Suamiku Tua

Suamiku Tua
Chapter 30


__ADS_3

............


Tok..Tok..Tok..


"Masuk." ucap Dewa datar, Aya segera bangun dan duduk dengan benar.


Samuel masuk kemudian menyerahkan paper bag berisikan makanan pesanan Tuan-nya. "Silahkan, Tuan."


"Terimakasih, Sam." Samuel mengangguk pelan, ia undur diri dari ruangan itu.


Dewa yang menyajikan makanan, Aya memilih untuk duduk manis menyaksikan keuletan pak suami melayani dirinya.


Beberapa suapan masuk bergantian ke mulut Dewa kemudian dirinya. Aya sangat menikmati ini.


Seperti inilah kalau punya pasangan lebih tua dari usia kita, bukan kata-kata romantis untuk membahagiakan hati pasangannya. Melainkan sikap dan perbuatannya.


"Hari ini aku pulang terlambat, kau pulanglah terlebih dulu." ucap Dewa menyeka bibir istrinya yang terkena sisa makanan.


"Mas mengusirku?" Aya merajuk. "Mau berduaan sama sekertaris sexy itu, ya."


"Hei, kenapa kau bilang seperti itu. Maksudku adalah, jika kau tetap di sini sampai pekerjaanku selesai, aku takut kau bosan dan lelah. Bukankah rumah tempat paling nyaman untuk istirahat. Hemm?" bujuk Dewa.


"Pulang jam berapa sih?"


Dewa melirik jam tangannya, "Mungkin jam 9."


"Hah? Lama sekali? bukankah kau Boss-nya. Kenapa justru pulang paling larut?"


Dewa menggaruk tengkuknya, terkadang Aya memang masih bersikap kekanak-kanakkan. Memjadi boss bukan berarti dia yang paling santai, justru dirinya yang paling sibuk.


Terlebih Katrin akan resign dan digantikan oleh sekertaris baru.


Sebuah ide terlintas di benak Aya, "Baiklah pak Suami, jika kau ingin pulang lebih larut tak masalah. Asal weekend ini kita jalan keluar."


"Baik. Aku akan menemanimu sepanjang weekend." Dewa tersenyum.


"Benarkah? Aku bahkan akan menghabiskan seluruh uangmu, kau tahu?"


"Kau menjiplak dialog film favoritmu," Dewa menggelengkan kepalanya. "Butuh sepuluh tahun untuk menghabiskan seluruh uangku." Dewa mengucapkannya penuh dengan kebanggaan.


"Kau sombong sekali pak Dewa Saktaraya." keduanya tertawa.


Aya telah sampai di rumah, memasuki kamarnya kemudian mencopot heels yang membuat kakinya sedikit pegal.


Dilemparnya heels itu ke sembarang arah, "Oh tidak." dia menggeleng lalu mengambil sepatu hak tinggi tersebut dan menyimpannya di tempat yang benar.


"Huft, bisa ngomel tujuh hari tujuh malam nih kalau dia liat."


Karena badan yang sedikit pegal-pegal, Aya berendam air hangat di bathup.


.........

__ADS_1


Ting, satu notifikasi masuk di ponsel Aya.


(Apa kabarmu, sayang. Weekend nanti tepat ulangtahun panti. Apa kau akan datang?)


"Sayang? Panti?" Dewa meletakkan ponsel istrinya di dagu.


Aya sedikit ceroboh, ponsel miliknya tertinggal di sofa ruangan Dewa, hingga tak sengaja dia membaca pesan dari Jennifer.


Tersimpan di sana kontak bernama "Mama mertua". Dewa berfikir sejenak.


"Mama mertua." gumamnya.


Dewa menekan foto profilnya, seorang perempuan paruh baya yang masih sangat cantik.


Matanya, hidungnya, wajah itu mirip dengan wajahnya.


"Gak mungkin, ini gak mungkin." Dewa menjambak rambutnya dengan kasar.


Bagaimana Aya bisa tahu, bahkan menyimpan nomornya. Terlihat seperti sudah akrab.


Tunggu...


Sikap Aya tadi siang aneh, tidak seperti biasanya dia seperti itu.


Atau jangan-jangan, ada hal yang dia sembunyikan.


Dewa meninggalkan kantornya dengan perasaan yang rumit untuk dijelaskan.


Brakk!!


Dewa membuka pintu rumah dengan kasar, melonggarkan dasi yang terasa mencekik dia melangkah lebar menapaki lantai rumah itu.


"Sayang, sudah pulang? Katanya pulang jam 9." Aya menyambut kepulangan suaminya dengan senyum merekah


Dewa menggertakkan giginya, rahangnya kini terlihat sangat mengeras. Aya memperhatikan setiap detil perubahan wajah suaminya, dia melangkah mundur.


Dewa terus maju hingga tubuhnya kini tak berjarak sedikitpun karena Aya mentok pada dinding.


"Jelaskan padaku, apa yang kau sembunyikan dariku." Dewa menekan ucapannya.


Aya menggeleng cepat, "Tak ada, tak ada satupun yang ku sembunyikan, apa maksudmu Mas."


"Nomor siapa yang kau simpan dengan nama Mama_Mertua, hah?" Dewa mengeluarkan ponsel milik istrinya kemudian membuka chat dari nomor tersebut.


"Itu... Itu.."


"Siapa!?" Dewa sedikit membentak membuat Aya tersentak kaget.


"Beliau ibumu." ucap Aya cepat diiringi airmata yang menetes.


"Aaaa."

__ADS_1


Brakk, Dewa membanting ponsel tersebut dengan sangat keras ke lantai hingga menjadi beberapa bagian.


Dewa meninggalkan istrinya yamg masih terbengong menatap ponselnya yang hancur berantakan, sudut matanya menangkap sosok Bik Sum yang bersembunyi di dapur.


Perempuan itu menangis dalam diam memegangi dadanya. Aya tersadar Dewa sudah tak ada di hadapannya.


Dia berlari menyusuri anak tangga, rasa takut akan terpeleset dan jatuh dia buang jauh-jauh, saat ini Dewa lebih penting.


Di kamarnya Dewa sudah mengamuk habis-habisan, peralatan make up Aya jatuh berserakan di lantai.


Dua lampu tidur pecah tak beraturan, ranjangnya bahkan sudah tak terbentuk lagi.


Bantal dan dirinya sama berantakan, layaknya kapal pecah.


Aya menangis, menutup mulutnya agar tak bersuara melihat kekacauan kamarnya akibat amarah Dewa.


Sepanjang usia pernikahannya, Dewa tak pernah semarah ini, dia hanya akan pergi menghindar atau mendiamkannya.


Prang.....


Aya terkesiap, itu suara cermin pecah yang berasal dari kamar mandinya.


Segera dia menuju ke sana, benar. Keadaan kamar mandi tak jauh berbeda dari kamarnya.


Dewa memukul dinding kamar mandinya di bawah guyuran shower, membuat tangannya memerah.


Aya menghambur memeluk Dewa dari belakang, "Sudah Mas, sudah."


"AKU MEMBENCINYA!" Dewa berhenti memukul dinding, airmatanya jatuh.


Tubuhnya merosot ke lantai, mereka menangis tersedu-sedu dengan badan yang basah kuyup


Dewa tahu bagaimana wajah kedua orangtuanya, bukan hal sulit baginya untuk mengetahui hal itu.


Beberapa tahun terakhir, Dewa menyelidiki bagaimana keadaan orangtuanya.


Betapa dia sangat membenci dengan kehidupan Jayadi, yang sudah memiliki keluarga baru dan hidup bahagia.


Jennifer yang sudah kembali ke Indonesia namun tak juga menemuinya, ia benci namun juga rindu.


Jayadi melupakannya.


dan...


Jennifer mengacuhkannya.


Chat di ponsel Aya yang seolah mempermainkan dirinya. Menegaskan bahwa dia benar-benar anak yang tak di harapkan.


Hancur!


Perasaannya hancur!

__ADS_1


__ADS_2