
Serangkaian acara, termasuk poto-poto sudah terlewati, sesekali kulirik Om Dewa nampak curi-curi pandang kearahku, aku hanya bergeming.
Pukul 14.00 acara selesai, aku meninggalkan Om Dewa terlebih dulu bersama sanak saudara yang masih tinggal, masa bodo dia mau diluar yang penting aku istirahat, pegal kaki ini berdiri sepanjang hari, memyalami tamu undangan yang silih berganti.
Setelah mengunci pintu kamar sebagai langkah antisipasi kalau-kalau Om Dewa nyelonong masuk saat aku berganti pakaian, aku pun melepas segala ***** bengek atribut ini.
Mengambil handuk dan baju ganti aku pergi ke kamar mandi, segar rasanya. Acara mandi sudah selesai aku kembali ke kamar, merebahkan diri dikasur springbed yang terasa empuk, Ah nyaman sekali.
Namun, baru masuk di gerbang mimpi aku terpaksa ditarik kembali ke dunia nyata, suara pintu diketuk terus mengganggu telinga, dengan penuh kemalasan aku bangkit, membuka pintu.
"Hoammm... Om Dewa, ada perlu apa"
Om Dewa melipat kening mundur beberapa langkah, seperti bingung dengan pertanyaanku "Aya, Mas mau istirahat, capek". ucapnya kemudian.
"Loh kok masuk kamarku, kalau capek tidur diluar lah, Om" jawabku setelah Om Dewa nyelonong masuk, kemudian rebahan di kasur empukku.
"Menyebalkan sekali, bangun Om, apa kata orang nanti" aku berkacak pinggang
"Memangnya orang akan bilang apa? Toh aku sekarang suamimu, kamu lupa?" jawab Om Dewa masih dengan posisi rebahan, matanya terpejam.
Apa? Menikah? Kapan. Aku berjalan mondar-mandir diujung kaki Om Dewa, pandanganku berhenti pada kebaya putih yang aku gantung dikastop dekat lemari, iya benar, aku sudah menikah, dengan Om Dewa.
"Aaaaaa" ku remas kasar rambut yang masih basah bekas keramas tadi.
"Kenapa? Ada apa?" Om Dewa gelagapan, kaget dengan teriakanku
…………
Sesuai permintaan Om Dewa, aku harus tinggal di rumahnya, berat hati ini sebenarnya meninggalkan kedua orangtuaku.
__ADS_1
"Ingat pesan ayah sama ibu, hormati suamimu, Aya. Jadilah istri yang soleha"
Aku hanya mengangguk pasrah, Om Dewa menuntunku masuk ke dalam mobil, perlahan kuda besi berjalan, membaur bersama kendaraan lain.
Meski sepanjang perjalanan Om Dewa terus memelukku, nyatanya tak berarti apa-apa, kalau saja ini pelukan dari Andre, kekasihku yang hilang ditelan bumi, pasti rasanya akan lain.
Tak terasa dua jam sudah aku sampai. Mobil mulai memasuki halaman sebuah rumah bergaya Eropa, indah sekali.
Seorang pelayan lelaki, yang bernama Suganda, yang aku tahu dari nametagnya, datang menghampiri kami.
"Selamat malam Tuan, Nyonya" sapanya begitu aku dan Om Dewa sudah keluar dari mobil.
"Malam, Pak. Panggil Aya saja" ucapku ramah, namun pak Suganda masih tetap menunduk.
"Pak, tolong bawa koper Nyonya Aya masuk ke kamar saya"
Aku menelan ludah kasar, kamar Om Dewa? Apa akan terjadi hal yang aku takutkan?
"Ayo, masuk" Om Dewa berbalik, menatapku yang masih terpaku di teras rumahnya.
"Ayo sayang" Dengan sedikit menarik tanganku Om Dewa membawa tubuh gugupku masuk.
Rumah ini besar, namun hanya Om Dewa yang tinggal bersama para pelayannya. Orangtua juga saudaranya kemana?.
Kami menaiki tangga memuju lantai dua dimana kamar Om Dewa berada, genggaman tangan lelaki yang sudah sah menjadi suamiku itu terus mengiringi langkah kami, ingin kulepas namun semakin erat.
Ayolah Om, kita bukan akan menyeberang jalan. Jangan terus menggenggam tanganku.
Pintu kamar terbuka, pak Suganda meletakkan koperku didekat ranjang besar berukuran king size.
__ADS_1
"Saya permisi Tuan, Nyonya" pamitnya undur diri.
Setelah hanya tinggal kami berdua, Om Dewa baru melepas genggaman tangannya, dia duduk di tepi ranjang, sesekali menepuk pelan ranjang itu sebagai isyarat menyuruhku untuk ikut duduk bersamanya.
"Saya tahu kamu belum bisa menerima pernikahan ini, kamu tenang saja aku akan menunggu sampai kamu siap" Om Dewa menatapku lekat
Aku bingung harus menjawab apa, dulu kehidupanku seperti ini, bergelimang harta, penuh kebahagiaan, tak perlu pusing besok harus makan apa?
Dan sekarang, saat semuanya sudah kembali, haruskah aku bahagia? Bersuamikan pria kaya seperti Om Dewa.
Kenapa rasanya kelu sekali lidah ini untuk sekedar memanggilnya Mas?
Aku tersentak saat tangan Om Dewa membelai rambut panjangku, menyadarkanku dari lamunan panjang yang terus terbayang.
Tangannya terus membelai rambutku, perlahan menarik tubuhku untuk menghadapnya.
Wajah kami saling berdekatan, hingga aku mampu merasakan hembusan nafasnya yang terdengar begitu memburu.
Aku mulai memejamkan mata, Om Dewa semakin liar dan tau-tau sudah ada diatas tubuhku yang entah kapan sudah terbaring.
Tokk... Tokk.. Tokk
"Tuan, Nyonya makan malam sudah siap" ucap seseorang dibalik pintu, yang kuyakini bukan suara pal Suganda, karena itu suara perempuan.
Aku menghela napas lega, syukurlah. Terlambat sedikit saja bibirku sudah tak terselamatkan.
"Ah, sial. Mengganggu saja" umpat Om Dewa. Dia segera bangkit, membuka pintu menemui pelayannya kemudian berbalik ke arahku.
"Ayo sayang, kita makan dulu kemudian melanjutkan yang tertunda" dia mengerlingkan sebelah matanya, membuatku semakin gugup.
__ADS_1