Suamiku Tua

Suamiku Tua
Chapter 5


__ADS_3

_selamat membaca teman-teman, makasih loh udah mau mampir_


"Aku bi..bingung Mas, kalau harus di rumah tanpa kerjaan, bolehkan aku kuliah? Tanya Aya, dia sangat berharap suaminya mau mengijinkan dia kuliah. Melanjutkan pendidikannya yang sempat tertunda.


"Untuk apa, kau bahkan sudah punya segalanya" ucap Dewa.


"Aku gak punya apa-apa Mas, bukankah bisnis papa udah bangkrut?"


"Devilla Soraya, kau sekarang istriku. Apa yang aku punya ya itu juga menjadi milikmu" Dewa menghela napas sejenak, kemudian menghembuskannya "Atau kau ingin berbisnis?" lanjutnya lagi.


"Tidak Mas" Aya mencoba menolak.


"Bagaimana kalau kutambah uang belanjamu, asal kau tetap di rumah" Dewa mencoba bernegosiasi agar istrinya tetap di rumah.


"Ini bukan masalah uang, aku ingin melanjutkan pendidikan, ada pepatah yang mengatakan untuk kejarlah ilmu sampai ke liang lahat" Aya sedikit meninggikan suaranya karena Dewa tak kunjung memberinya ijin.


Dewa, lelaki berparas tampan itu keluar dari ruang kerjanya, meninggalkan Aya tanpa sebuah keputusan.

__ADS_1


"Untuk apa melanjutkan kuliah, takkan ada yang berani mengatainya bodoh, hartaku juga takkan habis tujuh turunan, dia tidak perlu khawatir aku akan memintanya bekerja" gumam Dewa.


Dia sekarang ada di balkon kamarnya, kamar yang selalu ia siapkan untuk menyendiri.


Sebenarnya, Dewa bukan tak mampu membiayai pendidikan Aya, bukan dia tak mau Aya menjadi orang yang pintar, melainkan Dewa takut Aya tak fokus dengannya, karena terlalu sibuk dengan kuliah.


Sementara itu, Aya keluar dari ruang kerja suaminya, ia memilih ke dapur. Biasanya Bik Sum-kepala pelayan di rumah itu, ada di dapur untuk menyiapkan bahan makanan untuk sarapan esok. Bik Sum, satu-satunya orang yang Aya jadikan tempat untuk cerita.


Karena Bik Sum, orang yang sangat sederhana, bijak dan mudah beradaptasi dengan siapapun. Sudah bekerja bersama Dewa, semenjak Dewa masih tinggal dengan kedua orangtuanya.


"Bik Sum" Aya memeluk lengan wanita paruh baya itu dengan manja.


Bik Sum memang orang yang baik, ia memanggil Aya dengan sebutan Den Ayu karena Aya adalah istri dari majikannya, Ayu yang dalam arti cantik, sesuai dengan paras Aya.


Dia memilih memanggil dengan sebutan Den Ayu karena sangat cocok untuk istri Dewa, daripada sebutan Nyonya yang terkesan menciptakan jarak antara mereka.


Keduanya kini duduk di meja makan dapur, meja makan khusus pelayan.

__ADS_1


"Bik Sum, aku sebel sama Mas Dewa" Aya mengerucutkan bibirnya, tanda ia sedang kesal.


"Loh, kenapa?"


"Bik Sum, tahu tidak aku ingin kuliah. Melanjutkan pendidikan aku yang sempat tertunda karena menikah dengan Mas Dewa" jelas Aya.


Saat ia belum menikah, sebenarnya Aya ingin melanjutkan kuliah meski sambil bekerja paruh waktu.


"Memangnya, Tuan Dewa bilang apa?" tanya Bik Sum


Aya menghembuskan nafas kasar "Mas Dewa diem aja, gak jawab boleh apa enggak"


Bik Sum tertawa kecil "Mungkin Tuan Dewa sedang memikirkan permintaan Den Ayu masak-masak" belum sempat melanjutkan ucapannya, Aya sudah terlebih dulu memotong ucapan kepala pelayan tersebut.


"Ah, masak-masak kan udah jadi tugasnya Bik Sum bareng kawan-kawan" Aya sedikit melenturkan wajahnya yang sedari tadi ia tekuk masam.


"Den Ayu bisa saja, bagaimana kalau Den Ayu bikinin kopi aja untuk Tuan, biasanya beliau jam segini kan masih kerja" ucap Bik Sum sembari melirik jam dinding.

__ADS_1


"Iya tadi juga aku temuin dia di ruang kerjanya, ya udah aku bikinin dia kopi dulu" Aya bangkit dari duduknya, menuju dapur. Mengambil gula dan kopi, kemudian mencampurkan mereka dalam sebuah cangkir keramik barulah menyiramnya dengan air panas.


"Sudah jadi, semoga kopi panas ini mampu mencairkan hati Mas Dewa yang dingin" Aya terkikik sendiri dengan ucapannya, sementara Bik sum hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah Aya.


__ADS_2