Suamiku Tua

Suamiku Tua
Chapter 25


__ADS_3

Melihat sudah ada 45 orang yang menambahkan cerita Author ke dalam daftar favorite, Author ucapin makasih. Author terharu dears. 🍃🍃🍃


______


"Dasar mesum!" aku berlari kecil ke luar kamar, sebelum suami tuaku itu semakin menjadi.


Masih bisa kudengar tawa cekikikannya.


Aku memutuskan untuk makan, sedari siang hanya nyemil biskuit saja.


Untung juga aku selalu nyetok biskuit dalam tas. Jadi bisa dimanfaatkan dalam kondisi darurat seperti ini, contohnya.


Masa bodohlah dia udah makan atau belum, toh udah jam delapan ini. Palingan juga udah makan.


"Loh, Den Ayu." Bik Sum menyapaku, sepertinya dia dari teras belakang rumah.


"Ya bik, makan bik." tawarku, basa-basi. Gak enak dong kalau lagi makan begini ada orang lewat gak di tawarin.


"Makasih, Den. Den Ayu makan sendirian saja? Tuan Dewa mana?"


"Lagi mandi kayaknya." ucapku cuek dengan terus menyendokkan nasi ke dalam mulut, "Bik Sum, masak banyak hari ini, tumben." tanyaku, karena melihat masakan bik Sum belum tersentuh.


Dahi bik Sum berkerut, "Ini masakan tadi siang, Den sama tadi barusan Marni masak juga. Jadi ini dua kali masakan yang belum di makan." terang bik Sum.


"Oh, maksudnya mas Dewa pesen makanan online?"


"Tuan belum juga makan dari tadi siang, Den. Dari siang gak keluar-keluar dari kamarnya." Bik Sum menyentuh lenganku "Den, Tuan ada sakit maag. Jangan sampai telat makan, takut kambuh nanti." raut wajah bik Sum nampak cemas.


Benar juga kata bik Sum, kalau sampai sakit kan repot ntar.


Baiklah, kali ini aku akan mengalah. membawa sepiring nasi dan juga jus melon kesukaan mas Dewa, aku masuk ke kamar.

__ADS_1


Oh ya ampun, lelaki yang begitu sehat dan gagah itu sedang meringkuk di balik selimut, seperti orang pesakitan.


Kuletakkan piring dan gelas di atas nakas, dapat kulihat keringat dingin bercucuram di dahinya.


Wajahnya-pun nampak pucat. "Mas, kamu demam?"


"Hem, perutku sakit. Ay." syukurlah dia masih bisa membalas ucapanku, meski matanya terus terpejam.


"Ayo makan dulu, biar ku suapi." kemudian aku membantunya untuk duduk bersandar pada ranjang.


"Mau kupanggilkan dokter, Mas?" Mas Dewa menggeleng. "Temani aku tidur ya, Ay."


Aku meletakkan piring kotor kembali di nakas. "Tidur sendiri gak berani? Aku mau taruh piring kotor ke dapur ini."


"Aku takut." lihatlah dia, sekarang tingkahnya seperti anak kecil yang minta dikelonin.


"Udah tua masa masih takut tidur sendiri sih." ucapku mencibir.


"Selama ini emang siapa yang nemenin mas tidur?" sekarang wajahnya berganti cemberut.


"Hem.. Iya deh iya." baru aku akan berdiri, tanganku sudah di tahan olehnya "Temani aku sebentar di sini, ya."


Melihat wajahnya yang memelas dan masih pucat, aku mengiyakan saja permintaannya.


"Karena Mas baru selesai makan, jangan tiduran dulu ya, kita duduk dulu." aku menaiki ranjang dan ikut duduk di sampingnya.


"Maafin aku ya Ay."


"Berat mas."


"Aku tau kesalahanku fatal banget, aku juga udah jelasin semua ke kamu kan? Apa alasanku."

__ADS_1


"Maksudku, kepala kamu ini jangan bersandar di bahuku, rasanya berat."


Mas Dewa berdecak, "Ku kira apa, tapi kamu maafin aku, kan?"


"Kita lihat saja nanti, apa ayah akan memaafkanmu atau tidak."


"Besok kita ke rumah orangtua kamu, oke." aku mengangguk pasrah, mas Dewa juga harus minta maaf sama orangtuaku, karena mereka juga ikut merasakan dampaknya.


Keesokan harinya, mas Dewa sudah segar kembali. Wajah pucat semalam pun sudah berganti dengan wajah yang berseri-seri seperti biasanya.


Hari ini, kami berencana akan pergi ke rumah Ayah. Rumah lama kami di cluster Residence, salah satu komplek perumahan elite.


Sudah sepuluh menit setelah sarapan, mas Dewa tak kunjung ke luar kamar.


Jadi gak sih, lama banget. Kayak anak gadis aja, dandannya lama.


Karena sudah tak sabar menunggu, aku menyusul ke kamar.


Ceklek..


Ha? Ini benar suamiku? Mas Dewa? Atau siapa?


Aku masih terpaku di pintu, menatap kagum ke arah lelaki yang sedang berdiri memegang ponselnya. Mungkin sedang membalas chat penting, sampai tak menyadari keberadaanku.


"Hai, melamun." mas Dewa melambaikan tangannya tepat di depan wajahku. Sekarang malah aku yang tak menyadari keberadaannya.


Haiss, jangan sampai dia tahu kalau aku terpesona melihatnya.


Baru kali ini aku melihat mas Dewa begitu tampan, dan tampak sexy. Hihi.


__ADS_1


Hiss! Sadar dong, dia sudah bikin kamu kecewa. Jangan terus menatapnya.


Aku memukul pelan kepalaku, berharap kewarasan masih didalamnya.


__ADS_2