Suamiku Tua

Suamiku Tua
Chapter 31


__ADS_3

.


..


...


....


.....


Perlahan, aku memapah tubuh lemah mas Dewa. Lelaki yang di luar sana terlihat begitu kuat, gagah, dan dingin kini sangatlah rapuh, menurutku.


Kulucuti satu persatu baju yang menempel di tubuh kekar ini, dia tak menolak ataupun merasa malu. Pandangan matanya kosong.


Berbeda denganku yang gugup setengah mati, meski sudah pernah melakukan 'itu'. Tetap saja ini berbeda. Aku memilih memalingkan pandangan ke arah lain.


Setelah kami berganti pakaian, aku menuntunnya kembali ke luar, menuju kamar privacy milik Mas Dewa tempat ia biasa merenung.


Karena kamarku berantakan, aku meminta pak Suganda membersihkannya.


Biarlah malam ini aku menginap dulu di kamar itu, Mas Dewa berbaring membelakangiku.


Akupun ikut berbaring, memeluknya dari belakang.


"Tenanglah, Mas. Ada aku di sini."


....


Lepas kejadian malam itu, Dewa menjadi sangat dingin pada Aya. namun Aya tak menyerah. Dia selalu mengajak suaminya bicara meski jawaban dari Dewa hanya sepatah dua patah kata saja.


Sudah dua hari ia berdiam diri di rumah, pekerjaan kantor diserahkan pada Samuel.


Peluncuran produk terbaru dari perusahaan mie instant miliknyapun, terpaksa di tunda.


"Mas," Aya menyentuh bahu bidang itu,


Dewa yang sedang duduk di ayunan rotan dekat kolam renang, hanya menoleh. Kemudian menatap lurus ke depan.


Hari weekend yang semula mereka berencana untuk hangout keluar, terpaksa tertunda. Mood Pak Suami sedang buruk.


Aya berjalan pelan, duduk di sebelah suaminya. Bersandar di bahu itu dengan memeluk lengan Dewa.


"Apa kau menganggapku istrimu, Mas."


Dewa menoleh, marasa bingung dengan pertanyaan istrinya.

__ADS_1


"Jika kukatakan aku mencintaimu, apa kau percaya padaku?" Aya mendorong pelan ayunan itu dengan kaki, membuatnya bergerak.


Saat ini, bukan pengakuan cinta yang Dewa butuhkan, hatinya benar-benar kosong.


"Bagilah sedikit duka mu itu, Mas. Aku di sini." Aya kembali bicara. Dewa menghela nafas panjang.


Dewa tersenyum sinis, "Aku bisa membuat ibumu yang gila belanja itu kembali pada kodratnya. Tapi kenapa tidak dengan ibuku."


"Maafkan aku, Mas. Tapi yang kulihat, beliau sangat merindukanmu. Beliau tetap bersembunyi karena takut kehadirannya melukaimu." Aya duduk dengan tegap, memandang wajah suaminya yang terasa sendu.


"Kau, janganlah membohongi hatimu, akuilah bahwa kau-pun merindukannya, bukan?"


"Simpan omong kosongmu!" Dewa bangkit dari duduknya. Aya tak mampu membujuk hati yang mengeras. Perlu waktu untuk sendiri.


........


Tengah malam, Aya terbangun karena haus. Dia meraba di sampingnya. Kosong.


"Mas Dewa kemana?"


Aya beringsut perlahan menuruni ranjang, mengedarkan pandangan menyusuri setiap sudut kamarnya. Tetap kosong. Tak ada tanda-tanda bekas aktifitas Dewa.


Dia keluar dari kamarnya, memuju kamarnya sendiri. Nihil. Dewa tak ada di sana.


Dia kemudian ke ruang kerja suaminya, Dewa terlihat duduk di sofa dengan tangan yang mendekap sebuah bingkai foto.


Ya ampun.


Aya hampir menjatuhkannya, foto seorang wanita tengah tersenyum memandang ke arah kamera.


Benar, dia adalah Mama Jennifer sewaktu muda dulu.


Sangat cantik, hidungnya bangir dengan bulu mata yang sangat lentik.


Jika kau merindukannya, kenapa kau tidak mendatanginya, Mas.


.....


Esok paginya, setelah drama panjang lebar yang Aya mainkan, Dewa akhirnya menurut.


Menemani istrinya mampir ke sebuah danau yang terletak di tengah taman kota.


Sebuah danau buatan, ada banyak bangku yang mengelilingi danau tersebut.


Aya dan Dewa duduk di sana. Berulangkali dia menengok ke sana kemari seperti memcari seseorang.

__ADS_1


Aku harap ini berhasil.


"Anginnya sepoi-sepoi banget, Ay. Bikin aku ngantuk." Hoaamm, Dewa bahkan menguap.


Aya membawa kepala Dewa bersandar pada bahunya, "Tidurlah, Mas. Nikmati suasana ini."


Cring, ponselnya berbunyi.


(Kamu di mana, sayang?)


Wajahnya sumringah membaca pesan tersebut, dengan cepat dia mengetik balasan


(Di bangku taman, samping bunga sepatu), send.


Membaca balasan pesan dari Aya, sang pengirim pesan berjalan memdekat. Tak susah menemukan keberadaan Aya, karena dia duduk di tempat yang sangat strategis.


Langkahnya menjadi sangat pelan, begitu melihat sosok lelaki di samping Aya dari arah dekat.


Seketika tubuhnya bergetar, persendiannya bahkan terasa melemas.


Aya seketika menoleh, mendapati bau parfum seseorang yang dekat dengannya.


"Mama." ucapnya dengan suara sangat pelan, Aya mengangguk dengan senyum terus menghiasi wajahnya.


Jennifer akhirnya mendekat, buliran air mata menetes. Dia bahagia, ingin sekali memeluk tubuh itu.


Aya menjawil pipi Dewa. tak ada pergerakan, sepertinya dia tertidur dengan sangat pulas, mengingat dua hari lalu dia tidak tidur dengan benar.


Semilir angin danau, membuatnya semakin terlelap.


Gadis itu bangun dari duduknya dengan memegang kepala Dewa, kemudian dia menarik Jennifer untuk menggantikan posisinya.


Sekarang, bahu Jennifer yang menjadi sandaran Dewa untuk tidur.


Dewa sedikit menggeliat, tangannya mengulur tanpa sadar memeluk tubuh seorang wanita, yang ia kira masih tubuh istrinya. Tanpa dia tahu Aya menjauh.


Duduk di bangku sebelahnya yang berjarak lima meter dari mereka duduk.


"Anakku," Jennifer bahagia, sekian lama ia merindukan anaknya, sekarang menantu yang baik hati itu memberikannya kesempatan yang sangat indah.


Dia merogoh tas sandang, memgeluarkan ponselnya.


Cekrek, satu foto berhasil ia buat...


.....

__ADS_1


Duh, readers. Apa reaksi Dewa kalau nanti dia bangun yaa


__ADS_2