
Hai readers, bolehkah Author minta dukungannya?
Author juga pengin kaya Author lainnya dears. Dapet komen, like, hadiah dan vote.😄😄😄
"Kamu lancang sekali membuka ponselku!" sungut Samuel dengan merebut ponselnya dari tangan Aya.
"Gak usah pura-pura marah buat nutupin kesalahan kalian. Aku udah tau semuanya!" balas Aya tak mau kalah.
Aya memalingkan wajah ke luar mobil. Perasaannya berkecamuk.
Beberapa saat kemudian mereka sampai di kantor perusahaan. Gegas Aya keluar dari mobil dan berjalan cepat menuju ruangan lelaki yang menjadi dalang keluarganya jatuh miskin.
Trakt, pintu di buka oleh Dewa karena ia baru saja selesai meeting dengan beberapa divisi.
Melihat istrinya sudah duduk di kursi kebesaran, Dewa melangkah dengan terus mengulas senyum.
"Sayang, kamu sudah sampai? Maaf tadi aku meeting dulu" Dewa berjalan dan duduk di meja dekat dengan Aya.
Aya melengos, ia mengacuhkan Dewa "Sayang, kamu marah karena aku lama meetingnya? Sorry ya." tangannya terulur hendak meraih tangan Aya, namun dengan cepat Aya berdiri. Menjauh dari Dewa.
Di tatapnya suasana ramai jalanan, tangannya mengepal kencang hingga buliran bening lolos berjatuhan membasahi pipi gadis tersebut.
Dewa menghela nafas panjang, beginilah kalau punya istri masih bocah. Labil banget, begitu pikir Dewa.
Dewa memeluk Aya yang masih berdiri membelakanginya, memghidu aroma tubuh Aya yang selalu membuat ia tenang. Dengan tetap menenggelamkan wajahnya pada ceruk leher sang istri. Tangannya melingkar erat di perut Aya.
"Kapan kira-kira Dewa Junior ada di sini, sayang?" tangannya mengelus perut rata istrinya.
__ADS_1
"Mas."
"Iya sayang."
"Menurutmu, bagaimana kalau ternyata kebangkrutan bisnis Ayah karena konspirasi seseorang." bibirnya bergetar mengucapkan kalimat tanya itu.
Dewa melonggarkan pelukannya, wajahnya panik, "Kenapa kau bilang seperti itu, sayang." Raut wajahnya ia tampilkan setenang mungkin, meski hatinya sedang was-was sekarang.
"Bagaimana, jika aku tahu siapa pelakunya!" ucap Aya lagi masih menatap jalan raya yang kini sedikit macet.
Dewa terkesiap, haruskah ia jujur saat ini? Bagaimana kalau Aya marah dan meninggalkannya?
"Sayang, duduklah dulu." Dewa menuntun Aya duduk di sofa yang ada di ruangan tersebut.
Setelah mereka duduk, dipandangnya lamat-lamat wajah sang istri, ada kilatan amarah di sana.
Aya menangkup wajahnya dengan kedua telapak tangan, bahunya bergerak naik turun karena tangisnya menjadi sebuah isakan pilu. Tubuhnya bahkan bergetar.
"Kamu tahu dari mana soal ini semua, Sayang?" Dewa mengelus bahu Aya.
"Gak perlu aku tau dari mana, lepaskan aku." Aya kemudian menepis kasar tangan Dewa mencoba bangkit dari duduknya, hendak pergi.
Bila perlu pergi sejauh mungkin, namun badannya langsung limbung, membuat ia jatuh ke pelukan Dewa. Perutnya bahkan terasa begitu mual.
"Jangan... Jangan sampai aku hamil dalam kondisi seperti ini, gak mungkin" batin Aya.
"Kamu gak papa kan, sayang? Ayo ku antar pulang. Kita bicarakan ini di rumah saja." Dewa menggendong Aya ala bridal style, sebab memapahnya pun tak mungkin, melihat Aya yang terus memegangi kepala dan menutup mulutnya dengan satu tangan.
__ADS_1
Kondisinya sangat lemah, bahkan dokter menyarankan agar Aya jangan banyak pikiran dulu, sebab sesuatu yang membenani pikirannya akan mempengaruhi proses kesembuhan Aya.
Aya benci Dewa memperlakukannya bak ratu, namun hatinya merasa bahagia dengan sikap Dewa.
Beberapa menit kemudian, mereka sampai di rumah, Dewa kembali menggendong istrinya masuk ke dalam kamar.
"Its ok, Aya. Kamu tenang, ya. Aku akan jelasin semuanya ke kamu." ucapnya begitu Aya bersandar pada ranjang.
Aya hanya terdiam, "Aku dan pak Wahid, ayahmu adalah rekan bisnis yang sudah sangat akrab. Beliau selalu bercerita apa pun itu tentang keluarganya, tentang kamu, ibu dan apa saja.
Beliau berjuang keras membangun usahanya agar kalian jangan sampai hidup susah. Dan memang, usaha tak pernah membohongi hasil, hidup kalian berkecukupan. Rumah mewah, bisnis berjaya, uang dan jabatan ada di tangan.
Namun, beberapa tahun kemudian, ibumu mulai berubah. Beliau menjadi seorang yang gila belanja, menghambur-hamburkan uang. Dan yang paling menyakitkan adalah melupakanmu sebagai anak."
Aya yang sedari tadi hanya membuang muka, mengalihkan pandangannya dari Dewa, kini menatap wajah suaminya. Di tatapnya manik mata di depan, mencari kebohongan yamg mungkin saja ia samarkan.
Tapi nihil, justru Dewa membalas tatapan itu semakin intens.
"Dan saat aku mengisi seminar di kampusmu, bukankah secara tak sengaja kamu menabrakku? Menjadikan aku jatuh cinta padamu pada pandangan pertama." Dewa tersenyum, mengingat saat pertama kalinya ia bertemu dengan Aya, yang tak sengaja tersebut.
"Aku mencari informasi tentang kamu, dan betapa terkejutnya aku, kalau kamu ternyata putri pak Wahid. Aku akhirnya menemukan ide untuk membuat ibumu kembali ke kodratnya sebagai seorang ibu dan istri
Aku tau caraku salah, tapi bukankah itu berhasil, Aya. Cukup aku yang tak merasakan kasih sayang orangtua, kamu jangan. Karena itu berat." Dewa tersenyum konyol karena membubuhi sedikit ucapannya seperti Dylan.
"Aku gak akan semudah itu percaya." ucal Aya.
"No problem, itu hak kamu." Dewa berdiri, kemudian melangkah ke kamar mandi.
__ADS_1