Suamiku Tua

Suamiku Tua
Chapter 16


__ADS_3

..._selamat membaca_...


Rona bahagia menyelimuti dua sejoli yang saat ini sedang dimabuk asmara.


Sesekali Aya bergelayut manja di lengan Dewa, dan lelaki itu tanpa malu menghujani pucuk kepala istrinya dengan kecupan.


Aya tak menyangka Dewa akan semesra itu di tempat umum, terlebih ini di kantor.


Mungkin jika dia bukan pemilik perusahaan, sudah barang pasti akan ada yang mencemoohnya.


Baru saja Dewa akan membukakan pintu mobil untuk Aya, ponsel istrinya berdering. Sebuah panggilan masuk.


Aya hanya melirik, kemudian meletakkan kembali ponselnya ke dalam tas.


"Siapa?" tanya Dewa


"Emm.. Andre"


Dewa hanya mengangguk, kemudian masuk ke dalam mobil setelah sang istri juga sudah duduk di jok mobil.


Ponsel Aya kembali berdering. Lagi, Andre menelponnya. Aya hanya bergeming, tak ada niatan sedikitpun mengangkat panggilan tersebut.


"Angkat aja, siapa tahu penting" bujuk sang suami


Aya tersenyum tipis, diambilnya benda pipih yang masih menjerit mendengungkan lagu girlband terkenal asal Korea.


Menggeser tombol hijau kemudian meletakkannya di daun telinga.


"Hallo" ucapnya


"Lagi dimana, Ay. Nonton yuk ntar malem ada film baru, kesukaan kamu" ucap Andre diseberang sana.


"Gak bisa. Maaf ya Ndre. Aku lagi sama suami nih. Bye"


"Apa!? Suami?"


Klik, tombol merah ia tekan, kemudian menekan tombol off, agar ponselnya mati.


Aya melirik Dewa "Kita jalan sekarang, Mas"

__ADS_1


"Hem, ok"


Dua puluh lima menit, mereka sampai di rumah,


"Mas" ucap Aya, yang masih bersender pada bahu bidang Dewa.


"Hem" jawab Dewa.


Saat ini keduanya tengah bersantai di ruang keluarga, menikmati drama korea kesukaan Aya.


"Aku boleh tanya" ucap Aya lagi


"Jangan banyak-banyak ya" goda Dewa


"Ish kok gitu sih, padahal aku punya banyak pertanyaan loh" rajuk Aya.


Dewa kembali menggenggam tangan Aya, jari jemari itu saling bertautan.


"Mau tanya apa?" Dewa menyenderkan kepalanya pada kepala Aya. Menirukan adegan di film tersebut


"Kamu kenapa diam aja waktu aku jalan sama Andre, kalau kamu gak suka kenapa kamu gak larang aku"


"Terus kenapa kamu gantian manas-manasin aku dengan bermesraan gitu sama Katrin" Aya mengerucutkan bibirnya, ia kesal kenapa Dewa tak berterus terang saja.


"Kamu panas?" Dewa memegang dahi Aya dengan punggung tangannya "Enggak kok"


"Bukan keningku yang panas, tapi disini!" Aya menunjuk dirinya. tepat didepan hatinya.


"Boleh aku tanya" Dewa memasang wajah serius, Aya mengangguk cepat.


"Apa kamu ada perasaan sama aku?" ditatapnya lekat wajah Aya.


Aya memalingkan wajah, memutuskan pandangan Dewa yang terasa menghujam jantungnya.


"Aku gak tau, Mas. Tapi beri aku waktu ya"


Dewa mengangkat tangan, menggeser posisi. Dirangkulnya bahu sang istri. Posisi ini benar-benar nyaman, menurut keduanya.


Hari berganti, hubungan keduanya semakin membaik namun hanya sekali saja Dewa seranjang dengan Aya.

__ADS_1


Beberapa kali Aya juga mengajaknya tidur bersama, namun Dewa selalu menolak. Sebagai lelaki normal, tidur seranjang dengan perempuan akan membangkitkan hasrat kelelakiannya. Apalagi Aya telah sah menjadi pasangannya.


Dewa tak ingin merusak cita-cita Aya yang akan melanjutkan pendidikannya sampai selesai. Bagaimana jika sampai Aya hamil, tentu itu akan menghambat kuliah istrinya.


"Mas" Aya menarik lengan Dewa, usai makan malam tadi meraka langsung naik ke lantai dua.


Seperti biasa, Dewa akan mengantar Aya sampai depan kamarnya dan ia akan masuk ke kamar Privacy.


Karena langkahnya dihentikan, Dewa menoleh "Ya" jawabnya.


"Malam ini, temani aku tidur ya" pinta Aya dengan wajah memelas.


"Hem, baiklah" akhirnya Dewa mengalah.


Aya masuk terlebih dulu ke kamar mandi, sementara Dewa berjalan ke walk in closet.


Lepas melakukan serentetan ritual sebelum tidur seperti cuci muka, gosok gigi, memakai piyama dan lain sebagainya, Aya menarik selimut, menutupi sebagian tubuhnya.


Matanya tak kunjung terpejam karena terganggu dengan gerakan Dewa yang seperti orang gelisah, miring ke kanan, mering ke kiri kadang telentang dengan menyentak nafas kasar.


Seperti orang yang merasa tak nyaman.


"Mas kenapa? Capek? Mau dipijit?" tanya Aya.


"Loh kamu belum tidur? tanya Dewa balik.


"Gimana aku bisa tidur kalau Mas terus gerak-gerak kaya orang gelisah"


Dewa mengusap kasar wajahnya "Aku akan tidur di kamarku saja kalau begitu" Dewa hendak bangun namun Aya mencekal lengannya.


"Kita kan suami istri, Mas. Sampai kapan mau pisah ranjang terus?" Mata Aya sedikit berkaca-kaca, lumrahnya seorang suami akan tidur seranjang dengan istrinya.


"Maaf Aya, aku takut khilaf" Jawab Dewa dengan wajah frustasi karena terus menahan hasratnya karena melihat Aya memakai piyama yang sangat sexy menurutnya.


"Khilaf?" tanya Aya bingung.


Dewa kembali menyentak nafas kasar "Aku... Aku hanya akan menyentuhmu jika kamu yang meminta Aya, sudahlah kamu tidur saja, aku akan keluar" Dewa benar-benar beranjak dari kasur.


Aya masih tak menyangka dengan ucapan jujur Dewa, suaminya begitu menghargainya. Sebelum Dewa menyentuh knop pintu Aya sudah tersadar dari lamunannya, segera ia berlaribke arah Dewa.

__ADS_1


Ditubruknya punggung lebar sang suami, dengan melingkarkan kedua tangannya pada perut sixpack Dewa "Jangan pergi, Mas. Tunaikanlah kewajibanmu sebagai seorang suami. Aku meminta nafkah batinku" pipi Aya bersemu merah, bagaimana bisa kata-kata itubmeluncur dengan lancarnya dari mulut Aya?.


__ADS_2