Suamiku Tua

Suamiku Tua
Chapter tiga


__ADS_3

Om Dewa terus menggenggam tanganku, saat sudah sampai di ruang makan barulah ia melepaskan pegangannya.


Berjalan terlebih dulu, kemudian menarikkan kursi untukku "Ayo sayang"


"Terimakasih" ucapku. Aku langsung duduk, Om Dewa tak mengijinkanku melayaninya, dia sendiri yang akan mengambilkan nasi beserta lauk pauknya untukku.


Di rumah sebesar ini, kenGapa hanya Om Dewa yang menempatinya, kemana keluarga Om Dewa?


Apa jika aku tanyakan langsung padanya Om Dewa tak akan tersinggung.


"Ya ampun, karakter suami saja aku gak tau" batinku.


"Sayang ayo dimakan, kenapa melamun saja" ucap Om Dewa karena mungkin ia memperhatikanku yang terus melamun.


"Eh iya Om, ini saya makan"


Lelaki itu meletakkan sendok dan garpunya di atas piring "Sampai kapan kamu mau panggil aku Om, aku suami kamu sekarang" bahkan tangannya kini kembali menggenggamku.


Om Dewa kemudian beranjak dari tempat duduknya, berpindah ke kursi disebelahku, menggesernya begitu dekat, hingga lengan kami bersentuhan. Tak lupa ia juga membawa makanannya.


Cup..


Mataku terbelalak saat ia mendaratkan kecupannya pada pipi mulusku.


"Om" pekikku


"Kenapa? Mau lagi?"


Cup..


Belum sempat aku menjawab, ia sudah kembali mencium pipiku. Duh, apaan sih nih orang.

__ADS_1


Aku memilih diam, mau ngomong takut dicium lagi. Aku menghabiskan makanku dengan cepat guna menghindari sentuhan dari Om Dewa lagi.


Selesai makan, aku menaruh piring kotorku di dapur, hendak mencucinya.


"Sudah ada pelayan yang akan mencuci piring kotor itu, kamu temani aku saja menonton tv" ia menarikku, aku terpaksa menurut.


Sengaja kupilih duduk agak menjauh dari Om Dewa. Lelaki bergelar suamiku itu tersenyum melihat tingkah konyolku.


Sinetron yang aku tonton sudah berakhir, Om Dewa juga sudah kembali ke kamarnya, sebenarnya aku mengantuk berat, tapi mau ke kamar takut digrepe-grepein sama dia.


Hoamm... Ngantuk sekali, aku memutuskan untuk rebahan saja di sofa.


......


"Selamat pagi istriku" ucapnya saat aku membuka mata, terbangun dari tidur nyenyakku semalam.


"Pagi" aku kemudian menatapnya.


2


3


"Aaaaa"


"Hei kenapa teriak?"


"Semalam aku tidur di sofa, kenapa pagi ini sudah berpindah ke kasur, apa yang Om lakukan" aku mulai terisak, melakukan pemeriksaan mandiri keseluruh badan.


"Hei yang benar saja aku membiarkan istriku tidur di sofa" kemudian Om Dewa mulai menuruni ranjang, ia menuju kamar mandi.


"Oh syukurlah semua masih utuh, bagian bawahku juga tak merasakan sakit" gumamku.

__ADS_1


"Aku memang tak melakukan apapun padamu, tak perlu khawatir" suara Om Dewa aku terlonjak kaget, kukira dia mandi ternyata hanya cuci muka saja, pantas cepat keluar.


"Apaan sih" ucapku cuek


Tiba-tiba saja Om Dewa menarikku, aku yang tidak siap langsung terjatuh di pangkuannya.


"Dengarkan aku Devilla Soraya, kita memang sudah menikah. Meski kau belum menerimaku seutuhnya tapi cobalah jalani pernikahan ini dengan serius, karena akupun menjalani ini semua dengan sepenuh hatiku"


"Satu lagi, jangan panggil aku Om, aku suamimu"


"Maaf O..om eh Mas, beri aku waktu" aku mencoba melepaskan diri dari pangkuan Om eh Mas Dewa.


"Oh shit" umpat Mas Dewa.


"Ke..kenapa Ma..mas"


"Kamu banyak gerak membuat juniorku terbangun" Mas Dewa kini meremas pinggangku


"A..apa"


"Kau harus bertanggung jawab"


Melihat keadaan sedikit memihak padaku karena Mas Dewa mengendurkan sedikit dekapannya, akupun bangun langsung berlari menuju kamar mandi.


Hah..hah..hah


Nafasku memburu, sebentar lagi, sebentar lagi dia akan menyesap sari maduku kalau aku tak kabur.


Enak saja.


"Hahaha, kamu menggemaskan sayang" ucap Mas Dewa

__ADS_1


__ADS_2