
Ningsih yang ditinggal sendirian di apartemen memanfaatkan waktunya untuk merapikan semua barang-barangnya, dan mulai memilih sendiri semua barang-barang yang dianggap 'layak' dipakai untuknya.
Sementara itu, Seonho nampak kurang bersemangat sekali malam ini, dia kurang fokus dalam belajar dan lagi tak bisa diajak bercanda untuk sementara waktu. Untung saja mereka didalam kelasnya bukan di kantor, bisa-bisa Seojun dan Sumiatun kena imbasnya.
Dia teringat dengan kejadian siang tadi saat di kantor, dia datangi salah satu orang kepercayaan ketua Park. Dia memberi peringatan kepadanya soal posisinya di kantor itu, termasuk kedekatannya dengan Seojun.
"Ingat siapa dirimu sebenarnya, jangan pernah menyalahi aturan dan jangan kelewat batas, ketahui semua batasan-batasanmu itu. Layani tuan muda dengan baik, meskipun disini dia adalah anak buahmu kau tak bisa memberinya sembarang perintah! Kalau bukan kebaikan ketua Park, kau dan keluargamu mungkin masih mengemis dijalan!" ujar orang itu, membuat hatinya sangat sakit dan perih rasanya.
"Justru karena itu, aku rela meninggalkan ayahku sendirian di rumah, sehingga dia harus keluar mencari pekerjaan demi mengusir rasa kesepiannya. Aku bahkan tak pulang berhari-hari demi melayani mereka semua, aku tau diri atas semua batasanku, anda tak perlu khawatir, Tuan.. Soal peraturan di perusahaan, terutama di kantor ini, adalah semua atas izin ketua Park dan tuan muda juga.
Saya tak bisa melakukan apapun tanpa ada izin dan perintah dari mereka, saya berharap tuan muda berada di posisi direktur atau pemimpin lainnya, tapi Ketua Park tak mengizinkannya. Dan tuan muda pun tidak masalah dengan semua ini, saya harap anda mengerti, dan percayakan semuanya kepada saya.." ucap Seonho sambil menatap tajam kearah orang itu, seorang lelaki tua yang memandangnya remeh.
"Akan aku ingat ucapanmu itu!" ujar orang itu dan berlalu pergi.
"Hei, melamun saja! Ditanya tuh sama pak Dosen," ujar Seojun mengagetkannya dalam lamunannya.
"Ah, maaf.. Kayaknya aku ngantuk deh, aku cuci muka dulu!" ucap Seonho sambil pamit ingin keluar sebentar.
Seonho keluar dari ruangan dan merentangkan kedua tangannya sambil berusaha menghirup udara segar malam itu, sekilas dia seperti melihat bayangan hitam dibalik pohon besar dibawah aula tempat mereka belajar.
"Hiii, mengerikan! Jadi benar rumor tentang bangunan ini, katanya ada hantunya disini! Lagian si Seojun, ada-ada saja masa beli bangunan tua begini sih, artistik apaan! Yang adanya serem," ujar Seonho sambil bergidik ngeri, buru-buru ke toilet.
Sementara itu, dibalik pohon besar yang dilihat Seonho tadi, ada seseorang yang sedang bersembunyi dari pandangannya. Dia terlihat menghubungi seseorang.
"Tuan, Seonho dan tuan muda belajar disalah satu bangunan tua yang baru dibeli tuan muda Seojun untuk belajar, tapi mereka tidak berdua saja, ada seorang gadis juga ikut belajar bersama mereka.
Aku belum menyelidiki siapa gadis itu, apa dia lagi mendekati tuan muda atau Seonho? Baiklah, saya akan lebih berhati-hati lagi. Saya akan menunggu mereka sampai selesai, selamat malam.." ujar orang itu diteleponnya.
Setelah itu dia kembali bersembunyi dan bersiaga mengawasi mereka dari jarak lumayan jauh.
Setelah beberapa saat kemudian, akhirnya jam pelajaran selesai juga. Mereka langsung pulang dan seperti biasa Seojun selalu memaksakan diri untuk mengantarkan Sumiatun pulang.
"Jadi gadis itu lagi mendekati tuan muda, hmm.." ujar orang yang sedang mengawasi mereka itu.
Dia langsung mengambil kameranya, mengambil beberapa gambar Sumiatun bersama mereka berdua, dan bersama Seojun. Masalahnya dia ngambil gambarnya dari jarak jauh, jadi hasil gambarnya juga gak bagus, Sumiatun tak terlihat dengan jelas digambar itu.
.
__ADS_1
Sumiatun diantar pulang bersama Seojun, Seonho juga ikut dengan mobilnya sendiri. Dia berniat ingin menjemput ayahnya, kebetulan ship kerja ayahnya sudah selesai. Sebenarnya dari tadi sore sudah selesai, hanya saja ayahnya belum ingin pulang ke rumah.
Sesampainya di sana mereka melihat Ningsih nampak asik mengobrol dengan ayahnya, tanpa sadar dia tersenyum sendiri. Entah mengapa tiba-tiba hatinya menghangat melihat momen indah itu.
"Sst, hei Samchun (paman)! Seonho menunggumu pulang, dia menunggumu di parkiran.." bisik Seojun.
"Oh, jinja' (benarkah)? Aigo, sudah aku katakan padanya kalau tak usah jemput segala! Ya sudah, paman pulang dulu... Bye Ning Ning!" ujar pak Kim kepada mereka berdua.
Pak Kim langsung menemui Seonho ketika dikasih tau Seojun, dia sebenarnya sangat senang sekali putranya itu datang untuk menjemputnya. Ningsih sebenarnya pengen tau juga seperti apa rupanya anak pak Kim, tapi Sumiatun malah narik tangannya langsung pulang.
"Gw penasaran pengen liat anaknya pak Kim, temennya Seojun itu!" gerutu Ningsih.
"Kagak usah, ntar lu jatuh cinta lagi!" sahut Sumiatun, sebenarnya dia juga belum tau perihal pak Kim dengan Seonho.
"Gw jatuh cinta sama anaknya pak Kim? Haha, kagaklah! Lah wujudnya pak Kim aja begitu, haha!" ujar Ningsih tertawa lucu.
"Heh, kagak usah body shaming!" pelotot si Sumiatun.
"Iya, yah! Astaghfirullah, maafkan aing ya Allah..." ujar Ningsih langsung istighfar.
Mereka langsung beristirahat, dan sebelum itu Ningsih sempat mengobrol dan bercerita tentang dirinya saat bersama pak Kim, dia merasa kalau pak kim merupakan sosok ayah yang baik.
"Terus, lu jadi nangisnya?" tanya Sumiatun.
"Kagak, baru mau nangis keburu denger suara orang mabuk tadi. Woah, pak Kim sangat berani melawan orang itu ketika pengen buat onar disini! Pantes saja dia dibantu sama orang yang pernah dia tolong dulu, emang sekuat itu," jawab Ningsih kagum.
"Yaa, keliatan sih... Dari fisiknya aja begitu, makanya dia kuat begadang buat jagain ini apartemen, hoam... Yuk, ah! Tidur.." ajak Sumiatun diiringi anggukan Ningsih.
.
.
Keesokkan paginya, Ningsih gak serempong biasanya. Biasanya dia begitu sibuk nyari baju dan dandan yang begitu lama, kali ini dia hanya memakai dress selutut dengan cardigan sebagai pasangannya, terus sepatunya dia pakai yang wedges dan tas bahunya, dandanannya sedikit natural look.
Sedangkan Sumiatun memakai stelan kerja kantoran, dengan rok setelah lutut juga, stelan kemeja dan cardigan beserta sepatu high heels, dan itu semua Seojun yang beliin semuanya.
"Emang kalau jadi office girl di Korea kudu penampilan kayak gini?" tanya Ningsih heran.
__ADS_1
"Kagak tau, gw mah ngikutin bae peraturan yang ada. Dah ah, gw berangkat dulu.." jawab Sumiatun.
"Btw, perkembangan hubungan lu bedua kayaknya mulus-mulus bae nih! hehe, kagak nolak juga lu yeee..," ledek Ningsih.
"Kagak, gw mau deket sama dia cuma karena dia doang temen gw di kantor juga di kelas! Lah pan temen gw cuma ada tiga, elu, Seojun sama Seonho doang! Pegimane sih, ntar gajian gw bayar semua utang-utang gw ke dia! Sekalian ongkos pulang pergi selama kerja juga kuliah," jawab Sumiatun, masih gengsian.
"Kagak usah pura-pura lu, lagian keliatan kok lu juga mulai nyaman sama dia! Tenang bae, gw dukung kok. Dia anaknya baik sih yah kadang-kadang otaknya rada sengklek, cuma ayang Seonho doang yang normal.." ujar Ningsih lagi.
"Serah lu dah, gw pamit ye.. Assalamualaikum," ucap Sumiatun lagi.
"Wa'alaikumsalam.. Hem, dari gesturnya aja tuh anak emang udah mulai demen sama tuh laki, dasar! Aih, gw mikirin percintaan orang, sedangkan kisahku aja kagak kelar-kelar!" ujar Ningsih dramatis.
Kemudian dia juga langsung bersiap berangkat ke kampusnya dengan penampilan baru, dia yakin dengan begini Seonho gak bakalan ilfil lagi sama dia, yahh.. Meskipun saat ini tuh anak gak ada juga di kampus sih, setidaknya untuk saat ini penampilannya khusus untuk membungkam mulut-mulut jahat yang berani menghinanya.
Dan benar saja, ketika sampai di kampus semua orang menatapnya takjub dan terpesona. Blasteran Indonesia-Jerman itu terlihat begitu cantik dan cute sekali, kenapa gak dari dulu kayak gini?
"Memang sejak awal gw emang salah kostum, gw pikir penampilan yang kata orang ala Korea bakalan cocok sama gw, ternyata pail!" gumamnya, tapi entah mengapa dia merasa kosong.
Semua tatapan takjub itu tak mampu membuatnya senang, balas dendam seperti itu tak bisa membuatnya bahagia, ternyata sendirian itu lebih menyakitkan daripada semua kemewahan yang dia miliki, pantas saja orang-orang kaya rela mengeluarkan uang banyak untuk pesta besar setiap minggunya agar tak kesepian.
"Sum, lu kok tega sih ninggalin gw... Gw juga pengen kayak lu, kuliah bareng sama orang-orang yang suka sama lu, hiks!" ujarnya sendirian.
"Mau kuliah bareng kami?" Ningsih terkejut mendengar suara Seonho tepat dibelakangnya.
"Kamu ngapain disini? Gak ngantor?" tanya Ningsih sedikit salah tingkah.
"Aku datang mau menemui dosen pembimbing kami, mau minta izin bahwa entar malam kita izin gak belajar dulu. Karena ada pesta penyambutan karyawan baru, tradisi yang biasa jika di Korea kalau ada karyawan baru yang bergabung, maka akan ada acara kecil-kecilan, entah itu sekedar makan atau minum bersama.. Kamu, mau ikut juga?" tanya Seonho hati-hati.
"Tapi kan gw, eh! Aku orang luar, tak ada hubungan dengan pekerjaan kalian?" ujar Ningsih bingung.
"Tak apa, kamu datang sebagai keluarganya Somi.. Mau ya, nanti aku jemput.. Em, soal belajar bareng aku serius menawarkannya padamu, aku tunggu jawabanmu sampai sore nanti, bye... Btw, aku suka dengan penampilan kamu yang sekarang..." ujar Seonho dengan senyuman tipisnya.
Mendengar hal itu Ningsih langsung merona karena malu dan senang, dia yang lagi duduk diatas kursi taman, hampir aja jatuh saking kagetnya mendengar pernyataan si Seonho dengan senyumannya itu juga.
Sementara Seonho sendiri setelah pergi dari tempatnya Ningsih, langsung terduduk lemas di ruangan dosennya. Dia tak menyangka akan mengatakan hal itu kepada Ningsih, karena dia sendiri sudah tak kuat menahan perasaannya sendiri, ditambah lagi si Ningsih semakin hari semakin cantik saja dimatanya.
...----------------...
__ADS_1
Bersambung