
..._selamat membaca_...
Aku mengikuti langkah kedua orang dihadapanku, memilih berjalan di belakang, barangkali aku bisa mencuri dengar pembicaraan mereka.
Sekarang, kami duduk di bangku yang sering kulihat di taman, bangku ini terletak di dekat eskalator. Dengan perempuan itu duduk ditengah, tangannya terus menggenggam sang lelaki, meletakkannya diatas paha.
Aku yang sudah kesal, merasa waktu berputar sangat lambat "Kok diem, ayo ngomong!" ketusku.
Bukannya segera menjawab, perempuan itu terus tersenyum kearahku. Huh, menyebalkan.
"Baiklah, sebelumnya perkenalkan dia suamiku" ucap Katrin dengan menyenderkan kepalanya pada lengan sang lelaki.
"Namanya William" sambungnya.
"Gak usah bertele-tele, cepat ceritakan! Oh aku tahu kalian pasti sedang merencanakan sesuatu yang sangat jahat kan! Kamu mendekati Mas Dewa hanya untuk mengeruk hartanya. Setelah berhasil kau akan kabur dengan lelaki yang kau sebut suamimu ini" ucapku terus terang, nafasku sudah sangat memburu, gelegar emosi siap aku tumpahkan.
Tapi, kedua sejoli ini malah saling pandang, dan kemudian tertawa.
"Hahaha, kau lucu sekali nona, pantas Dewa menyayangimu" kini lelaki itu ikut bersuara di sela tawa yang membuatku muak.
"Tenangkan dirimu, nona. Ok aku akan menjelaskan tapi tolong dengarkan baik-baik ucapanku" Katrin melepas genggaman tangannya pada pria tersebut, badannya kini menghadap kearahku.
Aku melengos, terus bertahan pada posisi tangan yang masih bersedekap didada.
"Namaku Katrin, sekertaris Dewa. Kami maksudku aku, William dan Dewa dulu adalah teman satu kampus, mengenai beberapa kejadian tak menyenangkan yang tak sengaja nona lihat, itu murni kesalahpahaman" aku memandang lekat manik mata itu, mencari kebohongan disana.Tapi nihil, dia jujur.
__ADS_1
"Apa anda ingat saat anda makan siang di foodcourt bersama seorang lelaki? Kami melihatnya nona, Dewa sangat cemburu waktu itu, dia terus memperhatikanmu yang sepertinya sangat bahagia dan nyaman dengan lelaki itu. Dewa memintaku berpura-pura bersikap seolah kami adalah pasangan kekasih, awalnya aku bingung tapi setelah dia menjelaskan semua, aku dengan senang hati membantunya" ucap Katrin panjang lebar yang berhasil membuatku bingung.
"Berpura-pura? Apa maksudnya?"
"Ya, Dewa ingin tahu, jika istrinya melihat dia bersama perempuan lain, apa anda akan cemburu. Dan ternyata iya. Nona Aya, jika kau merasa marah Dewa dekat dengan perempuan lain, lalu bagaimana dengan Anda" ucap Katrin dengan menekan kata Anda.
Apa iya aku cemburu, dan dia juga cemburu?
"Aku dan Andre hanya berteman" kilahku
Memang, awalnya aku seneng Andre muncul kembali, rasanya seperti dejavu. Jujur aku merindukannya, dia cinta pertamaku.
Tapi melihat Mas Dewa begitu intim dengan perempuan lain, aku merasa sakit. Ada perasaan tak rela disini. Hati ini.
Pertenyaan Katrin terasa menohok untukku, dalam hati kecilku, aku mengaku salah.
"Aku disini, berbicara sebagai teman. Tolong hargai dia, jalani pernikahan ini dengan serius meski belum ada cinta darimu untuknya, aku rasa cinta Dewa cukup untuk kalian berdua"
"Dewa butuh kamu, Aya. Kamu hidupnya, sudah lama sekali aku tak melihatnya tersenyum dan saat kamu masuk kedalam hidupnya, Dewa tampak berbeda, dia bahagia Aya, akui kalau kamu mencintainya, katakan padanya" Katrin terus menggenggam erat tanganku.
Di novel yang sering kubaca di aplikasi Noveltoon, berbicara dengan cara menggenggam tangan lawan bicara adalah salah satu cara agar ucapan kita masuk kehati sang lawan bicara.
Aku merasa malu karena sudah berlaku buruk padanya, bahkan aku mengatakan yang bukan-bukan langsung didepan Katrin sendiri.
Aku menatap mereka, dibalas dengan anggukan kecil serta senyuman tulus dari seorang sahabat.
__ADS_1
Mas Dewa, latar belakang keluargamu saja aku tak tahu. Dan aku harus menyelidikinya. Hem, bakal jadi detektif lagi ini.
Ah ngomong-ngomong soal detektif aku jadi ingat saat mengikuti Mas Dewa sampai ke hotel.
"Lalu bagaimana dengan kejadian di hotel, saat kamu dan Mas Dewa memesan kamar di meja resepsionis itu, aku melihatnya!"
"What? Kamu gak macem-macem kan sayang sama Dewa" Lelaki bernama William melotot tajam tepat ke wajah Katrin "Heh, rasakan itu" gumamku.
"Oh no Honey, kalian salah paham" Katrin menepuk jidat, kemudian menggaruk pelipisnya.
Apa tadi ia digigit nyamuk, sampai harus tepuk jidat kemudian menggaruknya. Kenapa malah pelipis yang digaruk ya. Hem.
"Saat itu, aku dan Dewa akan meeting dengan pemilik hotel tersebut, kami di meja resepsionis sedang menanyakan apa pemilik hotel itu sudah diruangannya atau belum"
Apa! Jadi aku benar salah paham. Duh Doraemon, tolong aku.
William, tampak mengangguk mantap. Aku harus segera pergi, sebelum mereka menyadari betapa merahnya mukaku karena menahan malu.
"Ok, kali ini aku percaya. Makasih penjelasannya" Aku segera berlari, menjauh dari mereka yang masih terbengong-bengong melihatku.
Terburu-buru aku menuruni tangga eskalator dengan merutuki kebodohanku sendiri, kenapa bisa aku menjadi se-bar-bar itu.
Baru dua langkah turun dari tangga eskalator, seseorang mencekal lenganku.
"Mau kemana kamu!"
__ADS_1