
..._selamat membaca_...
Dewa tersentak. Melepaskan pelukan Aya dan membalikkan badannya menghadap istri.
Menatapa lamat-lamat wajah istrinya, menyelami netra hitam pekat milik Aya.
"Kamu yakin?" Tanya Dewa
"Tentu saja, Mas. Jadikan aku istrimu seutuhnya"
Dewa mengangguk, dia menggendong Aya ala bridal pandangannya tak pernah berpaling dari wajah cantik istrinya.
Malam yang panjang mereka lalui, sesekali jeritan dan desahan saling bersahutan.
Pukul dua dini hari, Dewa merebahkan diri. Peluh masih membasahi kedua tubuh pasangan suami istri itu.
"Terimakasih sayang" Dewa mengecup kening Aya yang saat ini sudah terlelap, disibaknya anak rambut yang berserakan.
Dirinya menyusul Aya ke alam mimpi setelah pergulatan hebat yang telah lama Dewa nantikan.
………
Adzan subuh berkumandang, Aya seperti biasa akan terbangun oleh bunyi alarm yang selalu ia set.
Merasa perutnya seperti ada sesuatu yang mebindih, iapun menoleh. Ternyata kejadian semalam bukanlah mimpi.
"Menjadi istrimu, bukanlah hal yang buruk. Kamu begitu menghargaiku. Sudah sepantasnya kita seperti ini" gumam Aya pelan, ia takut membangunkan Dewa.
__ADS_1
Aya menutup wajah dengan kedua tangannya, merasa malu dengan sifat agresifnya semalam.
"Pagi sayang" ucap suara serak Dewa khas orang bangun tidur.
Matanya masih terpejam, menarik tubuh Aya agar semakin erat Dewa memeluknya.
"Mas ayo bangun, kita sholat subuh dulu" pinta Aya
"Hem.. Baiklah, tapi setelah itu kita..." Dewa menaik turunkan alisnya, menggoda Aya.
"Kamu....! Nakal ya" Aya yang hendak turun dan berlari ke kamar mandi, tubuhnya langsung melorot kebawah. Dipegangnya perut bagian bawahnya.
"Kenapa sayang" karena panik Dewa langsung turun, membiarkan tubuh polosnya terekspos sempurna.
"Aaaa" Aya yang melihat tubuh polos Dewa langsung menutup matanya.
"Pakai dulu baju kamu, Mas" ucap Aya yang masih menutupi wajahnya.
Dewa terkekeh pelan "Kenapa? Bukankah semalam kamu sudah melihatnya seperti ini?" goda Dewa.
Aya mendengus kesal, bagaimana bisa Dewa seperti anak kecil yang tanpa malu telanjang didepannya.
Aya menarik selimut, menutupi tubuhnya dan beranjak ke kamar mandi, langkahnya begitu tertatih, nyeri dan perih masih sangat terasa.
Meski begitu, ia tetap harus memaksakan diri untuk mandi besar demi dua rakaat wajib yang harus ia tunaikan.
Dewa yang terus memperhatikan gerak gerik Aya terus mengulas senyum.
__ADS_1
Pukul enam pagi, seperti ucapan Dewa keduanya kembali bergulat, hingga Aya benar-benar tumbang tak mampu bangun dari tempat tidur.
Dewa membawakan sarapan untuk Aya dan menyuapi istri kecilnya penuh cinta.
"Hari ini, kamu istirahatlah di rumah saja, tak perlu ke kampus" ucap Dewa sambil meletakkan piring kotor di atas nakas "Aku akan ke kantor, mungkin pulang sore. Hari ini banyak agenda yang harus kujalani. Kamu gak papa kan aku tinggal"
"Ya lebih baik seperti itu, bila perlu pulang malam sekalian, Mas" ucap Aya dengan menyender pada bahu ranjang.
Dewa mengernyit "Kamu gak mau aku ke kantor, sayang?" Baru kali ini Aya bicara ketus padanya.
"Gak gitu, kalau kamu di rumah, aku bisa habis di makan kamu lagi" ucap Aya manja.
Sudut bibir Dewa melengkung "Apa? Ish kamu nakal sekali ternyata, haha" Dewa geleng-geleng kepala "Baiklah aku akan bersiap mandi dan berangkat"
Dewa sudah kembali dari kamar mandi, hanya dengan handuk yang melilit sampai pinggangnya. Kemudian membelakangi Aya membuka lemari, mengambil pakaian yang akan ia kenakan.
Dengan mengenakan piyama, Aya berjalan menuju Dewa "Mas, kenapa punggungmu banyak sekali luka bekas cakaran?" tanya Aya setelah ia sampai di depan Dewa.
Aya menyentuh luka bekas cakaran yang tak terlalu dalam itu, darimana Dewa mendapat luka itu?
Dewa menghela nafas pelan, istrinya benar-benar polos "Ini karena semalam Mas terlalu bersemangat sampai lawan gulat Mas mencakar punggung Mas" ucap Dewa yang masih fokus memilih baju.
Aya membelalakan matanya "Ah, gak mungkin"
*Dear Kamu, iya kamu yang selalu setia nunggu up ceritaku. Makasih banyak atas kesetiannya, maaf kalo aku lama up dan terkadang hanya sedikit isi cerita per bab.
Mohon Like, komen dan vote.
__ADS_1
Dukungan kalian semangat bagi Author*.