Suamiku Tua

Suamiku Tua
Chapter 4


__ADS_3

Pov Dewa


"Nak Dewa, saya sangat berterimakasih pada Nak Dewa karena sudah banyak membantu kami, apa jadinya kalau nak Dewa tak menolong kami" ucap lelaki paruh baya itu, Pak Wahid. Ayah dari Devilla Soraya.


Gadis cantik yang berhasil memikat hatiku, membuat hariku penuh dengan bayang-bayangnya.


Aku harus memilikinya. Usianya belum genap sembilan belas tahun, berbeda jauh denganku yang kini sudah mencapai kepala tiga, namun obsesiku untuk memilikinya sungguh tak mampu aku bendung.


Pak Wagid, lelaki paruh baya itu memang rekan bisnisku, aku bertambah semangat karena ternyata Devilla adalah anak Pak Wahid.


Aku menyusun berbagai rencana untuk membuat bisnis Wahid hancur. Lalu aku akan datang memawarkan bantuan hingga ia tak mampu menolak keinginanku.


"Pak Wahid tenang saja, saya senang bisa membantu orangtua dari gadis yang saya cintai" ucapku tanpa basa basi saat lelaki tua itu memyesap teh hitamnya


Kami sekarang berada di cafe Findland, tempat biasa untuk aku bertemu klien selain kantor, cafe ini juga milikku, sebagian dari bisnis yang aku rintis.


Lelaki tua itu nampak melipat kening "Gadis yang anda cintai? maksud anda Aya?" lelaki tua tersebut nampak berbinar


"Ah iya, saya memang sudah lama jatuh hati pada Aya, semenjak tak sengaja ia menabrakku saat saya akan mengisi acafa seminar dikampusnya" ucapku terus terang


"Ah maafkan anak saya Nak Dewa, dia memang ceroboh" Pak Wahid memasang wajah bersalah

__ADS_1


"Tak mengapa, harusnya saya-lah yang minta maaf karena saya sudah lancang mencari informasi tentang Aya, putri bapak"


"Ah, tak mengapa Nak Dewa, jadi kapan Nak Dewa akan melamar putri saya?"


Daebak, terasa mulus sekali jalan mendapatkan Aya.


.........


Akhirnya aku resmi memiliki Aya seutuhnya, kupastikan takkan ada yang bisa mengambil Aya dariku.


Anak itu sangat menggemaskan, selalu terlihat gugup saat aku mendekatinya, padahal aku takkan menyakitinya.


Aku sudah bangkit, tanpa mereka-pun aku bisa berdiri. Bisnis yang aku punya bukanlah bisnis yang biasa. Aku memiliki segalanya. Aku bangga.


Seharusnya Aya bersyukur, dari sekian banyak perempuan aku memilihnya.


Meski cara yang kulakukan untuk memiliki Aya tergolong salah, tapi aku serius dengan pernikahan ini. Aku akan membuatnya sangat mencintaiku hingga tak ada lelaki lain yang mampu mengalahkan pesonaku dimatanya.


"Mas" ucap istriku, memasuki ruangan kerjaku. Setelah makan malam selesai aku memang kembali bekerja di rumah.


Menjadi pemilik perusahaan, tak membuatku punya banyak waktu luang, tapi sebisa mungkin aku sempatkan waktu untuk bersama Aya, agar gadis itu tak merasa kesepian di rumah sebesar ini.

__ADS_1


Gadis? Bukankah seorang perempuan yang sudah menikah tak lagi menjadi gadis. Tentu saja Aya masih gadis, karena sampai detik ini aku belum menyentuhnya.


Malam pertama yang seharusnya dihiasi dengan desahan erotis dari kedua mempelai aku tunda, sampai tiba waktunya Aya yang meminta sendiri.


Aku sadar, memaksa Aya melayaniku adalah tindakan yang buruk, mengingat Aya terpaksa menikah denganku, tentunya atas kuasaku.


"Ya sayang" jawabku masih dengan fokus pada layar laptop.


Meski begitu aku masih dapat melihat, ia berjalan kearahku.


"Mas" panggilnya lagi, setelah ia duduk di depanku. Terpaksa aku menghentikan sejenak pekerjaanku.


Kutatap wajah cantik itu, sepertinya ada hal penting yang ingin ia bicarakan "Kenapa Aya" tanyaku kemudian.


Istri cantikku ini tak kunjung bicara, justru ia menundukkan pandangan, menggigit bibir bawahnya, membuatku ingin mengecup bibir merah itu.


"Ah, pikiran macam apa ini" gumamku. "Aya, ada apa" ulangku.


"Boleh gak aku kuliah" ucapnya terbata.


"Apa?"

__ADS_1


__ADS_2