
..._Selamat membaca_...
Bik Sum hanya tersenyum, ia senang Aya mulai menanyakan kabar Dewa. Ini awal yang baik untuk hubungan mereka, pikir Bik Sum.
Malam semakin larut, Bik Sum undur diri ingin istirahat, tapi Aya masih diam di sofa ingin menunggu kepulangan suaminya, memberinya banyak pertanyaan tentang kejadian tadi siang.
Hari berganti, malam bertukar dengan pagi. Cuaca saat ini sedikit mendung, bahkan gerimis kecil membasahi komplek perumahan elit tersebut.
"Hoammm" ia merentangkan tangannya, memgendurkan otot-otot yang kaku, sebab tidur dengan posisi tidak benar. Tertidur di sofa.
"Jadi Mas Dewa gak pulang? Kemana dia" gumamnya saat membuka pintu kamar miliknya dan milik Dewa yang masih terlihat rapi, pertanda tak ada aktifitas apapun di ruangan tersebut.
Hari ini Aya berangkat kuliah, memilih menggunakan taxi online.
Merasa ada yang kosong saat Dewa tak mengabarinya. Ia mulai merindukan Dewa.
Haiss, perasaan macam apa ini. Bukankah aku tak mencintainya?
Di kampus.
"Hai" seseorang duduk di sebelah Aya
__ADS_1
Aya menoleh ke asal suara, tersenyum dengan kehadiran orang itu "Hai juga"
"Kamu melamun?"
"Gak"
"Ke kantin yuk, aku laper"
Dia, Andre. Lelaki itu terus menggandeng tangan Aya, Aya yang masih kepikiran dengan Dewa tak sadar kalau tangannya di genggam lelaki yang pernah mengisi hari-harinya penuh cinta saat SMA dulu.
......
"Tuan, saya sudah memdapat informasi tentang lelaki tersebut" ucap sang asisten pribadi.
"Namanya Andreawan tuan, dia teman dekat bisa juga dibilang cinta monyet Nona Aya, kuliah di universitas yang sama dengan Nona.." belum sempat ia melanjutkan ucapannya, seseorang di balik kursi itu sudah mengangkat tangan, sebagai isyarat agar Samuel tak melanjutkan ucapannya.
......
"Ay, pulang ngampus ke mall yuk, temani aku cari kado buat Sinta" Sinta adalah sepupu Andre, usianya lima tahun.
"Oke" Aya mengangguk pasrah, daripada diam di rumah tanpa ada kabar dari Dewa akan lebih baik ia keluar sebentar.
__ADS_1
"Naik motor gak papa kan" ucap Andre
"Its Ok" Aya menyatukan Ibu jari dan telunjuknya, menyisakan tiga jari yang berdiri.
Sampai di Mall
Mereka terlihat bahagia, sesekali tawa mengiringi langkah mereka. Tak jarang keduanya saling dorong kemudian tertawa lagi.
Aya yang sudah merasa lapar, mengajak Andre ke foodcourt, Aya tak mengerti dengan perasaannya, saat bersama Andre ia merasa nyaman namun saat Dewa jauh darinya Aya merasa ada yang kosong.
Pandangannya menatap sekeliling area foodcourt, hingga berhenti di sebuah restoran. Ada sosok yang seharian ini menghilang tanpa kabar sedang makan siang bersama seorang wanita.
Hatinya sedikit tercubit, mereka terlihat begitu akrab.
"Jadi dia sedang dekat dengan wanita lain, lalu apa yang dia bilang kemarin. Menjalani pernikahan ini dengan serius. Omong kosong!" gumam Aya
Andre yang merasa Aya mengatakan sesuatu namun tak bisa mendengarnya dengan jelas pun bertanya "Kenapa, Ay?"
"Eh gak papa, ayo makan lagi" Aya tersenyum kaku, hatinya ingin marah, tapi untuk apa? Bukankah ia tak mencintai lelaki itu?
Matanya sesekali mengamati mereka, begitu orang yang dia perhatikan hendak pergi, Aya pun buru-buru mengikutinya
__ADS_1
"Ndre aku pulang dulu, Robert sakit" Aya sedikit berlari membuntuti sepasang insan manusia berpakaian hitam. Bak seorang detektif
Lelaki berjas hitam itu, tersenyum penuh kemenangan mengetahui targetnya kini masuk perangkapnya.