
..._selamat membaca_...
"Eh.. Loh Tika" aku nyengir kuda, baru sadar kalau kesini bareng Tika.
Tika memasang wajah cemberut "Jahat kamu, ninggalin aku sendiri di cafe"
"Iya sorry, tadi ketemu temen lama, eh pulang yuk"
Tika membuang muka, masih memasang muka marah, tidak ada cara lain kukeluarkan dua lembar pecahan rupiah bergambar Soekarno-Hatta. Lekas kutempelkan pada keningnya.
Wajah yang sedari tadi ditekuk melekuk dengan cepatnya berubah, seperti anak kecil yang baru saja mendapat baju baru.
Dasar! Teman gak ada akhlak.
Kami berpisah didepan Mall, lebih memilih naik taxi online karena aku ingin bertemu Mas Dewa.
Tunggu aku, Mas.
Lepas jam makan siang, kantor kembali pada suasana semula, sibuk.
Meja Katrin masih kosong, mungkin juga dia belum kembali atau masih dalam perjalanan.
Tanpa babibu, aku menyelonong masuk ke ruangan suamiku.
Seorang lelaki bergelar suamiku, sedang duduk menyender sofa. Matanya terpejam dengan tangan bersedekap.
__ADS_1
Mungkin dia kelelahan hingga tertidur, sampai tak menyadari kehadiranku yang sekarang sudah duduk disampingnya.
Aku ikut menyandarkan diri pada sofa, menatap wajah suamiku yang sedang tidur, damai sekali rasanya memandang Mas Dewa.
Kutatap lekat struktur wajah tampan didepanku, tanpa sadar jemariku sudah meraba setiap inci wajah Mas Dewa, aku menyunggingkan senyum saat menyentuh bibir eksotis milik suamiku.
Ah, bahkan aku sudah tebiasa memanggilnya dengan sebutan suamiku.
"Eh copot!" pekikku, kaget karena Mas Dewa tiba-tiba menggigit pelan jariku.
Duh, malunya aku. Coba disini ada cermin, pasti aku sudah bisa melihat betapa merahnya muka ini menahan malu.
"Kamu nakal sekali, Aya" ia melepas jariku, seperti biasa ia akan menggenggamnya.
"Tumben kesini, ada apa?"
"Ck, memangnya gak boleh kalau aku kesini, Mas terganggu?" kesal aku, masa istri datang ke kantor suaminya gak boleh "Mas takut aku ganggu waktu pacaran Mas sama sekertaris Mas itu ya" meski sebenarnya aku tau mereka hanya pura-pura, tapi entah kenapa aku merasa cemburu.
Mas Dewa melipat kening, mungkin bingung dengan ucapanku yang terlalu bar bar "Loh kok sewot gitu, kan cuma nanya"
Padahal selama perjalanan menuju kemari, sudah banyak kata aku rangkai. Tapi kenapa setelah ketemu Mas Dewa semua jadi ambyar.
"Kamu cemburu?" Tanya Mas Dewa lagi.
"Tadinya iya, tapi setelah tau kalian cuma pura-pura, aku... Em aku.."
__ADS_1
Ihh, masa aku harus bilang aku seneng depan Mas Dewa.
"Kamu tau? Tau darimana?" Mas Dewa menautkan alis. ucapnya penuh selidik.
"Iya Mas aku tau dari Katrin.."
Belum sempat melanjutkan ucapanku Mas Dewa sudah terlebih dulu memotongnya "Ah, dasar gak bisa dipercaya!" sentak Mas Dewa.
Aku menyenderkan kepala pada bahu Mas Dewa "Mas, maafin aku ya, aku salah"
"Kamu gak salah apa-apa Aya" kepala Mas Dewa pun menyender pada kepalaku.
"Aku.. Aku gak ada hubungan apapun dengan Andre, aku akan menjauhinya demi menjaga perasaan Mas Dewa"
"Aku tidak ingin mengekangmu Aya"
"Tidak Mas, aku sudah bertekad akan menjadi istri yang baik untuk kamu"
Mas Dewa merubah posisi, duduk dengan tegap kemudian menangkup pipiku dengan kedua tangannya "Kamu yakin?"
Aku tersenyum, mengangguk mantap dengan keputusanku.
Mas Dewa memelukku erat, terus mengucapkan kata terimakasih. Aku kira dia akan menciumku seperti kebanyakan kisah-kisah di novel yang sering kubaca.
"Ayo kita pulang"
__ADS_1