Suamiku Tua

Suamiku Tua
Chapter 27


__ADS_3

Hallo dears, sudah senyum belum hari ini?


____


"Kak Sam," panggil Aya ketika melihat lelaki berbada tegap itu baru keluar dari kamarnya, di paviliun.


"Kenapa." ucapnya datar.


"Aku mau kuliah, tolong anterin ya." pinta Aya.


"Tuan Dewa kemana?" Sam sebenarnya merasa sungkan, meski sisi lain di hatinya bahagia. Bisa dekat dengan gadis pujaan hatinya.


Teringat kembali nasihat sang ibu, bahwa cinta yang ia miliki salah. dan Sam harus mengubur dalam-dalam perasaan itu.


Entah Aya bahagia atau tidak dengan pernikahannya, biarlah itu menjadi urusan mereka.


"Mas Dewa udah ke kantor." kilah Aya, padahal Dewa sedang bersiap di kamarnya.


"Kalau Tuan sudah ke kantor, maka aku harus segera berangkat." Sam berbalik, kemidian menekan handle pintu dan mendorongnya.


"Bareng aja." cegah Aya menahan Samuel agar tak jadi masuk. "Kita kan searah."


"Maaf nona, Tuan Dewa prioritas saya." Samuel masuk ke kamarnya meninggalkan Aya yang masih mengomel .


Akhirnya ia pun memesan taxi online. Beberapa menit kemudian gadis itu sudah sampai di kampusnya.


"Hai cantik." sapa seseorang


Aya masih terus diam dan melangkahkan kakinya cepat-cepat, "Hei, jangan gitu dong." segera dia berlari dan berhenti di depan Aya.


"Ck, apasih, Ndre." Aya menghentikan langkahnya tiba-tiba.


"Kita perlu ngomong, ayo duduk di taman kampus." Andre kemudian menarik lengan Aya agar ikut dengannya.


Kampus tempat di mana Aya kuliah terdapat tiga taman, yang pertama terletak di depan gedung itu sendiri yang berpapasan dengan gerbang masuk kampus.


Kedua ada di samping gedung. Dan terakhir ada di belakang gedung kampus sendiri.


"Kamu udah baikan." Tanya Andre setelah mereka duduk di bangku taman.


"Udah."


"Jadi beneran kamu udah nikah?"


"Iya."


"Kamu harus pisah sama dia, Ay." tangannya menyentuh punggung tangan Aya.


"Apa hakmu, menyuruh dia pisah denganku!" suara bariton menyela pembicaraan mereka.


Aya dan Andre menoleh, sontak Aya langsung melepas tangan Andre. "Mas... Mas Dewa."


Andre langsung berdiri, berjalan ke arah Dewa, "Karena Anda tak pantas untuk Aya." netranya menatap tajam lelaki yang kemejanya digulung sampai lengan.

__ADS_1


"Haha, lalu? Hanya kamu yang pantas?" Dewa memasukkan kedua tangannya di saku celana.


"Sudah, cukup!" Aya menggamit lengan Dewa, "Ayo pergi, Mas." kemudian mereka menjauh dari Andre.


Mereka sampai di mobil Dewa, namun masih di luar belum masuk ke mobil itu "Ngapain sih, kesini? Mau kuliah?"


"Iya." Dewa menggertakan giginya, melihat Aya yang di tarik Andre hanya diam saja, dan kemudian duduk berdua. Membuat amarahnya memuncak, namun sebisa mungkin ia tahan.


Aya mengernyit, melihat Dewa yang sedang menahan amarah buru-buru dia melepas gamitannya di lengan Dewa dan melenggang masuk ke mobil.


Dewa pun masuk ke mobil, Aya masih diam saja.


"Di rumah aku nyari kamu, udah aku suruh tunggu bentar, selagi aku bersiap malah udah kabur. Gak taunya mau pacaran! Pantas buru-buru."


Baru saja Aya membuka mulut hendak menjawab, Dewa sudah kembali mencerocos, "Enak ya selingkuh, aku jadi ingin mencobanya, lelaki sepertiku pasti mudah mendapatkan banyak wanita, bukan begitu Nona Devilla Soraya?" Dewa menyeringai, mendekatkan wajahnya pada Aya hingga hembusan nafasnya begitu terasa.


"Terserah, mau punya istri banyak pun terserah!" Aya memalingkan wajahnya.


"Kamu benar sekali, Ayo temani aku cari selingkuhan." Dewa menstarter mobil, membawanya pergi dari gedung menara gading tersebut .


"Kamu udah gila, Mas. Setidaknya ceraikan aku dulu kalau mau punya istri lagi." kini buliran bening berhasil membasahi pipi Aya.


"Loh kok marah, kan kamu yang mulai selingkuh. Apa tadi aku minta cerai pas memergokimu selingkuh. Enggak kan?"


"Aku gak selingkuh, Mas. Ayo kita ke kantor. Aku akan menemanimu bekerja hari ini." Aya mengusap air matanya dengan punggung tangan.


Dewa tersenyum tipis sangat tipis melihat tingkah istrinya. Dewa tahu Aya tak selingkuh, hanya saja Dewa tak ingin Aya dekat dengan lelaki manapun.


Flashback..


"Loh, Tuan. Anda masih di rumah. Bukannya tadi Nona Aya bilang anda sudah ke kantor." tanya Samuel yang melihat Dewa baru turun dari tangga.


"Terus di mana Aya sekarang?" tanya balik Dewa.


"Sepertinya sudah berangkat ke kampus."


"APA!. Bukankah sudah ku bilang untuk menunggu. Sam, kau berangkatlah ke kantor. Nanti aku menyusul."


"Baik, Tuan."


Dewa mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi, bahkan saat di perempatan jalanpun yang tiga detik lagi akan lampu merah, Dewa berhasil menerobosnya.


"Kurang ajar! Berani sekali anak ingusan itu menyentuh Aya." Dewa memperhatikan keduanya dari dalam mobil , tangannya mencengkeram erat stir, melampiaskan emosinya.


Kemudian Dewa turun dari mobil mengikuti Aya dan Andre. Emosinya semakin memuncak mendengar Andre, memprovokasi Aya untuk bercerai dengannya.


Flashback off.


Setelah sampai di kantor, Dewa terlebih dulu keluar dan masuk ke perusahaannya tanpa menunggu, ataupun membukakan pintu mobil untuk Aya seperti biasanya.


Aya kemudian berlari kecil mengejar Dewa, mensejajari langkah suaminya.


"Pagi monica, kamu cantik sekali hari ini." goda Dewa pada karyawatinya, membuat Aya mendelik sempurna.

__ADS_1


Aya menyeret Dewa untuk segera masuk ke ruangannya, sedangkan Monica masih tak menyangka bos yang biasanya jutek, pagi ini menyapa dirinya.


Brakk!!


Di bukanya dengan kasar pintu ruangan Dewa, Aya membanting tas sandangnya di sofa. "Jadi seperti itu, kelakuanmu di kantor."


Dewa melenggang santai dan duduk di kursi kebesarannya. Mengaktifkan laptop kemudian mulai sibuk memeriksa e-mail yang masuk.


"Mas!"


"Iya." sahut Dewa namun masih fokus dengan laptopnya dengan jari yang terus menari di papan keyboard.


Aya menghentakkan kakinya, kemudian berjalan ke arah Dewa, ditariknya kursi itu membuat Dewa menghadap ke Aya.


"Apa sih, Ay. Aku lagi sibuk ini."


"Dan aku sedang marah." jawabnya


Dewa menggelengkan kepala, kemudian memutar kursinya kembali fokus ke laptop.


Aya semakin marah karena Dewa mengabaikannya. Hatinya diliputi perasaan cemas, bagaimana jika Dewa beneran cari selingkuhan atau istri baru?


Hubungan pernikahan ini tak jua maju ataupun mundur. Masih renggang.


Tok.. Tok.. Tok..


"Boleh saya masuk, Pak." tanya seorang perempuan di luar pintu ruangan Dewa.


Bugh..


"Aya, apa yang kamu lakukan? Ayo cepat turun!" titah Dewa pada istrinya, karena tiba-tiba Aya duduk di pangkuan Dewa, membuatnya kaget.


"Masuk." ucap Aya pada seseorang yang masih berdiri di depan pintu. Dewa membelalakkan matanya, bagaimana bisa dia menerima tamu dalam kondisi seperti ini?.


Ceklek..


pintu terbuka, Katrin kaget bukan main melihat Aya duduk di pangkuan Dewa. Menghalangi Dewa dari pandangannya, karena ya, Aya duduk dengan kaki menopang di atas kaki Dewa.


"Maaf, saya mengganggu." ucapnya sungkan.


"Ada perlu apa, Katrin." ucap Aya datar.


"Saya hanya ingin memberitahukan, kalau satu jam lagi Tuan Dewa ada meeting dengan clien di Sunset resto n' cafe."


"Makasih Kat.. Aww." jerit Dewa karena Aya menginjak kakinya dengan keras.


"Kamu boleh pergi, Katrin."


"Saya pamit undur diri, tuan nona."


Katrin pun keluar dari ruangan dengan seribu tanya di hatinya. Memang Aya-lah yang menyuruh masuk, tapi Katrin tak menyangka kalau keduanya sedang di posisi yang begitu intim.


"Turun, Ay. Aku mau lanjutin kerjaanku." Dewa membopong tubuh Aya agar tak lagi duduk di pangkuannya.

__ADS_1


__ADS_2