Sumiatun, Saranghae!

Sumiatun, Saranghae!
Bab 54 Akhirnya, Bebas juga!


__ADS_3

Sementara itu, dalam mencari sebuah alamat bukan hal yang sulit bagi pak Smith, saat dulu dia pertama kali datang ke Indonesia untuk menemui sang pujaan hati, dia langsung bisa menemukan mamanya Ningsih yang tinggalnya jauh di Ujung Berung itu.


"Pak, ini kawasan industri perdagangan.. Tidak ada bangunan ataupun perkantoran yang berada disini," ujar asistennya bersama beberapa orang bersamanya.


"Tidak mungkin, ini sesuai alamat yang dikatakan oleh gadis itu tadi, ayo temukan tempat itu, atau kau tanyakan kepada beberapa orang disini!" ujar pak Smith kesal.


Karena sudah hampir dua jam dia duduk di sebuah restoran lokal, tapi asisten dan beberapa orangnya tak menemukan kantor ataupun bangunan yang disinyalir sebagai kantor ataupun perusahaan.


"Mister, anda sedang mencari siapa?" tanya pemilik restoran itu, dengan sedikit bahasa asing yang dia ketahui.


"Aku sedang mencari kantor ataupun perusahaan yang berada di kawasan ini, tapi menurut orang-orangku mereka tak menemukan bangunan yang mirip dengan sebuah kantor ataupun perusahaan lainnya.." jawab pak Smith masih dengan raut wajah kesalnya.


Pemilik restoran itu nampak bingung, kemudian dia mengamati penampilan pak Smith macam mafia-mafia di film Hollywood, meskipun dia sudah tak muda lagi, fisik dan wajahnya masih terlihat segar dan kuat, wajah tampannya masih terlihat jelas.


Pemilik restoran ini baru sadar jika pak Smith sedang mencari kantor ataupun perusahaan yang baru-baru ini didatangi oleh beberapa oknum polisi. Siapa lagi kalau bukan perusahaan itu yang dicari pak Smith di kawasan itu, karena cuma ada satu kantor ataupun perusahaan yang berdiri ditengah-tengah di distrik perdagangan itu.


"Sebaiknya kalian bertanya saja kepada orang-orang jika masih bingung, karena disini tak ada kantor ataupun perusahaan macam itu. Ada satu, tapi mereka hanya memiliki kantor dua lantai, itu juga dibangun didalam ruko empat lantai.." ujar pemilik restoran itu.


"O ya?! Dimana itu?!" tanya pak Smith bersemangat sekaligus terkejut.


"Ituuuu... Didepan sana, tepat dihadapan restoran ini" jawab pemilik restoran itu dengan santainya sambil menunjuk sebuah ruko empat lantai diseberang jalannya.


"Astogeeee, ini nih yang dinamakan malu bertanya sesat dijalan, dari tadi aku duduk disini mau dua jam tapi tidak sadar jika yang aku cari ada didepanku sendiri!" ujarnya sambil mengusap wajahnya dengan kasar.


Kemudian dia menelepon asistennya dan juga orang-orangnya untuk kembali lagi ketempatnya sekarang ini.


"Maaf kalau boleh tau ada urusan apa kalian datang kesini?" tanya pemilik restoran itu kepo.


"Anakku bekerja disana bersama temannya, aku jauh-jauh datang ke negara ini demi mereka.." jawab pak Smith apa adanya.


"Ooh, aku pikir kalian ini adalah orang-orang yang ingin merampok kantor itu lagi, eh!" pemilik restoran malah keceplosan, hampir saja dia bilang kalau mereka preman.

__ADS_1


"Maksudnya??" tanya pak Smith tak mengerti.


"Emm, sebaiknya anda bertanya langsung saja kepada ahjuma pemilik minimarket yang ada di gedung itu, dia tau banyak! Permisi, saya harus melayani pelanggan lainnya.." ujar pemilik restoran itu buru-buru pergi dari sana.


Pak Smith san lainnya menjadi curiga, dia dan orang-orangnya langsung menuju minimarket yang berada dibawah kantor tempat Ningsih bekerja, tanpa basa-basi dia langsung menceritakan siapa dia kepada ahjuma pemilik restoran.


"Untung saja kau langsung menceritakan siapa dirimu, aku hampir saja mau menyiram kalian dengan air kran yang ada didepan! Penampilan kalian sudah seperti preman saja, apa kalian merupakan jaringan mafia perdagangan manusia?!" tanya ahjuma masih tak percaya dengan mereka.


"Ahjuma, kami ini bukan preman ataupun mafia! Apa setiap orang yang berpakaian serba hitam adalah preman ataupun mafia?!" tanya asisten pak Smith kesal.


"Yang memakai pakaian serba hitam itu selain orang yang berduka karena habis memakamkan kerabatnya, yaitu preman ataupun Mafia! Apa kalian ini mafia perdagangan manusia, ingin mengambil dua gadis asing itu?!


Tidak akan mudah, karena kalian akan berurusan dengan polisi! Karena salah satunya ada di sana, aigooo... Malang sekali nasib gadis itu, dia malah masuk penjara di negara asing.." ujar ahjuma tanpa sadar menceritakan keadaan Sumiatun.


"Maksud anda, apa Bibi?" tanya pak Smith langsung.


Karena sudah terlanjur bercerita, mau gak mau akhirnya ahjuma menceritakan keadaan yang terjadi selama dua hari ini. Semuanya tanpa terkecuali, membuat pak Smith mengelus dada saking syoknya.


Tanpa pikir panjang, pak Smith langsung menghubungi Kedubes Indonesia yang ada di Korea, dia meminta bantuan mereka soal kasus yang menimpa Sumiatun saat ini, berkat koneksi Kedubes akhirnya mereka mendapatkan bantuan hukum yang bagus untuk melepaskan Sumiatun dari jeratan hukuman yang dia terima saat ini.


Sesampainya di kantor polisi, berkat informasi yang diberikan oleh ahjuma pak Smith bisa memberikan informasi apa saja yang dia ketahui, dia bersama pengacara dan juga beberapa orang lainnya langsung datang begitu saja.


Padahal saat ini, Seojun dan Seonho sedang menanti harap-harap cemas Sumiatun akan dibebaskan sekarang juga. Tapi mereka malah dikejutkan oleh kedatangan seorang lelaki asing dengan wajah sedikit sangar meskipun sisa gantengnya masih ada sedikit.


Lelaki asing itu datang bersama beberapa orang yang terlihat hebat juga, penampilan mereka terlihat necis dan berkelas, sekali menghadap mereka langsung diterima dan berkasnya disambut tanpa diperiksa terlebih dahulu.


"Aku datang untuk menjemput putriku!" ujar pak Smith kepada kepala penyidik.


"Baik, Pak.. Mari saya antarkan!" sambut kepala penyidik begitu hormat dan santun.


Membuat Seojun dan Seonho bertanya-tanya, siapa mereka? Kenapa kepala penyidik terlihat begitu gugup dan hormat sekali?

__ADS_1


"Silakan, Pak.." ujar kepala penyidik sambil membuka pintu jeruji yang menahan Sumiatun.


"Sumi?!" panggil pak Smith heran.


"Loh, om Smith.. Eh, Pak Smith?! Kok ada disini?!" tanya Sumiatun heran sekaligus kaget saat melihat kedatangan pak Smith begitu saja.


"Justru aku mau tanya, kenapa kamu bisa berada disini?! Bukannya kuliah malah rebahan disini!' jawab pak Smith, sambil tanya balik, kesel banget dia!


"Emm, maaf.." ucap Sumiatun tak bisa berkata-kata apa lagi.


"Ya udah, kita pulang aja dulu! Nanti ceritakan saja pas udah di rumah," ucap pak Smith sambil menahan keingintahuannya.


Sementara itu Seojun dan Seonho nampak melongo saat melihat Sumiatun dijemput oleh mereka semua, bak seorang putri mafia yang dijaga ketat oleh anak buah ayahnya, mereka gak tahu jika itu bapaknya si Ningsih.


"Mereka siapa?!" tanya Seonho penasaran.


"Apa hubungannya dengan Somi? Apa dia putri mafia di negaranya?" tanya Seojun khawatir.


"Kalian nanya apa sih?! Jangan ngawur! Dia salah satu konglomerat terkaya di negerinya, dia juga memiliki beberapa koneksi kepada beberapa orang hebat di negaranya, maupun di negara ini,, besar kemungkinannya dia bisa mengeluarkan gadis itu karena koneksi yang ia miliki..


Yang jadi pertanyaannya, apa hubungannya dengan gadis itu? Jika dia adalah ayahnya, kenapa tak mirip? Apa dia orang suruhan ayahnya? Apa pacarmu itu adalah orang kaya juga di negerinya?" tanya balik kepala penyidik.


"Dibandingkan dengan Somi, lelaki asing itu lebih mirip dengan Ning Ning.. Btw, jika keluarga Somi aslinya kaya, dan merupakan dari keluarga hebat.. Wah, ayahmu pasti menyesal telah menentang hubungan kalian!" ujar Seonho lagi, masih mengkaget dia.


"Soal itu, aku gak tauuu.." ucap Seojun.


Dia malah tambah khawatir, jika yang diucapkan oleh Seonho itu benar. Dia malah berpikir dialah yang akan ditolak oleh keluarga Sumiatun, mengingat dirinya tak bisa menjaga gadis itu dari ayahnya Seojun ataupun dari serangan orang lain.


...----------------...


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2