
..._selamat membaca_...
Dear readers, aku ngucapin banyak terimakasih buat kamu yang udah mau baca ceritaku, bolehkah author minta like, komen n vote?
🌿🌿🌿
"Aku harus keluar, aku akan memberi pengertian untuk Andre" gumam Aya.
Dengan langkah yang tergesa-gesa Aya menuruni setiap anak tangga.
Namun baru sampai di pertengahan, kaki Aya tersandung membuat dirinya kehilangan keseimbangan.
"Aaaaa" pekik Aya
Tubuhnya terus berguling, seluruh badan terasa sangat sakit dan
Bugg..
Benturan keras membuatnya tal sadarkan diri.
Mendengar bunyi benda jatuh cukup keras, Bik Sum berlari ke arah suara jatuh tersebut.
"Aaaa, Den Ayu" teriak Bik Sum panik
"Tolong.... Tolong" Bik Sum memangku kepala Aya, perlahan cairan kental berwarna merah segar mengalir dari lubang hidung majikannya.
Marni berlari tergopoh-gopoh "Ya ampun Non Aya, apa yang terjadi Bik" tanya Marni panik.
"Cepat minta bantuan" ucap Bik Sum
Marni mengangguk, melihat pintu depan terbuka lebar, insthingnya memerintah untuk ia keluar.
"Tolong... Tolong" teriaknya begitu sampai di teras.
Pak Suganda, beberapa satpam komplek dan Andre menghentikan sejenak adu mulut mereka.
"Ada apa, Marni" tanya pak Suganda mengamati raut cemas wajah rekannya yang sesama pelayan.
"Non.. Non Aya berdarah" Ucap Marni ditengah nafasnya yang masih ngos-ngosan.
__ADS_1
Marni tak tau pasti apa yang terjadi dengan Aya, karena ia melihat Aya yang tergeletak dengan hidungnya yang berdarah, maka ia mengatakan kalau Aya berdarah.
"Aya!" pekik Andre, dirinya langsung menerobos masuk.
"Hei tunggu" cegat pak Suganda mencekal lengan Andre.
"Sudahlah pak, keselamatan Aya jauh lebih penting" Andre mengibaskan cekalan pada lengannya dengan kasar.
"Bagaimana ini, apa kita ikutan masuk saja?" tanya security komplek pada rekannya.
"Aduh, saya bingung. Bagaimana kalau kita lapor pak Dewa saja" jawab security yang satunya.
"Baiklah" ucapnya kemudian merogoh ponsel di saku celana.
Tuuttt... Tuuttt...
Di kantornya, Dewa sedang meeting penting dengan kolega dari luar negri, seperti biasa ia akan menitipkan ponselnya pada Samuel. Yang sekarang berdiri tepat di sampingnya.
"Maaf Tuan, ada nomor baru yang terus menelpon" bisil Samuel pada Dewa.
"Berapa kali?" tanya Dewa dengan datar
"Keluar dan angkat"
Samuel akhirnya keluar, namun sebelum mengangkat telpon tersebut, panggilan sudah terputus.
Menunggu beberapa saat, Samuel masih berdiri di depan pintu ruang meeting tapi tak ada lagi panggilan yang masuk.
Karena penasaran, ia-pun memutuskan menelpon balik si penelpon.
Tutt.... Tutt...
"Hallo, Pak Dewa" ucap suara security komplek di seberang sana.
"Maaf Tuan Dewa sedang meeting, saya Samuel asisten pribadi beliau. Ada apa?"
"Maaf Tuan, saya security komplek mau mengabarkan Nyonya Aya jatuh dan berdarah" ucapnya panik
"Apa? Di rumah sakit mana dia sekarang?"
__ADS_1
"Sudah di bawa ke rumah sakit Medical center, Tuan"
Tutt. Panggilan terputus, Samuel begitu panik mendengar kabar Aya, ia segera berlari menuju lift.
"Ah! Sial!! Cepet dong" Dengan gusar Samuel terus memencet tombol lift, berharap langsung terbuka.
Langkahnya mondar mandir, karena tak kunjung terbuka ia berlari ke tangga darurat.
Dari lantai lima belas, ia menuruni anak tangga dengan begitu cepat.
Nafasnya ngos-ngosan, namun ia tak peduli. Dipikirannya sekarang adalah melihat kondisi Aya secepatnya.
Katrin yang melihat Samuel begitu tergesa-gesa, sebenarnya ingin bertanya langsung tapi dia juga takut, barangkali ia sedang menjalankan tugas dari Dewa.
"Hem, biarlah. Nanti kutanya saja kalau dia senggang" gumamnya lalu kembali ke meja kerja.
Rapat telah usai, Dewa heran tak biasanya Samuel menghilang di jam kerja.
"Kemana dia" batinnya "Ah, bahkan ponselku masih ada padanya, bagaimana aku akan menelpon istriku"
Dewa kembali ke ruangannya, melihat Katrin yang sudah stand bye di tempat, Dewa menghentikan langkah.
"Katrin, apa kau melihat Samuel?"
"Tadi saya lihat dia keluar dari kantor, Tuan. Dia terlihat sangat terburu-buru bahkan sedikit berlari" terang Katrin.
"Telpon dia, tanyakan dimana dia sekarang"
"Baik Tuan"
Katrin dan Dewa nampak gelisah, karena Samuel tak kunjung mengangkat panggilannya.
"Maaf Tuan, dia tak menjawab panggilan saya"
"Cek gps ponselnya! Oh ya ampun, hal sekecil ini saja kamu gak tahu!" geram Dewa
Katrin nyengir kuda "Kenapa gak kepikiran dari tadi yah" ucapnya dalam hati. Jemari lentik itu menekan layar sentuh pada ponselnya.
"Ketemu, Samuel ada di rumah sakit Medical center, Tuan"
__ADS_1