
Buat temen-temen, aku ucapin banyak makasih, udah like juga komen.
Maaf gak bisa bales komen kalian satu-satu, tapi di sini Author melihatnya kok, membaca komentar kalian.
Pokoknya thanks banget 💕💕
..................
Keesokan harinya, karena Aya tak mampu membujuk Dewa untuk menjadikannya sekertaris pribadi, Aya bertekad akan menemani suaminya bekerja.
Pukul lima subuh dirinya sudah bersiap. Berkutat dengan bahan-bahan masakan, Bik Sum datang dari belakang, paviliun yang di khususkan untuk para pelayan.
"Den Ayu," sapanya pada Aya yang sudah standbye di dapur.
"Pagi, Bik." sapa Aya tanpa memandang ke arah kepala pelayan itu.
"Biar menjadi tugas Marni, Den." Bik Sum tersenyum ramah melihat kesibukan istri majikannya.
"Tak apa, Bik. Bukankah ini juga tugasku sebagai istrinya." Aya meletakkan pisau dapur, mengambil wortel dan mengupasnya dengan pisau khusus.
Bik Sum kemudian ikut serta membantu. Dari arah meja makan, Marni nampak lari tergopoh-gopoh, "Ya ampun, aku kesiangan. Maaf Nyonya besar." ia memasang wajah semelas mungkin.
Aya memang jarang bahkan hampir tidak pernah marah, tapi Bik Sum. Kepala pelayan itu sangat tegas, mengingat dia menjaga amanat langsung untuk mengatur para pekerja di rumah itu.
"Gak papa Mbak Marni," Aya menanggapi.
"Ini yang terakhir, Marni." peringatan keras bik Sum berikan.
Pukul tujuh pagi, Dewa dan Aya sarapan. Hanya keheningan yang ada, sesekali Aya mencuri pandang.
"Apa ada yang ingin kau sampaikan." Dewa menegur istrinya, nampak sangat jelas dari ekor matanya, kalau Aya sedari tadi memperhatikannya.
"Uhuk." Aya tersedak memdengar ucapan Dewa.
Dewa menggelengkan kepala, memberinya segelas air putih pada Aya.
"Aku, mau ikut ke kantor. Boleh ya?" ucapnya setelah minum.
Dewa mengangguk pelan.
Pukul tujuh lebih lima belas menit mereka menyudahi acara sarapannya.
"Kamu tunggu lah, ponselku tertinggal di kamar." Dewa beranjak dari duduknya, namun Aya mencegah. "Biar aku saja."
Aya baru saja keluar dari kamar mengambil ponsel Dewa yang tertinggal, namun Bik Sum mencegahnya.
"Den Ayu, rapi sekali. Mau kuliah?"
"Aku mau ikut mas Dewa ke kantor, Bik."
Dahi bik Sum berkerut, kalau sampai Aya ikut ke kantor maka kesempatannya untuk bicara penting dengan Aya akan hilang.
"Ada yang ingin saya ceritakan, Den. Bisakah Den Ayu hanya di rumah saja. Mungkin siang nanti Den Ayu bisa menyusul." Bik Sum sangat serius.
....
Menyerahkan ponselnya pada sang empu, Aya mengantar Dewa pergi berangkat kerja hanya sampai teras.
Jika bukan karena bik Sum memasang raut wajah yang sangat serius, dia tak mungkin tinggal.
__ADS_1
Di dekat kolam renang, mereka duduk berdua.
"Terimakasih, Den. Sudah menyempatkan waktu untuk saya."
"Ada apa, Bik. Sepertinya penting sekali."
"Baiklah, saya langsung saja." Bik Sum membenahi posisi duduknya "Apa Den Ayu tahu tentang masalalu Tuan?"
Masalalu apa? Pacarnya kah?
Hati Aya terasa berkedut, Meski Aya belum mengakui perasaannya secara langsung begitupun Dewa, namun jika bicara tentang masalalu tentang suaminya, hatinya sedikit tercubit.
Bik Sum kemudian menceritakan panjang lebar tentang Dewa, ekspresi Aya berubah-ubah. Kadang dia akan sedih, marah, cemas dan juga takut.
"Jadi, apa saya bisa minta tolong pada Den Ayu, untuk mempertemukan mereka. Saya yakin Den Ayu bisa." ucapnya setelah bercerita panjang lebar.
"Aku gak janji, Bik." Aya menunduk, "Tapi, aku ingin bertemu dengan mertuaku terlebih dahulu."
"Tentu, tentu Den. Ayo." Bik Sum menghapus sudut matanya yang basah, mereka kemudian pergi ke sebuah panti asuhan dengan disupiri pak Suganda.
.......
Aya masih menatap bangunan luas di depannya dari dalam mobil. Hatinya sedikit ragu, apa sudah benar ataukah belum tindakannya ini.
Mereka kemudian keluar dari mobil berwarna hitam itu, membiarkan pak Suganda tetap di dalam, sebab khawatir dia akan melaporkannya pada Dewa.
"Sum, siapa dia." tanya seorang wanita paruh baya di kantornya, ruangan khusus ibu pemilik panti.
"Dia, Devilla Soraya istri Dewa." jawabnya.
Mata Jennifer langsung berkaca-kaca, dia memeluk tubuh Aya begitu erat seolah memeluk anak lelakinya.
Keduanya larut dalam pikiran masing-masing, Bik Sum sudah harus kembali pulang ke rumah, memberikan waktu untuk menantu dan mertua yang sudah sangat lama tak mengenal.
Jennifer mengajak Aya berkeliling, melihat panti asuhan yang ia bangun sendiri. Dan menjadi tempat ternyamannya saat ini.
Kemudian berhenti di meja makan yang terletak di depan dapur. Aya duduk berdiam diri disitu, sedangkan Jennifer membuatkannya minum.
Teh tarik beraroma ringan, dia menyuguhkannya pada sang menantu. "Maaf, Ma... Tant.. Tante tidak tau minuman kesukaanmu," dia membagi secangkir lagi pada Aya, terlihat sangat canggung barang sekedar menyebut dirinya dengan panggilan Mama.
"Terimakasih, Ma." Aya menerima cangkir tersebut dengan senyum yang bersahabat, seolah mengisyaratkan bahwa Aya menerimanya.
Karena masih panas, Teh tarik itu dibiarkan saja di atas meja. Jemari Jennifer terus melingkar memeluk cangkir yang masih mengepulkan asap.
Tangannya dingin, baru bertemu istrinya saja gugup bukan main, bagaimana kalau dia bertemu dengan Dewa secara langsung.
Mereka saling diam, hingga Aya berinisiatif membuka obrolannya.
"Mama, sudah lama tinggal di sini?" mulainya.
Jennifer tersenyum, "Sudah lima tahun yang lalu, saat Mama kembali."
"Kenapa Mama tak menemui kami. Mas Dewa pasti sangat senang bukan?"
Jennifer menggeleng, dia tahu Aya hanya menghiburnya. Agar rindu itu tak bertepuk sebelah tangan.
"Mengetahui dia baik-baik saja, itu sudah lebih dari cukup. Biarlah seperti ini, Mama gak mau melukai hatinya. Dengan kehadiranmu di sini saja itu sudah membuat Mama bahagia, Aya." sudut matanya berair, perlahan buliran airmatanya menetes.
Tangan Aya menyentuh bahu rapuh itu, "Bagi seorang ibu, kebahagiaan anaknya adalah hal yang utama, Mama sadar betul segala penderitaan Dewa karena Mama. Mama yang salah."
__ADS_1
.........
Aya melangkahkan kakinya gontai, mengacuhkan beberapa sapaan karyawan padanya. Tubuhnya ada di sini tapi pikirannya, masih mengingat dengan jelas perbincangannya dengan Jennifer.
Bagaimana ini? Apa yang harus dia lakukan?
Jayadi. Dimana dia sekarang?
"Selamat siang, Nyonya." sapa sekertaris berbadan sexy.
Aya hanya menatapnya, kemudian membuka pintu ruangan tersebut.
Dewa mendongak begitu mendengar suara pintu terbuka. Dia menghentikan aktivitasnya, menyambut istri tercintanya.
"Kamu kembali?" Dewa memeluk pinggang Aya.
Aya memindai wajah suaminya dengan tatapan sendu. Benar kata Jennifer, selama ini Dewa sudah melalui masa-masa yang sulit, bagaimana kebebasannya terbelenggu oleh kediktatoran kakek dan neneknya.
Mereka mendidik Dewa tak seperti seorang kakek dan nenek yang mendidik cucunya, melainkan seperti robot yang harus patuh pada apapun yang diinginkan orang tua tersebut.
Tak ada game online, tak ada masa remaja yang indah. Bahkan sekedar hangout bersama teman sebaya pun sangat langka bagi Dewa.
Aya tanpa sadar menyentuh pipi Dewa, "Kamu kenapa?" Dewa menghentikan tangan istrinya, tak biasanya Aya seperti ini.
Mata Aya berkedip pelan, "Aku tadi habis nonton, filmnya sedih banget. Jadi keinget kamu." kilah Aya.
"Ya, harusnya ada aku bukan yang mememanimu nonton dra.. Dra apa? Dragon ball bukan?"
Aya memukul dada suaminya, pukulan yang pelan namun Dewa mengaduh kesakitan, seolah itu adalah pukulan yang mematikan, "Hei, kenapa kau memukulku. Oh dadaku, rasanya sangat sakit sekali."
"Gak usah akting. Namanya drakor. Drama Korea. Bukan Dragon Ball." Aya mengerucutkan bibirnya, tanda ia kesal.
Dewa terkekeh pelan, "Baiklah, aku salah. Kamu mau duduk di ipangkuanku lagi, atau..."
Aya dengan segera berlari ke sofa. Dia sendiri malu mengingat tingkahnya kemarin yang begitu konyol.
Sedangkan Dewa membereskan beberapa berkas yang tampak berantakan di meja, kemudian melepas jas, menyampirkannya pada kursi.
"Kau sudah makan siang, atau belum?" tanyanya pada Aya.
"Belum, bahkan aku hampir mati kelaparan ini." terangnya dengan mengelus perut.
Dewa tersenyum, memesan makanan pada Samuel yang kebetulan ada di restoran sebrang kantor.
Menyusul istrinya yang sedang bersandar pada sofa, Dewa duduk di sebelah Aya.
"Makasih ya Ay, udah mau jadi istri aku." Dewa mengambil anak rambut yang menutupi wajah Aya kemudian memyelipkannya di belakang telinga.
Aya menegakkan tubuhnya, kemudian dia berbaring. Menjadikan paha Dewa sebagai bantalan.
.
.
.
........
Menurut readers, Jennifer dan Dewa baiknya dipertemukan atau gak usah ya?
__ADS_1