Suamiku Tua

Suamiku Tua
Chapter 28


__ADS_3

...


Aya semakin kesal, karena Dewa mengabaikannya. Kemudian dia berjalan menuju sofa, menyalakan televisi dengan suara kencang.


"Kecilin dong, Ay. Aku gak bisa konsen ini." pinta Dewa.


Namun Aya mengacuhkannya, jika bukan karena pekerjaan yang sangat penting, Dewa sudah akan mendekati Aya.


Menggodanya dan membuat istri bocahnya salah tingkah. Melihat Aya yang masih bergeming tak mau mengecilkan volume TV, Dewa akhirnya memasang headset, agar kembali fokus.


Sejam berlalu, Dewa menyiapkan beberapa berkas yang akan menjadi bahan meeting. Dia bergegas keluar dari ruangannya.


Karena terburu-buru, Dewa melupakan kehadiran Aya.


"Maaf, Tuan." langkahnya terhenti karena panggilan dari Katrin.


Dewa menoleh, "Perkenalkan Tuan, dia Sintia. Calon sekertaris Tuan yang akan menggantikan posisi saya." ucap Katrin.


Sintia mengulurkan tangan, namun belum sempat tangan itu menjabat tangan Dewa, seseorang yang baru keluar dari ruangan sang Presdir terlebih dulu menerima uluran tangan itu.


"Selamat bergabung, Sintia." ucapnya seramah mungkin.


Sintia, Dewa dan Katrin kaget melihat kejadian itu. Namun kedua perempuan itu langsung mengatasi keadaan dengan kembali bersikap tenang.


Aya memandang sinis pada Sintia, dari ujung rambut hingga ujung kaki. Tak lepas dari tatapan tajam Aya.


Sekertaris apaan, baju kurang bahan aja dipake. Mau jadi sekertaris atau godain bos.


"Hem. Baik. Kerjakan tugasmu." Dewa kembali melangkah,


"Mas, aku ikut." teriak Aya yang kembali di tinggal Dewa.


"Siapa dia, Kat." tanya Sintia.


"Istri bos." jawab Katrin kemudian dibalas gerakan mulut Sintia membentuk huruf O.


Sampai di mobil, Dewa melihat istrinya yang sesekali mengangguk dan menggeleng seperti orang sedang berfikir.

__ADS_1


"Kamu gak kuliah?" tanya Dewa


"Bukannya aku sudah bilang akan menemanimu bekerja, Mas."


"Kuliah lebih penting, aku anterin kamu ke kampus dulu ya, Sam kita ke kampus." ucapnya pada Samuel yang duduk di belakang kemudi.


"Gak mau, lagian udah gak ada mata kuliah juga."


"Nanti kamu bisa bosan kalau harus ikut aku kerja."


"Gak."


"Kamu mau belanja?"


"Kamu kenapa sih, gak suka banget ya ada aku?" Aya mulai meninggikan suaranya.


"Terserah kamu lah." ucap Dewa cuek.


"Mas."


"Hem."


"Katrin hamil, dia mau resign. Jadi sebelum dia benar-benar keluar, aku mau sudah ada sekertaris yang bisa menggantikan posisinya, tanpa harus mengajarinya lagi."


Aya menyenderkan kepalanya pada bahu bidang Dewa, "Aku aja mas yang jadi sekertaris kamu."


"Hahaha, serius kamu!"


Mendengar gelak tawa suaminya, Aya kembali pada posisi duduk yamg tegak. "Kok gitu sih responnya." sungutnya


"Kuliah aja yang bener."


Mobil kembali melaju dengan tenang, mengantar mereka menemui client.


Di tempat lain.


Suara gemericik air menjadi saksi betapa sudah lima belas menit yang lalu, dua wanita paruh baya masih diam setelah bertemu.

__ADS_1


Di panti asuhan yang wanita itu dirikan, pada halaman depan terdapat sebuah air mancur buatan. Kolam kecil sebagai penampung airnya berisikan beberapa ikan hias.


Plung..


Beliau melemparkan pelet ke dalam kolam, ikan-ikan bergerombol saling berebut makanan.


"Bagaimana dia sekarang." tanya seorang wanita paruh baya, yang sedang memegang mangkuk berisi pelet ikan.


"Dia sudah menikah." ucap lawan bicaranya.


Kemudian dia kembali duduk, di bangku yang sengaja diletakkan depan air mancur.


"Mau sampai kapan, Anda bersembunyi nyonya? Tidakkah Anda merindukan tuan Dewa?" tanyanya.


Wanita itu, Jennifer. Usianya sudah lebih dari setengah abad. Namun sosoknya masih nampak anggun lagi cantik.


"Saya tidak bisa menentukan, akan bertemu dengannya di waktu dekat ini." Jenny menghela nafas berat.


Rindu akan bertemu dengan buah hatinya, kian hari kian tak terbendung saja.


Namun, mampukah Dewa memaafkannya?


"Apa pantas? Seorang ibu seperti saya yang meninggalkan bayi merahnya pergi, tiba-tiba datang menemuinya? Sum, menurutmu bagaimana?" Jenny membenci keadaan, dimana ia tak mampu memilih.


"Nyonya, saya siap membantu nyonya." Bik Sum menggenggam erat tangan Jenny, menyalurkan kekuatan yang mungkin saja majikannya itu butuhkan.


Lima tahun yang lalu, setelah kepulangannya dari luar negri Jennifer membangun sebuah panti asuhan.


Panti asuhan tersebut sengaja didirikan sebagai bentuk kasih sayangnya terhadap Dewa, ia sadar betul tangannya tak mampu menjangkau anak yang sangat ia rindukan.


Anak yang lahir karena sebuah kesalahan, namun tak sedikitpun ia menyalahkan Dewa.


Naluri keibuannya tumbuh begitu saja dalam hatinya, menjadikan ia tak berdaya ketika kedua orangtuanya memberi pilihan.


Dimana Jayadi sekarang?


Jika Jennyfer sudah kembali, lalu kemana Jayadi pergi?.

__ADS_1


Akankah Dewa berkumpul dengan kedua orangtuanya?


Akankah Dewa berbesar hati memaafkan Jennyfer?


__ADS_2