
__Sorry dears, lama up-nya. Aku lagi suka baca karya orang.
Untuk yang masih setia, menambahkan karya ini ke daftar Favorite, aku ucapin makasih sebanyak buih di lautan. 😍😍___
_______
Sepulangnya dari luar negeri, kedua orangtua Jennifer begitu murka mengetahui anak gadisnya berbadan dua.
Mau tak mau, mereka harus merelakan pria yang telah menanamkan benih di rahim Jenny bertanggung jawab. Sekalipun dia adalah Jayadi, seorang pelayan.
Pernikahan berlangsung sederhana dan tertutup, secara sirri. Meski keduanya resmi menjadi pasutri, namun tak pernah sekalipun Jayadi satu kamar dengan Jenny.
Jayadi tetap bekerja di rumah Jenny sebagai supir pribadi. Setelah kelahiran bayi mereka, Jayadi diminta menceraikan Jenny demi masa depan Jenny yang sempat tertunda.
Dan mengusir Jayadi
Orangtua Jenny mengirim Jenny ke luar negeri untuk fokus kuliah, kali ini Jenny tak bisa menolak, karena Pak Alian dan Bu Siska mengancam akan menyakiti Dewa kecil.
Dewa kecil tumbuh dalam asuhan Bik Sum, menuruti semua keinginan kakek dan neneknya tanpa terkecuali, meski terkadang di luar keinginan Dewa.
Jika menjadi anak orang kaya sangat menyenangkan, berbeda dengan Dewa. Hidupnya seperti di neraka.
Salah sedikit saja, pukulan melayang di tubuhnya, luka memar dan biru bukanlah hal yang tabu bagi Dewa.
Hingga ia beranjak dewasa, tak sekalipun Jenny menjenguknya. Membuat Dewa membenci keluarga itu. Sangat!
Kakek dan neneknya selalu meracuni pikiran Dewa dengan perkataan buruk. Mengatakan jika Dewa adalah anak haram, gara-gara dia, Jennifer pergi sebab malu dengan masalalunya.
Hingga suatu hari, kakek dan neneknya mengalami kecelakaan lalu lintas. Menewaskan keduanya di lokasi kejadian.
Tak ada air mata di wajah Dewa. Dia bahkan bersyukur Tuhan mengambil nyawa kedua orang tua tersebut.
Dan kini, dialah Dewa. Penerus satu-satunya perusahan dan seluruh kekayaan yang ditinggalkan kakek dan neneknya.
Dia juga sudah membangun bisnisnya sendiri, sebuah pabrik mie instan terbesar di Asia.
Flashback off, back to now.
Aya mengerjapkan matanya, mulutnya meringis saat sakit di kepalanya mulai menyerang.
"Au!"
Dewa menoleh, "Kau sudah bangun?" tanyanya, "Sebentar, akan ku panggil dokter untuk memeriksamu."
"Tunggu, Mas." serunya.
Dewa berhenti, menoleh pada Aya "Ya." singkatnya.
"Duduk dulu sebentar." Dewa menurut, ia duduk di kursi samping brangkar.
__ADS_1
"Mas, maafin aku ya, gara-gara aku gak nurutin ucapan Mas, aku jadi begini." terang Aya.
Dewa tersenyum, sebisa mungkin ia menahan amarah yang begitu bergejolak.
"Tepatilah janjimu, Aya. Aku sudah berbaik hati padamu selama ini. Jika kau masih tak mau menurut, maka kedua orangtuamu akan menanggungnya."
"Apa maksud kamu, mas?"
"Aku tidak ingin kau dekat dengan pria lain. Bukankah sudah ku katakan kau diam saja di rumah sampai aku kembali." ketus Dewa
Aya memjamkan matanya, sakit di kepalanya semakin menjadi saja.
Dewa yang melihat Aya sedang meringis kesakitan, dia buru-buru keluar memanggil dokter.
4 hari kemudian, Aya sudah diperbolehkan pulang. Beberapa kali Bik Sum nampak menemani Aya di rumah sakit, karena pekerjaan kantor sudah sangat menggunung. Membuat Dewa sering absen menemani Aya.
Karena khawatir kepala Aya sering pusing, akhirnya Dewa meminta Aya untuk cuti kuliah sampai keadaannya benar-benar fit.
Di sebuah kamar paviliun, seorang wanita paruh baya memandang dinding kamar anaknya, hatinya hancur.
"Ini tidak mungkin! Ini pasti salah." wanita tersebut menggelengkan kepala, berharap apa yang dia lihat hanya sebuah mimpi.
"Pantas, kau selalu mengunci kamarmu, dan tak mengijinkan siapapun masuk ke dalamnya. Termasuk aku, ibumu sendiri" air mata lolis begitu saja membasahi pipi yang sudah menunjukkan tanda-tanda penuaan.
"Dia memang cantik, sangat cantik. Tapi kenapa kamu juga ikut mencintainya." Wanita tersebut mengulurkan tangannya, di usapnya foto seorang perempuan yang begitu banyak tertempel di dinding kamar anaknya.
"I..ibu." ucap lelaki tersebut.
Wanita paruh baya yang dipanggil ibu-pun menoleh. "Jelaskan pada ibu, Sam. Mengapa ada begitu banyak foto Aya, di sini! Hampir memenuhi dinding kamarmu! Cepat jelaskan!" amuk Bik Sum.
Ya, karena sedari siang Bik Sum tak melihat ada Samuel. Dia pikir Samuel ada di kamar, dirinya pun merasa heran melihat kamar Samuel yang tak terkunci seperti biasanya.
"Aku.. Aku mencintainya, Bu." aku Samuel.
"Devilla Soraya majikanmu! Dia istri Tuanmu, Sam!"
"Aku tahu itu, dan aku akan merebutnya."
Plakk..
Samuel meringis, hatinya hancur. Seumur hidupnya baru kali ini dia ditampar oleh ibunya sendiri.
"Terimakasih, Samuel. Ibu kira dengan mengasuh Dewa sedari kecil bersamamu, kalian tumbuh layaknya saudara yang saling melindungi. Ibu kira perlakuan Dewa dan Aya terhadap ibu, sudah menganggap ibu sebagai keluarga. Ibu kira kebaikan Dewa pada kita adalah tulus dengan tidak membandingkan harga sebuah derajat. Tapi sekarang, kau telah menunjukkan posisi kita. Yang hanya seorang rendahan, terimakasih Samuel!" ucap bik Sum melampiaskan amarahnya.
"Bu, apa maksud ibu? Apa aku salah jika aku berjuang mempertahankan cintaku, bu?"
Plakk, sekali lagi tangan halus itu melayang. Mendarat dengan sangat kencang di pipi Samuel.
__ADS_1
"Jika kau masih menghargai aku sebagai ibumu, hapus semua foto ini beserta rasa di hatimu. Buang itu semua jauh-jauh! Mereka sudah menikah. Biarkan kali ini Dewa bahagia, Sam. Ibu mohon." Bik Sum bahkan bersimpuh di kaki Samuel, membuat lelaki tersebut terenyuh.
Ibunya benar, ini salah. Dia harus merelakan Aya untuk Dewa. Sejak kecil bahkan Samuel melihat dengan mata kepalanya sendiri betapa memyeramkannya hidup Dewa kecil.
Kali ini Dewa sudah mememukan kebahagiannya, alangkah kejam jika Samuel masih keukeuh mempertahankan keinginanya untuk memiliki Aya.
"Maafkan Samuel, Bu." Samuel merosotkan tubuhnya, memeluk tubuh tua itu.
____
Hari ini, Aya ingin sekali ke kantor Dewa. Mengantarkan makan siang yang dia masak sendiri.
Dewa sangat sibuk, Samuel akhirnya yang menjemput Aya di rumah. Tentu atas perintah Dewa, Semenjak ibunya mengetahui rahasia kamar dan dia sudah berjanji untuk melupakan rasa cinta itu, Samuel menjadi dingin pada Aya.
Jika kebetulan berpapasan pun Samuel akan terus menatap ke depan, seolah tak melihat Aya.
Padahal sebelumnya, mereka saling bertukar senyum, Aya ramah karena Samuel anak Bik Sum, sedangkan Samuel terus tersenyum karena memang ia memaruh hati pada Aya.
"Kak Sam, kenapa diam saja?" ucap Aya memecah keheningan, selama di mobil mereka terus saja diam.
"Tak apa." jawabnya singkat.
Aya memutar bola matanya malas, "Jangan seperti perempuan, kak. Bilang tak apa taunya ada apa-apa." goda Aya.
Samuel hanya melirik sekilas lewat ekor matanya. Terus menerus di cueki Aya mengalihkan pandangan ke salah satu stand yang berada di pinggir jalan.
Terlihat beberapa pembeli begitu antre untuk membeli.
"Tahu Aci, aku ingin beli. Tapi antrian panjang banget, kalau aku pusing terus pingsan pasti Mas Dewa khawatir." gumamnya.
"Kak Sam, berhenti." pinta Aya.
Ciit.. Mobil berhenti di pinggir jalan "Aku ingin beli itu, bisakah kak Sam mengantrinya untukku?" Aya memasang wajah memelas.
Samuel tak menganggapi ucapan Aya, dia langsung keluar dan ikut mengantri.
Tring, sebuah notifikasi pesan masuk di ponsel Samuel yang tertinggal di dashboard mobil.
Aya mengintip ponsel tersebut, ada nama Pak Bos yang ia yakini itu adalah Dewa.
"Pasti mau tanya sudah sampai dimana aku."
Aya kemudian membuka pesan tersebut. Sontak ia kaget membaca pesan tersebut.
(Bagaimana menurutmu, kalau harta Pak Wahid yang aku ambil dulu, sekarang kuatasnamakan Aya)
Karena penasaran, Aya menscroll pesan itu ke atas, kaget bukan main setelah mengetahui kebenaran tersebut.
"Aya!" pekik Samuel setelah berhasil membeli Tahu Aci dan kembali masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
"Apa maksudnya ini!" Aya menyodorkan ponsel ke Samuel yang masih menampilkan isi percakapannya dengan Dewa.