, namun tak kunjung ada jawaban, Aya mengedarkan pandangannya kesetiap penjuru sudut ruangan tersebut, namun yang dicari tak jua ia temui.


Aya kemudian beralih ke kamarnya, namun Dewa juga tak ada. Ia teringat kamar yang selalu Dewa kunci, ada papan bertulis privacy di depan pintu.


Dia penasaran juga merasa yakin kalau suaminya ada di kamar itu.


Perempuan itu memegang handle pintu, menariknya kebawah kemudian mendorong daun pintu tersebut.


"Mas Dewa" Aya menyembulkan sedikit kepalanya "Aku masuk nih"


Hampir saja Aya keluar dari kamar tersebut karena tak ada sahutan dari Dewa, Aya pikir Dewa pergi dari rumah. Tapi langkahnya terhenti saat melihat tirai pintu yang menuju balkon tertiup angin.


"Sepertinya Mas Dewa ada di balkon" gumamnya.


"Mas Dewa"


Tuhkan bener, dia di sini rupanya.


"Mas..." Aya memberanikan diri menyentuh bahu suaminya, karena dari tadi ia panggil, Dewa tak kunjung menoleh ataupun sekedar menjawab.

__ADS_1


Dewa tersentak kaget, Aya mencarinya.


^^^"Kamu ngapain kesini Aya" tanya Dewa dengan raut wajah datar.^^^


"Aya bikinkan kopi untuk Mas Dewa" ia menyodorkan cangkir kopi tersebut ke arah Dewa.


"Terimakasih" Dewa menerima cangkir tersebut, menyesapnya. Mencicipi kopi pertama buatan sang istri.


Udara malam yang semakin dingin membuat Aya memeluk dirinya sendiri, sesekali ia menggosokkan tangannya agar tak terlalu kedinginan.


Dewa yang melihat istrinya sudah kedinginan, mengajak Aya masuk. Suasana hati Dewa sedang bimbang, hingga udara dingin tak mampu mengalihkan dirinya dari perasaan bimbangnya.


"Sepertinya kamu kedinginan, ayo masuk" Dewa tetap memgang cangkir tersebut, kemudian ia berjalan terlebih dahulu untuk masuk.


Meletakkan cangkir tersebut di nakas, dia membaringkan tubuhnya di ranjang bersprei warna hijau bermotif daun pisang.


"Duh, aku harus ikut tidur di sini atau di kamar biasanya ya" gumam Aya.


Ia mondar mandir tak jelas, sementara Dewa yang masih rebahan dengan posisi memunggungi Aya, tak tahu apa yang sedang istrinya lakukan.


"Mas, kok tidur disini? tanya Aya selembut mungkin.


"Saya ngantuk"


"Mas Dewa kok jadi dingin begini, meski aku tak perlu was-was lagi sih kalau dia mepetin aku, tapi gak enak juga kalau dia dingin begini" ucap Aya dalam hati.

__ADS_1


"Saya tidur dimana, Mas" tanya Aya yang kini duduk di tepi ranjang.


Dewa tak menjawab pertanyaan Aya, dia masih memunggungi Aya.


Apa sudah tidur ya?


Aya benar-benar dibuat bingung dengan tingkah Dewa, yang tiba-tiba mendiamkannya.


Karena kesal terus saja dicueki, Aya memutuskan tidur di kamar biasa, tempat baju-bajunya tersimpan.


"Kayak anak perawan aja pake mogok ngomong segala" dia menghentakkan kakinya, keluar dari kamar tersebut.


Aya tahu Dewa belum tidur, tapi kenapa tak mau menjawab ucapannya.


Sesampainya di kamar, ia membanting dirinya di ranjang.


"Ih sebel, udah dibikinin kopi, dibaik-baikin masih aja gak ngijinin aku buat kuliah. Nanti kalau aku bisa kuliah aku akan mengambil jurusan dokter, kalau sudah jadi dokter, akan kusuntik dia tiap hari!" ucap Aya dengan kesal


"Apa? Kamu mau suntik saya?, memangnya saya bayi yang harus disuntik, tiap hari lagi" ucap Dewa.


Aya kaget bukan main, kenapa Dewa sudah ada dikamar ini.


Sebenarnya setelah Aya keluar dari kamar privacy, Dewa menyusul Aya hendak mengambil baju ganti untuk besok karena dia sudah memutiskan untuk tidur di kamar tersebut. Namun siapa sangka Dewa malah memdengar niat jahat Aya.


"Eh anu.. Em gak gitu, bercanda" Wajah Aya terlihat kikuk, sementara Dewa hanya mencebik, berkacak pinggang menatap Aya tajam.

__ADS_1


Aya yang di tatap dengan tatapan menakutkan, langsung menunduk.


Dewa berlalu, mengambil barang keperluannya, kemudian pergi lagi ke kamar favoritnya.


__ADS_2