Suamiku Tua

Suamiku Tua
Chaptet 12


__ADS_3

..._selamat membaca_...


Tok.. Tok.. Tok..


"Siapa?" tanya Aya pada orang yang mengetuk pintu kamarnya.


"Saya Bik Sum Den Ayu" ucapnya dari balik pintu


"Masuk Bik"


ceklek..


Bik Sum masuk ke kamar Aya membawa segelas susu coklat hangat.


"Den Ayu, Tuan tadi memerintahkan saya mengantar ini untuk Den Ayu" ucapnya sambil meletakkan segelas susu coklat hangat tersebut di atas nakas.


Aya membuka lemari, mengambil beberapa stel baju miliknya. Diletakkannya baju-baju tersebut di atas kasur empuk.


"Den Ayu mau kemana?"


"Aku mau pindah ke kamar privacy Mas Dewa Bik"


"Maaf, tapi kenapa Den Ayu"


"Aku... Emm.. Rasanya lebih nyaman tidur di sana Bik, apa Mas Dewa akan keberatan kalau aku tidur di sana?" Aya kemudian duduk di tepi ranjang, hatinya benar-benar kosong.


"Saya rasa tuan tak akan keberatan Den Ayu, ya sudah Bibik bersihkan dulu kamar itu"


"Makasih Bik"


Bik Sum hanya tersenyum, mengangguk pelan kemudian keluar dari kamar Aya.


Diambilnya susu cokelat yang Bik Sum berikan, meneguk habis tak bersisa.


Malam ini, biarlah aku hanya bisa membaui aroma tubuhmu sebagai pengganti hadirmu untukku


Selama Dewa tak pulang, Aya selalu masuk ke kamar privacy itu, kamar yang selalu Dewa kunjungi saat ingin memenangkan diri, kamar yang hanya berisikan wangi parfum tubuhnya membuat Aya merasa nyaman.


Meski hanya sekedar masuk kemudian duduk di tepi ranjang itu, merenungi perubahan sikap suaminya yang entah mengapa sebabnya ia sendiri tak tahu.

__ADS_1


Lets kill this love...


nannanana..


Alarm dari ponsel Aya berbunyi, pukul lima pagi, ia biasa memasang alarm agar tak kesiangan untuk menunaikan sholat subuh.


Lepas menunaikan dua rakaat wajib, hatinya sedikit tenang. Ia berniat membawakan sarapan untuk Dewa.


"Mbak Marni" sapa Aya pada juru masak yang sudah berkutat di dapur.


"Selamat pagi nona, ada yang bisa saya bantu?" ucap Marni ramah


"Oh terimakasih, aku akan memasak sendiri sarapan khusus untuk suamiku" ia tersenyum, bayangan Dewa akan memuji hasil masakannya membuat Aya bersemangat hari ini.


"Baiklah, saya mengerti" Marni kembali fokus pada pekerjaannya.


Aya membuka kulkas dipandanginya seluruh isi lemari pendingin tersebut, ada berbagai macam sayuran "Mbak Marni, apa makanan favorit Mas Dewa?"


"Tuan sangat suka masakan rumahan Nona" jawab Marni yang masih fokus pada pekerjaannya, meski Tuan-nya tidak pulang ia tetap akan memasak untuk para pelayan yang lainnya.


"Baiklah, mari kita masak! Caiyo!!" ucap Aya semangat, diambilnya beberapa bahan sayur mayur dan juga udang.


Dia berlari ke kamar, membersihkan diri dari sisa keringat karena memasak dengan guyuran dari air shower. Ah segar..


Hari ini, rambutnya sedikit di ikal, ia selipkan jepitan rambut pada bagian sebelah kiri di atas daun telinganya, jari jemarinya nampak lihai saat memoles bibirnya dengan lipstik warna merah.



"Perfect" ucapnya saat memandangi pantulan dirinya di cermin.


Dengan diantar sopir, Aya menuju ke perusahaan Dewa. Senyumnya terus mengembang, membayangkan dirinya akan menyuapi sang suami sarapan membuat ia terkekeh sendiri, sedikit geli menggelitik hatinya.


Dua puluh lima menit kemudian Aya sampai di perusahaan Dewa, di pegangnya dada yang semakin kencang berdetak, ada rasa gugup, malu dan takut.


Ia membuka pintu mobil, berjalan anggun memasuki gedung pencakar langit tersebut.


"Selamat pagi nona, ada yang bisa saya bantu?" ucap seorang lelaki berbadan tegap yang berdiri didepan pintu.


"Oh pagi, saya ingin bertemu dengan suami saya, Mas Dewa" jawabnya ramah

__ADS_1


"Maafkan saya nona, saya tidak tahu anda adalah istri Tuan besar" security tersebut menunduk ada raut tak segan di sana


"Tak apa Pak"


"Mari saya antar"


keduanya pun masuk ke dalam kantor, mata Aya dibuat takjub dengan suasana kantor tersebut, begitu indah dan berkesan elegan.


Berjalan menyusuri beberapa ruang divisi, suara jemari beradu dengan keyboard terus terdengar begitu pula dengan suara dering telepon terdengar saling bersahutan. Sibuk. Satu kata menggambarkan suasana kantor itu.


"Tuan, saya melihat Nona Aya menuju ruangan Tuan" ucap Samuel di seberang telpon, ia baru saja selesai dari pantry, tak sengaja melihat Aya dan langsung mengabarkan pada big boss.


"Ok" ucapnya datar.


Security tersebut mengantar Aya hanya sampai depan lift khusus ke ruangan Dewa.


Ting..


pintu lift terbuka ia berjalan mondar mandir depan ruangan Dewa.


Masuk


Tidak


Masuk


Tidak


Ada sebuah meja, depan ruangan Dewa namun tak ada orang disitu, biasanya ini adalah meja sekertaris.


Masuk sajalah.


Tok.. Tok.. Tok..


diketuknya pintu ruangan tersebut, namun tak ada jawaban, akhirnya Aya memutuskan untuk masuk.


Ceklek..


"Oh my God" gumamnya, sedikit saja ia mengedipkan matanya, bisa dipastikan airmatanya akan lolos membasahi pipinya.

__ADS_1


__ADS_2