
.........
Dewa menggeliat, terlihat matanya mengerjab. Merasakan sedikit perbedaan pada bahu yang ia jadikan sandaran.
"Anda!" pekiknya.
Wanita itu terus menatap lurus ke depan, seolah keindahan danau menghipnotisnya dari segala keadaan di sekitarnya.
Padahal, jantungnya kini berdegup lebih kencang.
Dewa sontak berdiri, hendak meninggalkan tempat, "Tunggu." ucap Jennifer.
"Duduklah, kita harus bicara." matanya masih menatap lurus, namun nada bicara itu sangat berwibawa.
Aya hanya memperhatikan reaksi keduanya, memang dia-lah yang membawa Jennifer datang.
Kesalahpahaman ini harus cepat diselesaikan. Pikir Aya.
"Untuk apa. Untuk apa Anda datang! Oh aku tahu, tenang saja. Semua aset perusahaan masih atas nama Anda. Silahkan ambil alih dan saya yang akan pergi sejauh mungkin."
"Tidak. Bukan itu tujuan saya. Kemarilah."
Dewa bergeming, masih tetap berdiri dan menyedekapkan tangan di dada. Memalingkan wajah.
"Saya tahu, kamu sangat membenci saya. Tapi tolong dengarkan penjelasan saya." ucapnya dengan bibir bergetar.
Dewa hanya memdengus kesal, "Silahkan." jawabnya datar
"Apa kau tahu? Alasanku pergi meninggalkanmu? Itu adalah kau sendiri..." ucapannya terpotong karena Dewa dengan cepat menyambar.
"Ya! Karena Anda malu kan? Karena aku hadir di hidup Anda, membuat Anda tak bisa lagi merasakan kebebasan dunia malam." ucapnya mencibir.
Jennifer tertawa, tawa yang meremehkan kebodohan seseorang. "Tak kusangka, seorang pemimpin perusahaan sepertimu bisa begitu bodoh. Hei anak muda, apa seluruh kekayaan yang ditinggalkan mendiang orang tuaku membuatmu sangat sibuk? Sampai kamu tidak bisa mencari kebenaran tentang dirimu sendiri?"
__ADS_1
Dewa semakin terbelalak dengan balasan dari Jennifer, "Anda jangan main-main!"
"Baiklah, pasti mereka yang meracuni pikiranmu itu, kamu lahir karena memang sebuah kesalahan. Kesalahanku karena menerima minuman dari orang asing. Hingga semua terjadi." Jennifer menunduk "Tapi aku sangat bahagia dengan kehamilanku, aku punya seseorang yang akan berbagi hidup denganku, sayangnya kedua orangtuaku menentang itu semua. Mereka mengancam akan membunuhmu jika aku tak mau melanjutkan kuliah di luar negeri.
Bagi seorang ibu, anak adalah segalanya. Dia akan memberikan apapun itu meski nyawanya sendiri."
"Anda hanya membual!" Hatinya sedikit tersentuh, bahwa alasan Jennifer pergi bukanlah karena dia malu, melainkan demi nyawa Dewa sendiri.
"Mereka sudah tiada, Dewa. Maafkanlah mereka. Belakangan ini aku mulai mengerti kenapa mereka mengacuhkanku sebagai anak. Dunia bisnis sangat kejam mereka akan mencari kelemahan untuk menjatuhkan bisnis rivalnya, dan kau tahu apa kelemahan orangtuaku? Aku, anaknya. Papa menyibukkan diri dengan bekerja dan mama asik dengan dunia sosialitanya. Mereka menyayangiku dengan cara mereka sendiri. Melindungiku dari kekejaman dunia bisnis. Dan, apa kau tahu penyebab kecelakaan yang menewaskan mereka? Itu ulah pesaing papa."
Ingatan Dewa memutar, kembali pada masa kecilnya bagaimana dia diperlakukan, seolah mengerti dengan apa yang sedang dipikiran Dewa, Jennifer kembali bercerita.
"Mereka benar-benar mempersiapkan segala sesuatunya, mendidikmu tanpa kasih sayang hingga kamu menjadi sosok seperti sekarang, jika mereka tak menyayangimu mana mungkin kamu akan mewarisi semua kekayaan mereka?"
Benar, kakek dan nenek bahkan sudah punya surat wasiat jauh sebelum hari kematiannya.
"Anda salah nyonya, mereka menjadikanku budak agar harta mereka tetap aman." sanggah Dewa.
"Ck..ck. Budak? Untuk apa mereka memperbudakmu? Mereka saja sudah tiada. Jika kau mau, kau boleh saja menghambur-hamburkan harta itu, tapi kau tidak melakukannya. Bahkan jiwa bisnis kakek mu menurun padamu."
Perlahan namun pasti, mobil yang dikendarai Dewa melaju menjauh dari danau.
"Aku tau ini rencana kamu, jangan lagi lakukan itu." ucap Dewa yang masih menyetir.
Aya memutar bola matanya malas, "Ya karena kamu yang akan mulai mendatanginya sendiri."
Dewa mendelik pada Aya, membuat istrinya mengalihkan pandangan.
Satu minggu berlalu, bebas tanpa hambatan. Pasangan suami istri itu sudah membaik, hari-hari dilewati penuh cinta.
Hingga suatu pagi menghebohkan Dewa, Aya bolak balik ke kamar mandi mengeluarkan isi perutnya.
"Bagaimana? Kita ke dokter saja sekarang ya," Dewa memijit tengkuk istrinya dengan lembut.
__ADS_1
"Gak papa Mas, aku baik-baik aja. Ini wajar kok bagi ibu hamil."
"Oh begitu, Apa!! Hamil? Kamu hamil? Kok bisa?." Dewa bertanya dengan penuh keheranan membuat istrinya berbalik menghadap ke arahnya.
"Tentu saja, karena seminggu ini aku dihajar habis-habisan sama kamu, tujuh hari berturut-turut."
Dewa tersenyum, hatinya menghangat segera memeluk tubuh istrinya, "Sebagai wujud rasa syukurku, aku akan menyantuni anak yatim hari ini. Kamu mau ikut?"
Aya mengangguk..
Mobil sudah terisi penuh dengan puluhan paper bag, ada yang berisi baju, mainan dan juga makanan.
Lepas belanja, mobil kembali berputar menuju suatu tempat.
"Panti asuhan? Kamu yakin Mas ini tempatnya?" Aya semakin heran, apa ini sebuah kebetulan atau bagaimana. Panti Asuhan ini milik Jennifer.
Dan mereka mendatanginya,
Pintu di ketuk, kamudian terbuka oleh Jennifer sendiri.
Tubuh perempuan itu terpaku.
"Mama, boleh kami masuk." Ucap Dewa.
Jennifer begitu bahagia, dan segera menghambur kepelukan Dewa.
Mereka berpelukan dengan sangat erat seolah takut akan terpisah lagi, mata Aya berkaca-kaca menyaksikan adegan haru didepannya.
"Bagaimana Mama bisa menjalani hari penuh kesepian ini, Ma." Ucapnya setelah mereka duduk di sofa ruang tamu panti. "Apa lelaki itu berkunjung? Ah, dia bahkan sudah menikah lagi, bukan? ucap Dewa panjang lebar.
"Jayadi maksud kamu? Haha, biarkan saja. Biarkan dia bahagia." balas Jennifer.
"Mama merasa terhianati? Karena lelaki itu tak berusaha bertemu kita?"
__ADS_1
"Tidak, mama tak pernah mencintainya. Yang penting bagi mama itu kamu."
Kembali mereka berpelukan, Aya yang sedari tadi hanya diam menonton ikut bergabung, "Kita kaya teletubbies sekarang." ucapnya.